
Setelah beberapa hari menjalani perawatan di rumah sakit pasca operasi, kini keadaan Kakek berangsur membaik, Diky memutuskan untuk membawa kakeknya kembali agar mendapat penanganan lebih baik, dan akan mencari Dokter ahli beda untuk sang kakek dan juga karena kerjaan dikantor semakin menumpuk.
"Dek, siap-siap ya, kita akan berangkat sebentar lagi."ucap Diky pada Diandra saat mereka sedang sarapan.
"Apa Mama dan Papa udah tau kalau kita akan pulang siang ini?"
"Udah, mereka aka menjemput kita di bandara."
Selesai sarapan, Diky lalu menyeka badan kakeknya, kini Orang tua itu hanya duduk di kursi roda dengan badan masih sedikit pucat, kini wajah garangnya tak lagi terlihat, Dia benar-benar lemah saat ini,
Sedangkan Diandra sibuk berkemas, dan menyiapkan barang-barang yang akan mereka bawah termasuk Oleh-oleh pesanan Anjani.
Meskipun mereka di pulau itu sedang merawat Kakeknya, tapi Diandra tetap berkesempatan membeli Oleh-oleh setidaknya hanya untuk Anak Gadisnya, karena sudah pasti Anjani akan merajuk, setelah ditinggal Orang tuanya beberapa hari, dan datang tak membawah oleh-oleh,
*
Pak Bram dan Buk Ziea menuju bandara untuk menjemput Ayah juga Anak dan Menantunya,
tak lupa memberitahu Fikry agar mereka bertemu di bandara.
tak butuh waktu lama, mereka sudah tiba di bandara, namun Fikry belum juga sampai, dan Pesawat yang ditumpangi Diky, Diandra dan Kakeknya belum juga mendarat,
"Mas, mereka kok lama ya?" tanya Ziea pada Suaminya yang tak sabaran, dan sedikit khawatir dengan keadaan Ayah Martuanya dan juga Anak & Mantunya.
"Sebentar lagi sampai, sesuai jadwal penerbangan, mereka akan sampai kurang lebih 30 menit lagi." jelas Bram pada istrinya yang terlihat khawatir.
Setelah menunggu hampir 1 jam, pesawat yang ditumpangi Diky akhirnya mendarat bersamaan dengan datangnya Fikry dan 2 orang anggotanya.
Mereka lalu membopong Kakeknya kekediaman miliknya, atas permintaan kakek yang ingin di antar kerumah utama dan juga ingin bertemu dengan Cicit-cicitnya.
Diky dan Diandra ikut mobil Papanya bersama Kakek, sedangkan Fikry dan 2 orang anggotanya berada di mobil lain membawa barang-barang mereka.
"Pak, antar Anak-anak kerumah utama ya, kami menuju kesana !" pinta Diky pada Pak Jono saat sambungan telepon tersambung.
"Baik Tuan, tapi Den Leo dan Leon belum pulang dari sekolah " jawab Pak Jono.
"antar Anjani aja, biar saya hubungi Leo dan Leon."
"Baik Tuan."
Tut tut tut
*Sambungan telpon terputus*
Setelah beberapa jam perjalanan mobil yang mereka tumpangi akhirnya memasuki pekarangan rumah, Bram lalu membantu Ayahnya turun dibantu Oleh Fikry, sedangkan 2 anggotanya mengangkat barang-barangnya.
"Dek, tolong kamu hubungi Leo dan Leon ya, agar langsung kesini kalau udah pulang ." ucap Diky pada Diandra yang sedang membantu Buk Ziea membereskan oleh-oleh yang dibawahnya.
"Emang mereka belum pulang?" tanya Diandra
"Iyya, kata Pak Jono, belum."
"terus Anjani ?"
"Udah dijalan, diantar Pak Jono."
"Kalau gitu, Aku telpon Anak-anak dulu ." Ucap Diandra sambil berlalu
Diandra menghubungi Leo namun tidak ada jawaban begitupun dengan Leon,
Setelah panggilan ke 3 baru terdengar suara yang membuat Diandra bisa bernafas lega.
