
Ahkkkkkkk
Amelia memegangi kepalanya yang tiba-tiba sakit, saat berusaha mengingat masa lalunya.
dengan cepat Dr. Recky bergegas menghampiri istrinya lalu membantunya untuk beristirahat.
"Kepalaku sangat pusing saat berusaha mengingat semuanya" keluh Amelia
"Jangan memaksakan dirimu, kepalamu akan sakit jika memaksakan diri, istirahatlah, aku akan kembali setelah melakukan operasi, Minggu depan kita akan keluar negri untuk melakukan operasi, kuharap setelah ini kamu bisa mengingat Aku dan Anak kita." guman Recky penuh harap.
"Hm baiklah, Buk jangan meninggalkan ku ya," pinta Amel pada Ibunya.
"Iyya, sayang. Aku akan tetap disini bersama Lyaa."
Setelah Amelia beristirahat, Diky dan Diandra pamit pulang,
dan saat mereka sudah benar-benar pergi, Buk Maya lalu menceritakan pada Menantunya, awal pernikahan Amel dan Diky beberapa tahun lalu, hingga berujung perceraian,
dan pada saat Amel memulai kehidupan baru dengan menyibukkan Diri mengelola usahanya sampai ia melanjutkan Kuliahnya. Dan Alasan kenapa Buk Maya tidak menceritakan hal ini pada Amelia, selain karna Amelia amnesia juga karena Amel mengatakan alasan Diky menceraikan nya.
Dr. Recky yang mendengar penjelasan Buk Maya, merasa lega, meskipun awalnya kecewa dan cemburu karena berfikir kalau Amel menyembunyikan statusnya pada Suaminya sendiri, Recky juga yakin kalau Buk Maya berkata jujur karena Dia percaya kalau saat pertama kali menyentuh istrinya itu masih suci/pera\*\*\*, membuatnya menerima segala apa yang terjadi pada masa lalu istrinya.
Beberapa hari dirumah sakit Amel meminta Ibunya agar mengantarnyaa pulang saja, katanya sudah kangen rumah, dan karena Recky masih sibuk, Buk Maya terpaksa mengantar Amel pulang kerumah, setelah pamit pada Recky, meskipun awalnya Recky tak membiarkan Amel pulang hanya dengan Ibunya, tapi Amel memaksa maka terpaksa Recky menelpon Sopir untuk menjemput istri dan Martuanya juga Anaknya.
Sepanjang perjalanan Amel hanya banyak Diam, meskipun Lyaa berulang kali mengajaknya mengobrol, membuat Lyaa kecewa, namun Buk Maya mengatakan pada Cucunya agar tidak mengajak Bundanya dulu banyak bicara karena masih sakit dan nggak kuat buat banyak bicara.
akhirnya Lyaa memilih untuk tidur saja.
Namun saat sampai rumah Amelia heran kenapa ***rumah mereka jadi besar, dan tidak dikampung halamannya dan dimna Bapak***?
"Buk, kenapa kita kesini?"
"ini rumah kamu Nak!" jawab Buk. Maya sambil memapah anaknya, sedangkan Lyaa diangkat pak Sopir lalu diantar kekamarnya.
"Pak, tolong baringkan saja dilamarnya ya, nanti saya kesana," pinta Buk Maya pada Pak Sopir.
"Baik Nyonya"
Setelah Amelia sampai kamarnya, Dia melihat sekeliling nya ada Foto pernikahan nya dengan Dr. Recky, bersama Anaknya Lyaa, dan juga foto saat Dia Wisuda, membuat nya jadi berfikir
"apa benar Aku telah melewatkan waktu yang begitu banyak dengan Dokter tadik, dan Lyaa benar-benar Anak kami?"
"Buk, lalu dimana Bapak, apa kalian tinggal dikampung sebelumnya? itulah kenapa Ibu lama baru menjengukku."
Buk Maya tiba-tiba memeluk Anaknya sambil menangis,
"Sayang, Bapak kamu telah meninggal beberapa tahun lalu, ketika kamu sudah wisuda dan pada saat kita akan pulang kampung sebelum kamu ada panggilan kerja, dan Mobil yang kita lewati mengalami kecelakaan, hingga membuat Bapak meninggal, dan Kamu juga amnesia melupakan Pernikahan mu sebelumnya dengan Diky, mungkin karna sakit hati hingga membuatku lupa padanya, dan seiring berjalannya waktu, kamu kerja di kota ini sebagai Dokter Ahli kandungan, lalu menikah dengan Dr. Recky anak pemilik Rumah sakit tempat kalian bekerja, dan kita tinggal disini sudah lama, lihat wajah putri mu tadik Dia sangat sedih karena kamu mengabaikannya, cukup kalian selalu sibuk bekerja membuat nya selalu menghabiskan waktunya dirumah, jangan kamu abaikan Dia."
Buk Maya terpaksa menjelaskan dengan detail pada Putrinya berharap Anaknya bisa mengingat semuanya.
