
Setelah kebersamaannya bersama Dianna tadi, disini Oriona sekarang. Didalam kamar seorang diri selepas menyuruh Jasmine, pelayan pribadinya itu untuk meninggalkannya seorang diri. Ia butuh waktu untuk memikirkan semua. Ia butuh ruang untuk menabahkan hatinya, menerima semua dengan lapang dada.
Saat menjadi Myra dulu, hidupnya memang membosankan dan banyak kenangan pahit, namun bukan berarti ia mau kehidupannya diganti begitu saja. Bagaimana kabar sekolah dan kerja-nya? Sampai kapan ia akan menjadi Oriona?
Tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang kecuali menerima dan menjalani kehidupan barunya selagi cara untuk kembali belum ditemukan. Didunia fiktif ini takdir sudah digariskan untuk setiap tokoh, termasuk nasibnya di masa depan. Dalam novel dijelaskan, jika setelah penculikan Dianna oleh penjahat utama yaitu Zulka Cestario Caspian, terjadi penyerangan oleh keluarga Bartels. Disitulah akhir hidup dari tokoh Oriona, meninggal akibat panah dari sang penjahat langsung. Awalnya panah itu ditujukan kepada Ansel, sepupu jauh Oriona. Namun, malah salah sasaran mengenai Oriona yang kala itu nekat menyelinap diantara pengawal keluarga Bartels.
Ia tentu tidak mau berakhir seperti dalam novel. Setidaknya, kematian yang ia hadapi karena takdir TUHAN bukan penulis, lagipun hidupnya didunia sudah sulit, ia ingin kematian nanti tidak merasakan sakit. Namun, diluar itu selagi takdir Oriona bisa diubah, maka ia akan berusaha mencintai setiap kesempatan yang ada. Berusaha menjaga umurnya agar tetap panjang, syukur-syukur nanti bisa sampai tua. Hell, mati diusia muda itu, siapa yang menginginkan nya? Oriona jelas tidak!
"Mari membuat rencana masa depan!!" Seru-nya sambil mengangkat pena hitam yang ia temukan didalam laci meja.
Latar tempat didalam novel Destiny line ialah sebuah negara yang sudah modern dimana segala kemajuan teknologi sudah ada disini. Negara Valoria. Namun, sihir dan segala sesuatu yang mengandung unsur fantasi itu masih bisa ditemukan. Singkatnya, dunia ini masih sama dengan dunia Myra dulu, bedanya didunia ini semua bisa saja terjadi. Lele berkepala dua, katak terbang, atau bahkan monster menyeramkan layaknya difilm fantasi barat kemungkinan bisa saja ditemukan. Hanya saja eksistensi mereka tidak boleh diketahui masyarakat luas atau akan menimbulkan masalah yang serius.
Seperti contohnya, ada satu tempat yang menjadi salah satu latar adegan didalam novel terjadi, yaitu Hutan kegelapan sebagian juga menyebutnya sebagai hutan terlarang. Seperti namanya, hutan tersebut memang terlarang karena merupakan salah satu tempat dimana sihir bisa digunakan dengan bebas. Manusia biasa dilarang memasuki tempat itu jika tidak ingin dikabarkan hilang tanpa jejak.
"Tempat persembunyian Zulka dihutan kegelapan, bukan?" Monolog-nya setelah mengingat alur novel lagi.
Tiba-tiba Oriona terpikirkan kastil yang menjadi persinggahan satu malam-nya beberapa jam yang lalu. Kastil itu juga terletak dihutan, tidak mungkin'kan tempat itu milik Zulka? Kastil itu pasti milik pria batu itu. Pria yang nampak kurus meski tatapannya cukup mengintimidasi, jelas itu bukan ciri fisik dari Zulka. Selain sosok-nya, kemarin ia tidak bertemu siapapun.
"Emm, tentang pria itu, aku malah belum pamit pergi. Meski aku menebak pria batu itu tidak akan mencariku, tetap saja rasanya kurang sopan." Gumam Oriona, menyesal.
Tumbuh dikeluarga berantakan jujur membuat mental-nya perlahan terkikis oleh rasa kurang percaya diri, tidak enak-kan, mudah merasa bersalah, dan perasaan toxic lain yang selalu berhasil menerjunkan moodnya. Ia tahu itu semua harus segera diatasi, ia sudah berusaha, dan hampir berhasil, namun tidak menampik jika terkadang perasaan-perasaan toxic itu masih mempengaruhi nya.