"Hallo, sayang. Kalian kemana aja? kenapa telpon Mommy nggak diangkat? Kalian baik-baik aja kan? Leo mana?" Diandra langsung melontar beberapa pertanyaan pada Anaknya saat sambungan telepon tersambung.
"Mommy ku sayang, ini pertanyaannya banyak amat, mau jawab yang mana dulu?" Bukannya menjawab Leon Mala balik nanya, yang membuat Diandra geram.
"Leonn, Mommy nggak bercanda." Ucap Diandra yang kesal dengan tingkah Anaknya yang satu ini.
"iyaa, Mommyku sayang,, kami baik-baik saja, baru selesai main basket, makanya baru bisa angkat telepon." Ucap Leon diujung telpon dengan senyum-senyum, membayangkan wajah posesif Ibunya jika lagi cemas.
"Pulang jam berapa?"
"Bentar lagi Mom, kenapa emangnya?"
" Langsung kerumah utama ya, kakek meminta kalian kesini."
"Kalian udah pulang?" Tanya Leon masih tak percaya.
"iya, baru aja sampai."
"Kenapa nggak bilang sebelum berangkat, kan kami bisa jemput Mommy dan Dady dibandara."
"Mala dan Papa udah jemput,
Udah kalian langsung kesini aja."
"Hum, baiklah."
Kakek berbaring dikamar nya, sambil menunggu Cicit-cicitnya datang. Tak lama terdengar suara Anjani yang datang diantar Pak sopir, Dia selalu heboh jika datang dirumah Oma, dan Opa buyutnya,
Dari luar terdengar suara motor yang pastinya motor kedua Cicit kembarnya.
Dia memanggil pelayan agar mengantarnyaa keruang makan karena dia akan membicarakan hal penting setelah selesai makan malam.
Mereka lalu berkumpul diruang tamu setelah selesai makan malam, termasuk Fikry yang memang belum kembali kerumah nya.
"Bram, besok tolong kamu urus semua perusahaan ku ya, dan pindahkan atas nama Leo dan Leon, termasuk dikantor pusat, dan kamu jangan lupa, Kafe dan juga Hotel yang ada dijalan Xx itu untuk Anjani !" Pinta kakek pada Bram anak semata wayangnya, dengan suara masih melemah,
"Tapi, mereka masih sekolah Ayah, dan Anjani juga masih sangat kecil, belum ngerti tentang pekerjaan." Bram memberikan penjelasan pada Ayahnya, yang menurutnya terlalu cepat memberikan beban pada Cucu-cucunya.
"Leo dan Leon sudah SMA, Mereka akan mengurus perusahaannya jika Sudah tamat, Mereka bisa kuliah sambil mengurus perusahaan, aku lihat mereka anak- anak yang cerdas, Diky dan Fikry yang akan membimbing dan membantu mengurus perusahaan nya sebelum mereka benar-benar mampu, kamu juga bisa menyewa orang untuk membantunya, tapi aku rasa Daddy-nya kau lebih mahir,
Aku sudah sangat lelah, aku ingin semuanya sudah beres sebelum operasi ku dilakukan !" pinta kakek yang tak mau dibantah, meskipun badannya masih terlihat lemas tapi Dia selalu berusaha untuk selalu terlihat kuat.
"Baiklah kalau itu permintaan Ayah, besok akan saya urus semuanya." ucap Bram pada Ayahnya, karna tidak ingin membuat Ayahnya banyak fikiran.
"sebaiknya secepatnya, Aku merasa akan ada banyak masalah dikemudian hari dan aku nggak tau apakah umurku masih panjang atau tidak, dan aku hanya ingin menghabiskan sisa umurku dengan Kalian dan juga Cicit-cicit kesayangan ku !" Jelas kakek panjang lebar agar Bram bersungguh-sungguh
mengalihkan perusahaan nya pada Cicit-cicitnya.
Ketika Bram dan Kakek sedang membahas perusaahan dan permintaan nya, yang lainnya hanya hanya gadi pendengar tanpa berani bertanya ataupun protes.
Sedangkan Anjani yang masih di bangku SD belum paham tentang perusahaan dan kerjaan lainnya, Dia memilih bermain dengan boneka yang baru Diandra belikan untuknya.
πΊπΊπΊππΊπΊπΊ