Duda Perjaka Sang Ceo

Duda Perjaka Sang Ceo
Pernikahan Fikry dan Dea



Hari ini Diky pulang lebih awal, saat pulang Kedua Putranya menyambut nya, rasa lelahnya seharian kerja hilang seketika saat melihat senyum di wajah putra-putra nya.


Daddy Daddy


Mereka berhambur memeluk Daddy nya, Namun tiba-tiba wajahnya murung.


"Loh, anak Daddy kenapa kok murung gitu?"


"Tadik, kenapa Daddy nggak jemput kami?"


Jawabnya dengan Wajah Jutek


"Maafin Daddy ya sayang, (sambil mengelus kepala ke dua Anaknya) tadik Daddy banyak kerjaan, jadi baru bisa pulang sekarang, sebentar malam kita ke pesta nikahan Om Fikry ya. kalian siap-siap Okee"


Sambil mengangkat jempol untuk Anak-Anaknya


Saat malam mereka bersiap ke pesta nikahan Fikry, Diky membantu istrinya memakaikan baju Anak-anaknya.



Disebuah rumah yang sederhana telah dihias dengan nuansa kuning corak putih, Nampak seorang Gadis cantik sedang dihias oleh MUA,


Sedangkan para rombongan pengantin laki-laki sudah berdatangan, begitupun pengantinnya,


Nampak keluarga kecil Diky ikut mengantar dengan mobil yang berbeda,


Setelah cukup lama menunggu, akhirnya pengantin Wanita keluar bersama Ibunya dan MUA.


Fikry dari tadik diliputi wajah gelisah nampak terlihat bahagia,


"(Cantik bangat pengantin gue)" bathinnya


"Saya terima nikah dan Kawinnya Dea Puspitasari Binti Abdullah dengan mas kawin sebidang tanah, 1 set emas dibayar tunai."


Fikry mengucap ijab kabul dengan sangat lantang.


SAH


"Prok prok prok Suara tepuk tangan menggema di seluruh ruangan tersebut."


Acara demi acara berlangsung dengan cukup meriah, hingga para tamu berdatangan untuk memberikan selamat kepada kedua pengantin,


Kini giliran keluarga Diky, mereka naik panggung diikuti oleh Anak-Anak nya,


"Selamat ya Bro atas pernikahan kalian, semoga bahagia selalu" Ucap Diky dengan tulus


si kembar mengikuti langkah Daddy nya juga mengucapkan selamat kepada pengantin seperti yang sudah diajarkan Daddy nya,


"Selamat ya Om ganteng, Cepat berikan kami sepupu" sambil tersenyum mengedipkan matanya dan diikuti tawa oleh semua yang ada dipanggung.


Setelah acara selesai Diky Memutuskan pulang lebih awal, Dia tidak bisa pulang terlalu larut malam, meskipun masih banyak tamu dan Rekan-rekan bisnisnya yang masih tinggal, tapi Dia harus mengantar Anak-anak dan istrinya apalagi putranya sudah merengek-rengek minta pulang katanya mengantuk.


Sampai rumah Diky menggendong Anak-anaknya rupahnya mereka sudah tertidur pulas saat perjalanan pulang.



Disebuah kamar pengantin yang nampak indah yang sudah tertabur dengan bunga mawar, nampak 2 insan sedang duduk namun sepertinya masih sama-sama malu dan sungkan, mengingat mereka jarang ketemu sebelum menikah, mereka hanya saling kenal 2 bulan sebelum pernikahan dan pertemuannya hanya ada 3 kali, saat perkenalan, lamaran dan saat mencari cincin nikah,


"Hmmm Dek, aku mandi duluan ya, Gerah soalnya" Ucapnya dengan nada rendah


"Iya" jawabnya hanya sesingkat itu


Saat Fikry masuk kamar mandi barulah Dea berniat membuka Gaunnya yang sejak tadik pengen Dia buka, dan masih melekat di badannya dan karna masih malu jadi Dia urungkan,


Saat membuka resleting bajunya, Dia nampak kesusahan hingga berulang kali Dia coba namun gagal, hingga Fikry selesai mandi namun Dea tak menyadari nya karna masih fokus sama resleting yang susah terbuka, hingga Dia merasakan sesuatu dan hampir kaget, tiba-tiba Fikry sudah memegang resleting bajunya dan berucap,


"Biar kubantu, bukankah ini sulit?"


