Duda Perjaka Sang Ceo

Duda Perjaka Sang Ceo
Ada apa dengan Daddyku, Oma...!!!



"A_apa ...? " Ponsel yang digenggam Diandra terjatuh saat menerima telpon dari pihak rumah sakit, yang mengabarkan bahwa suaminya saat ini dalam keadaan kritis, akibat kecelakaan yang dialami saat perjalanan pulang.


Leo yang sedang sibuk dengan ponselnya didepan TV segera menghampiri Mommynya yang hampir terjatuh, beruntung Leo secepat kilat berlari menghampiri Ibunya.


"Ada apa Mom?" tanya Leo setelah menyandarkan Mommynya di kursi, sedangkan Anjani yang ada di kamarnya segera mengambil Air putih untuk Mommy nya atas perintah Leo,


"kita harus kerumah sakit sekarang, Daddy kecelakaan." Ucap Diandra disela tangisnya yang tak terbendung.


"A_apa, Daddy kecelakaan?" Leon yang baru datang dari kamar, terkejut dengan apa yang Mommy nya katakan.


"Cepat, panggil Pak Jono, aku bantu Mommy siap-siap dulu, jangan lupa hubungi Opa Bram dan Oma Ziea !" pinta Leo pada saudara kembarnya.


"Baik kak !" jawab Leon sambil berlari kebelakang memanggil Pak Jono.


*


Sementara dikamar Diandra bersiap-siap, mereka akan diantar Pak Jono, Leon dan Anjani menemani Mommynya di dalam mobil, sedangkan Leon mengendarai Motor miliknya,


Setelah perjalanan kurang lebih 30 menit akhirnya mereka sampai, hampir bersamaan dengan Pak Bram, yang langsung berangkat dari kantor setelah mendapat telpon dari Cucunya.


Bram bergegas menemui Dokter yang akan menangani Diky dan Fikry,


"Bagaimana keadaan Anak dan ponakan saya Dok?" tanya Pak Bram dengan rasa khawatir.


"Akibat benturan keras pada kepala Pasien, maka kami harus melakukan Operasi pada Pak Diky, sedangkan Pak Fikry, hanya mengalami luka-luka pada bagian kaki dan tangan, Beliau hanya akan menjalankan Perawatan beberapa hari !" jelas Dokter pada Pak Bram.


"Lakukan yang terbaik untuk keduanya Dok, segera Operasi Anak saya." pinta Pak Bram.


Diandra hanya mampu menangis sambil memeluk Putra sulungnya, sedangkan Leon segera menghubungi Dea (istrinya Fikry) dan juga Oma Ziea.


*


*


"Ha-ha-ha-ha.... Aku sangat puas dengan hasil kerjamu, akan kuberikan bonus untuk bulan ini, tak sia-sia aku menyuruhmu membuntuti Cucu Pramana, si tua bangkah yang sudah menghancurkan Perusahaan Keluargaku beberapa tahun lalu, Aku yakin Bram takkan mampu menghandel perusahaan Papanya, dan kedua Cucunya itu yang masih bau ingusan takkan mampu terjun ke dunia bisnis diusianya yang masih duduk di bangku SMA."


Suara tawa seseorang menggema di seluruh ruangan, Dia sangat puas dengan hasil kerja anggotanya, rupanya Dia sangat dendam dengan kekalahan Tender yang beberapa kali diadakan beberapa tahun lalu, dan selalu dimenangkan oleh Pratama, dan karna niatnya selalu ingin menghancurkan perusahaan Pratama, membuat Pratama menghancurkan perusahaan nya tanpa sisa, hingga ia bangkit lagi dengan sosok yang lebih kejam karna bekerjasama dengan para Mapia.


*


*


Setelah beberapa jam diruang Operasi, akhirnya Dokter mengakhiri tugasnya dengan nafas lega,


"Dok, bagaimana keadaan Putra saya?"


"Dok, bagaimana keadaan Suami saya?"


tanya Diandra dan Buk Ziea bersamaan.


"Operasi berjalan lancar, tapi maaf, Pasien mengalami koma efek benturan keras yang ia alami." jelas Dokter tentang kondisi pasiennya.


"Berapa lama Dia akan sadar dari komanya Dokter?" tanya Diandra tak sabar


"Maaf, saya tidak bisa memastikan Buk, namun mungkin akan butuh waktu, !"


"Apakah kami bisa melihatnya sekarang?" Tanya Mama Ziea


"Setelah dipindahkan keruang UGD ya Buk, Namun tetap harus mengikuti aturan rumah sakit, masuknya satu persatu." Ucap Dokter mengingatkan.


"Hum, baik dokter." Pak Bram menimpali


Setelah Diky dipindahkan keruang UGD, kini Diandra masuk tuk melihat Suaminya yang kini masih terbaring lemah dengan wajah yang masih pucat.


"Mas, cepat bangun ya, kamu udah hampir 3 Minggu ninggalin kami, sekarang kamu masih harus terbaring dirumah sakit, apa kamu tega lihat anak-anak kita khawatirin kamu," Diandra meracau disamping suaminya seakan-akan Diky dapat mendengarnya.


Setelah puas mengeluarkan isi hatinya yang tak kunjung ada jawaban dari Diky, kini Diandra keluar ruangan dengan wajah yang masih sama kusutnya dengan sebelumnya, sejujurnya Dia masih ingin disamping suaminya, namun karena Anjani terus mencari Mommynya dan juga Mama Ziea ingin melihat keadaan Putra semata wayangnya maka Diandra akhirnya keluar.


