DESTINY LINE

DESTINY LINE
9. Bree



"APA? PESTA?!"


"Benar Putri. Nyonya menyuruh saya untuk menjaga putri sementara dikamar lain lantai 4, karena lantai satu akan digunakan untuk pesta. Disini nyonya takut anda kurang nyaman, jadi beliau memerintahkan saya untuk menyampaikan pesan ini pada putri." Jelas Jasmine yang seketika membuat kepala Oriona berdenyut. Apalagi ini?


"Mengapa harus pindah? Aku— uh sebentar dengan siapa kakak bertunangan?" Tanya Oriona meski ia sudah tahu siapa orang itu.


"Kabarnya calon tunangan putri Dianna ialah putra kedua dari keluarga Dardapati, putri."


Ah, ternyata benar.


"Ini kabar gembira. Namun, mengapa aku tidak boleh ikut berpartisipasi? Jika tentang kesehatan, ku rasa aku sudah lebih baik dari terakhir kali." Sangat disayangkan andaikata ia tidak boleh ikut. Bukankah menyenangkan melihat kedua pasangan protagonis melakukan tukar cincin?


Jamsine menunduk, merasa bersalah. Namun, ia juga tidak bisa memaksakan kehendak Nyonya apalagi ini menyangkut keselamatan putri kesayangan keluarga ini. "Keselamatan putri tentu lebih utama dari apapun. Barangkali nyonya masih trauma akan kejadian terakhir kali yang menimpa anda. Putri, mohon untuk mematuhi perintah nyonya dan tuan demi diri putri sendiri."


Oriona menahan diri untuk tidak memutar bola mata malas. Lihat! Betapa posesifnya keluarga ini. Dirinya hanya pergi kepesta.dirumah.sendiri. bukan pergi berperang. Apakah harus selebay itu? Lagipula kamarnya ini dilantai dua, pesta dilantai satu, haruskah ia pindah?


Karena ia adalah jiwa Elmyra, gadis bebas yang tidak suka dikekang, jangan harap ia akan patuh.


"Baiklah baiklah. Sekarang aku hanya ingin tahu, jam berapa pesta itu akan dimulai?"


"Jam tujuh malam, putri."


Terpikirkan sesuatu, gadis itu berjalan menuju balkon kamar, menatap kebawah dimana terlihat Dianna bersiap pergi bersama sopir dan beberapa pengawal.


"Katakan padaku, apa kak Dianna akan berbelanja?" Tanya-nya tanpa mengalihkan pandangan-nya dari bawah.


"Saya mendengar Putri Dianna hendak mengunjungi salon dan butik langganan nyonya, Putri."


Mata Oriona berbinar cerah mendengar itu. Sebuah rencana langsung terlintas diotaknya.


"KAKAAK DIANNA..!"


"Astaga putri… apa yang anda lakukan?" Jasmine panik ketika melihat tingkah baru nona yang sejak lama ia layani.


Oriona tersenyum kecil saat tahu Dianna mendengar dan sedang mencari asal suara yang memanggil namanya. Tanpa memedulikan pertanyaan Jasmine, gadis itu kembali berseru.


"SINI AKU DIATAS!!" teriaknya sambil melambai tangan pada Dianna yang akhirnya menyadari keberadaannya.


Terlihat raut terkejut dari wajah itu, Oriona tidak peduli. Ia hanya ingin kebebasan.


"MAU KEMANA?!"


"Putri…." Panggil Jasmine memelas.


Dianna mengernyit, sebelum menjawab, "tolong jangan teriak, adik. Tenggorokanmu bisa sakit," ucapnya yang sama sekali bukan jawaban yang Oriona mau.


"Ma.u ke.ma.na," ulang Oriona. Kali ini nada suara-nya normal, namun bibirnya bergerak memperjelas setiap suku kata kalimat tersebut.


Syukurlah, Dianna mengerti apa yang diucapkannya.


"Aku…"


Oriona tidak bisa tidak curiga saat mengetahui keraguan Dianna. Raut wajahnya masam saat mengingat betapa kompaknya keluarga ini dalam membatasi ruang geraknya. Heh, tetapi ini Elmyra jangan berharap ia mudah menyerah!


"APA? KAKAK INGIN SHOPPING? TUNGGU AKUU KAK AKU IKUTTT…" Tanpa peduli tanggapan sang kakak, gadis itu segera berbalik, kemudian berlari ke arah pintu, mengabaikan teriakan larangan Jasmine.