Saat mendengar penjelasan Ibunya tiba-tiba kepala Amelia sakit hingga membuatnya pingsang, Buk Maya sampai pamit, dan segera menelpon Recky.
Sementara Recky yang baru saja keluar dari kamar Operasi Merakan getaran Hp nya dikantong celananya, dan saat melihat si pemanggil adalah Ibu Martuanya, dia segera mengangkat nya.
"Hallo, Buk, ada apa?"
"Apa kamu masih sibuk Nak?"
"Nggak, kok. Aku baru saja dari ruang Operasi, memangnya kenapa Buk?"
"Aku akan pulang sekarang, Buk." guman Recky lalu mematikan sambungan telponnya.
Recky segera keluar dari rumah sakit setelah mengganti pakaiannya, dan dengan cepat mengendarai Mobilnya diatas rata-rata.
ketika Recky sudah sampai rumah, dengan cepat Dia menuju lantai 2 kamar dimana tempatnya dengan Amelia, dan melihat Amelia masih pingsang, Dia segera memeriksa istrinya, sedangkan Buk Maya hanya meihatnya saja.
"Seperti nya ada perkembangan Buk, Amelia akan mengingat semuanya, tapi Dia tidak boleh memaksakan Diri, biarlah Dia mengingat sedikit demi sedikit, karena jika Dia memaksakan fikiran nya maka hal seperti ini akan terjadi lagi," Recky menjelaskan pada Ibu Martuanya agar Beliau tidak khawatir.
"Syukurlah, aku sangat khawatir." sambil mengusap Dada nya.
"Ibu tidak perlu khawatir, biarkan dia istirahat dulu hingga benar-benar sembuh, aku akan membuatkan izin Cuti untuknya, karena jika resign Aku khawatir Dia akan marah jika sudah mengingat semuanya, ini adalah cita-citanya dari kecil."
"Iyya, kamu benar, Makasih ya, kamu sudah menjadi Suami yang baik untuk Putriku, maafkan Ibu nak karena tidak berkata jujur pada kalian diawal pernikahan kalian." Ucap Buk Maya sedikit menyesal.
"Nggak perlu minta maaf Buk, aku mencintai Amelia dan segala kekurangan nya."
"Syukurlah"
"Buk, mungkin aku harus kembali kerumah sakit, tolong kabari aku jika Amelia sudah siuman, Mungkin aku akan pulang malam."
"Iyya, Ibu akan menjaganya."
Dr. Recky lalu kembali kerumah sakit, tak lupa memberitahu pelayannya agar mengantar makanan kekamar istrinya,
Saat malam Amelia terbangun dan tak menemukan Orang lain di kamarnya selain Ibu dan juga Putri kecilnya,
Dia sudah bisa sedikit mengingat meskipun tidak semuanya, tapi Dia yakin kalau pernikahannya dengan Dr.Recky benar-benar terjadi dan bukan sebuah kebohongan, Dan tidak mungkin Ibunya tega membohonginya,
"Buk, buk," Amelia memanggil Ibunya yang tidur di sofa, sedangkan Lyaa yang tidur disampingnya sambil memeluknya, Namun bukan Ibunya yang terbangun tapi Lyaa,
" Bunda kenapa? Apa kepalanya sakit?" tanya anak polosnya, yang sudah mendengar perkataan neneknya kalau kepada bundanya sakit karena terbentur.
"Nggak, sayang. Bunda haus," memeluk anaknya sambil menangis merasa bersalah pada Anaknya.
"Aku akan ambilkan minum untuk Bunda, tapi bunda jangan nangis, Bunda selalu berkata padaku bahwa kita tidak boleh menangis kalau tidak sakit." jelas Anak polosnya, membuat Amelia semakin erat memeluk Anaknya.
"Maafkan Bunda sayang."
"ya udah, lepasin peluknya biar aku bisa ambil minum buat Bunda."
"Eh Iyya, maaf bunda lupa, abis bunda kangen Ama Lyaa." sambil terkekeh kecil.
Lyaa lalu mengambil air minum di kulkas untuk Bundanya, sementara Buk Maya yang samak-samak mendengar Suara seseorang bercerita jadi terbangun,
" Amel, kamu sudah sadar Nak?"
"iya, Buk. Dimana Mas Recky?
Buk Maya yang mendengar Anaknya menanyakan keberadaan Menantunya, jadi berfikir kalau Anaknya baik-baik saja, dan benar ingatannya akan segera pulih.
"Masih dirumah sakit Nak, katanya Dia akan pulang larut, Ohh Iyya Lyaa dimana?"
"ambil air minum Buk."
Ketika Lyaa sudah datang Buk Maya pamit kekamarnya, karena Dia yakin kalau menantunya akan segera datang, biarlah Lyaa yang menjaga Ibunya, karena keadaannya sudah membaik, tak lupa berpesan agar makan, Buk Maya juga sudah mengambilkan makanan untuk Anaknya sebelum kembali kekamarnya.
🌺🌺🌺❤️🌺🌺🌺