Setelah cukup lama dirumah sakit, Pak Bram akhirnya memilih pulang kerumah utama untuk mengantar istri dan juga cucunya Anjani, karena tidak mungkin mereka menginap di dalam satu ruangan, Diandra tetap menunggu Suaminya dan tentu saja dengan pengawal yang sudah ditugaskan oleh Pak Bram sebelumnya.


Leo dan Leon memilih kembali kerumah karena Dia harus masuk sekolah esok hari dan kekantor setelah pulang sekolah,


*


*


Pagipun tiba, Anjani yang belum terbiasa pisah rumah dengan orang tuanya dan juga kakaknya, jadi murung, mulai dari mandi hingga sarapan, Dia jadi seperti anak balita yang harus dibantu oleh Oma nya untuk bersiap-siap Kesekolah, meskipun sudah kelas 5 SD tapi Dia cukup dekat dengan Daddy dan Juga Mommynya, membuatnya malas untuk kesekolah karena ingin ikut Opa Bram kerumah sakit.


"Opa, Anjani ikut kerumah sakit ya, pengen liat Daddy dan Mommy ." pinta Anjani saat mereka sedang sarapan.


"Nggak boleh sayang, Opa mau kekantor dulu sebelum ke rumah sakit,"


"tapi aku mau liat Daddy Opa," rengek nya pada Opa Bram.


" iya, entar kalau udah pulang sekolah Anjani boleh kerumah sakit sama Oma, tapi diantar Pak Sopir aja ya sayang." pinta Pak Bram sambil membelai rambut Cucunya.


Setelah selesai sarapan Pak Bram langsung menuju kantor menyelesaikan pekerjaan nya yang sudah menumpuk, banyaknya berkas-berkas yang harus Dia periksa hingga melewatkan jam makan siang, karena Dia tidak ingin kerjaan besok lebih banyak lagi, terlebih Dia harus kerumah sakit untuk melihat perkembangan Anaknya.


tok tok tok


Suara pintu membuatnya tersadar, bahwa Dia sudah terlalu lama duduk dengan berkas yang menumpuk.


"Opa, sudah lama datangnya?" tanya Leo saat sudah berada dalam ruangan Opa nya.


Leo memang langsung kekantor setelah pulang sekolah, sedangkan Leon kerumah sakit tuk menjenguk Daddy-nya,


"iya, dari pagi, kamu baru pulang sekolah?" Ucap Pak Bram saat melihat Cucunya masih memakai seragam Putih Abu, meskipun memakai Jaket namun celana panjangnya yang terlihat membuat Pak Bram yakin kalau Cucunya baru saja pulang,


"iya, langsung kesini !"


"Leon mana?"


"Kerumah sakit Opa !"


"Tunggu sebentar ya, Opa selesaikan yang ini dulu, habis itu kita makan,baru langsung kerumah sakit."Ucap Pak Bram.


"Opa belum makan siang?"


"Hum, kerjaan Opa menumpuk."


Leo yang mendapat jawaban dari Opa nya bergegas ke kafe dekan kantor untuk memesankan makanan untuk Opa nya lalu mengantar ke ruangannya, hingga mereka makan dikantor.


Selesai makan, mereka langsung ke rumah sakit melihat perkembangan Diky dan juga Fikry.


*


Setelah hampir sebulan dirumah sakit, Fikry kembali bekerja dikantor milik Diky dan juga membantu Pak Bram menghandel perusahaan milik Leon dan Leo,


Sedangkan Diky dibawah kerumah utama, atas persetujuan Diandra dan juga Pak Bram, mereka memilih merawatnya dirumah, dengan menyewa 2 perawat, dan juga Dokter selalu datang untuk memantau perkembangan nya.


Terlalu beresiko jika berlama-lama dirumah sakit, melihat pergerakan musuh-musuhnya, maka mau tidak mau Bram harus mengambil tindakan cepat, untuk membawah putranya kerumah utama.


"Mom, kenapa Daddy belum juga sadar?" tanya Anjani dengan Polosnya yang melihat Daddy-nya dibawah pulang tapi belum juga sadar.


"Daddy masih sakit Nak, jadi Anjani jangan ganggu Daddy dulu ya !" jawab Oma Ziea yang tak tega melihat Diandra hanya diam dan meneteskan air mata.


"Tapi kenapa dengan Daddy ku Oma, kenapa Daddy nggak bangun-bangun?" tanya Anjani yang sudah mulai menangis, jika mengingat Neneknya yang sudah meninggal, Dia takut jika Daddy-nya pun berakhir sama.


"kan Oma udah bilang kalau Daddy mu masih sakit Nak." Oma masih berusaha menjelaskan


"Aku nggak mau, ditinggal sama Daddy, Mommy." Ucap Anjani sambil memeluk Mommynya, dan akhirnya mereka berpelukan disela Isak tangis nya.


Cukup lama Diandra menenangkan Anaknya, dan setelah perasaannya sudah sedikit membaik, Anjani berlari kekamar perawatan Daddy-nya,


saat sampai pintu...


DADDY...


πŸŒΊπŸŒΊπŸŒΊπŸ’–πŸŒΊπŸŒΊπŸŒΊ