Namun, baru saja sampai diundakan terakhir, Oriona terpaksa menghentikan langkahnya saat dengan wajah tanpa dosa Ansel berhenti didepannya. "Apa yang kau lakukan?!" Kesal Oriona, firasatnya mengatakan hal buruk akan terjadi.


Meski sempat terkejut dihadang pria tampan tiba-tiba. Namun, mengingat pria ini juga salah satu yang hadir diruang makan semalam, membuatnya yakin kehadiran Ansel akan mempersulit jalannya.


"Kamu tidak diizinkan keluar."


"Hei!!" Pekik Oriona tidak terima. Enak saja, apa maksudnya?!


Ansel menghela nafas, menunduk sedikit untuk menyesuaikan dengan tinggi Oriona yang sudah terbantu undakan tangga. "Nyonya Daisy berpesan padaku untuk menjaga mu, salah satunya dengan tidak membiarkan dirimu keluar dari mansion ini."


Ekspresi gadis itu menjadi jelek, jadi dirinya tidak boleh keluar, begitu? "Namamu Ansel, benar?" Ia ingat dengan tokoh figuran sepupu Dianna, Ansel.


Pria itu mengangguk ringan. "Benar, putri." Jawabnya sambil tersenyum tipis. Ansel kembali ke posisi semula, tangannya mengacak-acak rambut sepupu gemas, "Bagaimana jika menemaniku berkuda? Kuda yang aku pesan Minggu lalu sudah sampai semalam, kau tidak tertarik melihatnya?" Pria itu menawarkan hal yang cukup menarik bagi Oriona. Namun, tentu keluar dari mansion jelas lebih menyenangkan.


"Ti..da–" ucapannya berhenti kala mendengar suara mobil yang perlahan menjauh. Sial! Ia kecolongan.


Raut wajahnya masam, berbeda dengan Ansel yang tersenyum geli. Tangan pria itu menarik lengan kecilnya, menuntunnya kearah sebuah tempat.


Oriona menghela nafas, mengikuti langkah Ansel, pasrah.


"Uwahh." Melupakan ketidaksenangannya beberapa detik yang lalu, ekspresi masam Oriona hilang digantikan dengan binar kesenangan dan decak kagum. Belasan kuda yang nampak sehat dan terurus memenuhi hampir seluruh kandang kuda yang ada. Kuda dengan berbagai jenis dan umur.


"Kuda…?! itu beneran kuda?" Decak Oriona setengah tidak percaya. Bagaimana lagi, hidupnya dulu sebagai Elmyra, boro-boro melihat kuda, datang ke kebun binatang saja tidak pernah. Dirinya dulu meskipun gayanya ketinggalan jaman, ia tetaplah warga kota metropolitan yang hidup pas-pas'an. Hidup dikota tanpa status 'orangkaya' membuatnya terus memutar otak agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kerja-sekolah-kerja, begitu seterusnya hingga melupakan hal kecil seperti menghibur diri dengan datang ke tempat-tempat indah atau bertamasya sesekali.


Hidup sebagai Elmyra Maharani memang se-ngenes itu, namun kali ini hidupnya sebagai Oriona tidak akan ia biarkan mengalami hal serupa.


"Kau boleh pergi."


Oriona menoleh saat mendengar suara Ansel. Laki-laki itu memang pergi untuk mengambil kuda yang katanya baru sampai dipesan Minggu lalu. Pandangannya beralih pada hewan besar disamping Ansel. Besar sekali. Mungkin tendangan dari kuda itu bisa sampai meremukan tubuhnya, amit-amit.


"Coba elus," Ansel mengisyaratkan Oriona untuk mendekat. Awalnya, ia ragu, namun tatapan Ansel terlihat menyakinkan. Pria itu pasti akan menjaganya'kan?


"Galak, gak?" Oriona skeptis saat melihat betapa gagahnya kuda tersebut. Kulitnya bewarna cokelat tua, rambut dan ekornya bewarna hitam pekat. Sekilas, fisik kuda tersebut memang sama seperti kuda yang dikandang, yang membedakan fisik kuda itu nampak lebih besar, juga ada bercak-bercak putih didahi kuda, bawah rambut.


"Tenangkan dulu perasaanmu, beberapa hewan seperti kuda bisa merasakan apa yang manusia rasakan. Jangan menunjukan gestur takut, tetap tenang dan perlakukan kuda ini seakan teman dekat." ucap Ansel sambil mengelus rambut kuda dengan lembut. Nampaknya perkataan Ansel benar adanya. Terlihat kuda tersebut nampak menikmati elusan dikepalanya.


