Don't Go

Don't Go
Sendiri Di Kamar



Pagi hari yang indah mayle hanya ia habis kan di dalam kamar ia tidak tau apa yang harus dia kerjakan


" kalau mau bersih-bersih rumah pembantu udah banyak kalau mau masak chef di dapur sudah ada kalau mau tidur cepat kali bisa-bisa aku penyakitan terus aku harus ngapain di rumah sebesar ini apa aku harus kayak orang stres jalan sana jalan sini mondar mandir gitu ahh bodo amat lah" mayle kesal tidak ada satu hal pun yang bisa ia kerjakan semua nya sudah di kerjakan sama para pembantu.


" kalau mau keluar mau kemana huff" mayle binggung dia berjalan kerak buku milik xime dia mengambil sebuah buku kecil yang begitu imut


" apa ini? seperti nya ini milik xime dan kayak nya ini bersifat pribadi sebaik nya jangan aku buka takut nya nanti xime marah mending aku nyarik buku yang lain saja" mayle tidak mau kalau nanti xime marah pada nya.


" kalau aku gak ada kegiatan mending main handphone ajalah" mayle menggambil ponsel nya dari dalam laci dia membuka pesan dari grup sekolah banyak banget teman-teman mayle pada sibuk ngurusi berkas buat masuk universitas yang disukai hati mayle kembali tersakiti oleh keputusan yang sudah ia ambil tapi dia gak bisa menyesali nya, semua yang ia lakukan ini semua buat masa depan adik-adiknya ia tidak mau kalau nanti adik nya merasakan pahit nya biar kan dia saja yang merasa kan nya adik nya tidak. mayle ngescrol semua chat yang masuk di bagian bawah ada sebuah pesan dari john pesan itu dua hari yang lalu dikirim oleh john


isi pesan yang disampaikan oleh john begitu membuat hati mayle hancur terkoyak-koyak oleh luka yang ia buat air mata mayle terus berlinang tanpa henti tiba-tiba saja mayle teriak


"joooo johnnnn aku sayang " teriakan mayle begitu kuat dan membuat kamar itu bergemuruh. air mata mayle tak henti-henti jatuh dia sangat kesal marah frustasi akan semua ini


" jooo aku harus gimana apa yang harus aku buat apa perlu aku mati haa" tangisan mayle makin menjadi-jadi mayle tidak kuat menahan ini semua. mayle melemparkan ponsel nya kelantai dengan kuat dia begitu emosi dan sudah tidak bisa lagi untuk dikontrol dia hanya tau kalau dia tidak akan pernah bisa melupa kan sosok jo yang murah hati baik dan prian yang ideal.


mayle bersandar disamping tempat tidur sambil menangis menahan semua sakit yang ia derita, cukup lama mayle menangis dan karena dia lelah nangis akhirnya dia tertidur lelap di atas keramik dan bersandar pada tempat tidur yang ia gunakan tadi untuk menangis.