"Hmm iya sedikit sulit, Makasih." jawabnya



Selesai dengan Aktivitas mandinya Dea dan Fikri turun untuk makan malam, mereka belum makan sejak tadik siang.


Dan masih ada keluarga nya yang belum pulang termasuk Ibu dan Ayah Fikry.


"Akhirnya pasangan pengantin turun juga, aku kira kalian akan turun esok pagi."


Ucap Mamanya dengan Senyuman


Fikry dan Dea hanya saling melirik lalunya bergabung ikut makan,


Mereka makan sambil sesekali mengobrol


Setelah malam panjang yang telah dilalui oleh Kedua insan pengantin baru, yang awalnya masih malu-malu kini benar-benar telah melakukan tugasnya sebagai Suami istri, meskipun Dea masih malu namun Dia tetap memberikan Hak kepada Suaminya, bagaimanapun Fikry adalah Pria dewasa yang tentu saja Hasr\*t nya akan timbul saat tidur bersama Wanita apalagi sudah Halal baginya, Namun tak dipungkiri jika Dea juga menikm\*ti nya, Fikry melakukannya dengan sangat hati-hati dan lembut bagaimanapun ini adalah pengalaman pertama mereka.



Kini Dea bangun lebih awal saat mendengar suara Adzan subuh berkumandang, melihat tubuhnya yang berbalut selimut tanpa busana rasanya ada yang aneh namun mengingat Dirinya yang sudah resmi menjadi seorang istri membuatnya bersikap santai,


Karna Suaminya masih tertidur Dea memutuskan kan untuk mandi meskipun agak kesusahan nampaknya bagian sensitif nya ada yang sakit namun Dia tidak mau terlihat lemah didepan Suaminya,


Selesai mandi Dea lanjut berwudhu lalu menunaikan sholat Subuh, setelah selesai baru membangunkan Suaminya,


Saat Fikry sudah bangun barulah Dea bergegas kedapur untuk membantu Ibunya membuat sarapan.


Selesai mandi Mereka akhirnya sarapan bersama dengan keluarga Dea, Ibu dan Ayah Fikry sudah pulang dari semalam.


"Buk,Pak, mungkin kami akan pindah kekota sore nanti" Ucap Fikry pada kedua Mertuanya


"Nggak nginap lebih lama disini Nak" Jawab Buk Lia (Ibunya Dea)


"Maunya sih begitu Buk, tapi kami harus pindah rumah, rumah yang aku beli beberapa Minggu lalu masih kosong, jadi kalau kami bisa pindah lebih awal, aku masih bisa membantu Dea membersihkan dan membeli barang-barang perlengkapan, karena saya juga belum ambil pembantu, dan Aku hanya cuti 2 Minggu"


Ucap Fikry dengan nada rendah


"Owg, seperti itu, baiklah, tapi maaf mungkin kami nggak bisa mengantar, karna Bapak masih kurang sehat"


"Nggak apa-apa Buk" Ucap Fikry


Bapak Dea hanya seorang petani dan sudah hampir 3 bulan sakit.


Sore hari Fikry dan Dea bersiap-siap berangkat ke kota, Fikry membantu Dea memasukkan Bagasi barang-barangnya juga Oleh-oleh yang sudah dibungkus Ibu nya yang akan mereka bawah kekota.


Tak lupa Fikry memberikan uang kepada Mertuanya untuk biaya berobat Ayah mertuanya, meskipun awalnya Buk Lia menolak namun Fikry memaksa.


"Kami pamit ya Buk, Pak,"


Ucap Dea dan Fikry saat akan berangkat


"Iya nak, kalian hati-hati dijalan ya, jangan lupa kabari Ibu kalau sudah sampai dan Cepat berikan kami Cucu ( Katanya sambil tersenyum)


"InsyaAllah buk, Jawab Fikry


(Dea hanya tersenyum malu-malu)


Dea memeluk Ibu dan Juga Ayahnya sambil menangis tak kuasa meninggalkan Orang tua nya apalagi Ayahnya yang sedang sakit, namun Dia harus ikut Suaminya karna Fikry tak bisa tinggal di kampung, kerjaannya banyak menunggu.


"Kami pamit Buk, Pak,"


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Jawabnya dengan Suara bergetar Dia menahan tangis agar tak terlihat lemah di hadapan Anaknya.