Oriona mulai menenangkan diri, lalu berjalan ke sisi lain kuda tersebut. Tangannya perlahan terangkat menyentuh rambut kuda dibagian punggung atas. Tubuhnya sedikit tersentak saat kulitnya bersentuhan dengan helaian rambut kuda yang ia kira kasar, namun ternyata rambut kuda ini terasa lembut.


"Astaga.." perasaan Oriona yang semula takut berubah senang seiring elusannya yang semakin berani. Bahkan ia harus mendongak untuk melihat punggung kuda. Tingginya hanya sebatas perut kuda. Curang sekali!


"Yang kutahu hewan peliharaan biasanya memiliki nama. Apa kuda ini juga demikian?"


"Aku baru memikirkannya dini hari tadi. Namanya Bree, artinya tinggi dan kuat."


Gadis itu tersenyum kecil, "nama yang indah."


"Dia jantan?" Tanyanya kembali.


"Benar. Jika kau ingin melihat kuda betina, minta saja pada paman Scout, dia adalah penjaga kuda disini." Ansel menerangkan tanpa diminta.


"Ingin mencoba naik?" Tawar pria itu. Posisinya tetap didepan kuda, masih dengan mengelus kepala kuda.


"Tidak," tolak Oriona tanpa pikir panjang. Ayolah, meski kuda ini terlihat terlatih, namun hewan itu masih baru untuk Ansel dan lingkungan ini, takutnya Bree belum terbiasa. Jiikalau sewaktu-waktu kuda yang nampak jinak ini balik menyerangnya, bagaimana?


"Aku yakin kau juga belum mencoba menaiki kuda ini. Ansel, meski Bree terlihat jinak, tapi dia tetap seekor kuda, hewan yang perlu adaptasi dengan lingkungan baru. Jadi, sebelum kamu bisa menjamin Bree aman, jangan pernah mengajakku!" Ucap Oriona dengan nada memperingati. Ekspresi wajahnya benar-benar serius menasehati Ansel.


Ansel terkekeh kecil, bukannya menanggapi ucapan Oriona, ia justru salah fokus dengan sikap gadis itu yang berbeda jauh dari terakhir kali mereka bertemu. Benar kata Dianna, semenjak Oriona hilang ingatan, sikapnya banyak berubah. Gadis itu jauh lebih asik dan mau berbincang ringan dengannya. Sederhana namun hampir tidak pernah terjadi pada Oriona yang dulu.


"Baiklah baiklah. Bagaimana dengan kolam pemandian kuda? Hari sudah siang, Bree perlu mandi atau sekedar bermain air."


"Emm, itu bukan ide buruk. Let's go!!"


Lagi-lagi Oriona dibuat berdecak kagum. Kali ini penyebabnya adalah luas kolam pemandian kuda yang mungkin sama dengan luas kandang kuda tadi. Ia benar-benar tidak menyangka aset keluarga Bartels sebanyak ini. Mendadak dirinya curiga, luas semua perkarangan mansion Bartels setara dengan luas satu desa. Bisa saja'kan?


Tiba-tiba seorang pengawal datang, membungkuk pada Oriona dan Ansel, lalu menyampaikan tujuannya. "Mohon maaf telah mengganggu waktu-nya putri. Namun, Tuan Richard memanggil tuan muda Ansel untuk segera datang ke ruangan beliau."


Tn. Richard itu nama ayah Ansel.


"Eum~" Oriona menatap Ansel yang balas menatapnya dengan raut menyesal, "pergilah, Ansel. Kita bisa melanjutkannya setelah kamu selesai dengan urusanmu."


"Apa tak apa?"


"Tentu."


Ansel mengangguk, pria itu berjalan diikuti pengawal tadi.


"Nah, sekarang apa yang harus aku lakukan?"


Manik tosca-nya mengedar, mengamati lingkungan sekitar. Kolam pemandian kuda ini sepi entah karena apa. Ia masih begitu asing dengan semua ini. Beruntung mereka semua menganggapnya hilang ingatan, dengan begitu ia tidak dicurigai karena mendadak tidak tahu apa-apa.


Tanpa sengaja maniknya menemukan sebuah pintu dari sudut lain. Kolam pemandian ini dikelilingi tembok tinggi, entah apa yang ada diluar sana. Keingintahuan-nya bergejolak. Ayo, temukan apa yang ada dibalik pintu itu! Ia merasa pintu setinggi tembok itu, adalah pintu keluar.


Klik


Perlahan pintu terbuka, matanya mengintip dari celah yang ada, hanya mendapati pemandangan pohon tinggi dan besar. Ia mendorong pintu lebih lebar.


"Apa yang kau lakukan?"


Sial, ia ketahuan.