"Aisshh, lupakan saja Oriona! Fokus pada apa yang didepan matamu sekarang. Anggap saja kau tidak pernah bertemu pria itu." Oriona mulai menulis kiranya hal-hal penting yang perlu dicatat terkait kejadian yang akan terjadi dimasa depan. Mengabaikan perasan bersalah dihatinya, berpikir itu hanya masalah pamit, pria itu juga tidak mungkin seikhlas itu menampungnya. Jadi, ia tidak perlu khawatir dan merasa bersalah.
Kembali pada topik awal. Kematian tokoh Oriona disebabkan oleh peperangan. Jadi, haruskan ia mencegah perang tersebut agar tidak menimbulkan korban? Lagipula, peperangan itu jelas dimenangkan pihak Allerios atas bantuan sekutunya dan keluarga Bartels. Kemenangan untuk Allerios dan kematian untuk Zulka.
Ia tidak mau Zulka mati sebelum bahagia. Sudah pernah ia katakan, bukan? Mati karena cinta bertepuk sebelah tangan itu terlalu mubazir alias sia-sia menurutnya. Memang paling benar perang itu harus dihindari, namun bagaimana caranya?
Otaknya mulai berpikir.
Beberapa detik kemudian, pintu kamar diketuk pelan disusul suara Jasmine memberitahu, "Putri, hari mulai petang. Izinkan saya masuk untuk membantu Putri bersiap diri menghadiri acara makan malam nanti."
"Masuk, Jasmine." Pintu terbuka menampilkan seorang pelayan dengan senyum lebar diwajahnya.
"Mari, Putri. Saya akan membuat Putri menjadi gadis paling mempesona malam ini."
Oriona meringis melihat itu, apa tidak terlalu berlebihan?
"Jasmine, aku lelahh…" keluh Oriona kesekian kalinya.
"Sebentar lagi, Putri."
"Kau sudah mengatakan kalimat itu sejak 30 menit lalu." Gerutu Oriona yang mulai merasa lelah menjalani rangkaian persiapan yang pelayan-nya maksud.
Ia pikir, mandi dan berpakaian sopan itu sudah cukup tapi ternyata ia harus mandi yang benar-benar mandi, merias wajah dan rambut, belum lagi memilih gaun yang membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
Oriona menatap cermin yang memantulkan bayangan seorang gadis yang semakin cantik setelah dirias. Rambut hitam dengan warna merah diujungnya itu nampak cantik dikuncir gaya ponytail. Kuncir nya tidak rapi, beberapa anak rambut nampak berjatuhan. Namun, itulah yang menambah keindahannya. Apalagi wajah Oriona yang sudah cantik semakin cantik setelah tersentuh make up tipis.
Ia berdiri, nampak penampilannya secara keseluruhan dari cermin fullbody tersebut. Sentuhan akhir, sepasang heels 3 cm bewarna biru muda senada dengan gaun selutut yang ia kenakan.
"Putriii… sangat cantik," puji Jasmine terdengar sangat tulus. Ia balas dengan senyuman tipis.
"Ini tidak akan terjadi tanpa campur-tangan mu, Jasmine. Untuk itu, terimakasih banyak."
"Putri tidak perlu berterimakasih, kewajiban saya adalah melayani Putri sebaik mungkin." Balas Jasmine.
Pada dasarnya Oriona sangat menghargai siapapun yang bersikap tulus padanya. Karena ia akan balas bersikap demikian, begitu juga sebaliknya. "Tidak mau tahu, aku tetap akan mengucapkan terimakasih padamu," ucapnya kemudian terkekeh kecil.
"Baiklah, Putri. Sama-sama." Jasmine ikut tersenyum.
***
"Ibu bahagia nak, akhirnya kamu mau kembali makan bersama kami." Ucapan itu keluar dari sang Ny. Bartels dengan tangan mengelus surai hitam milik Oriona, lembut.
Oriona tersenyum kecil berusaha tetap tenang. Kedua tangannya yang diatas paha saling bertaut guna mengurangi kegugupan. Ditatap seluruh keluarga Bartels tentu membuatnya tidak nyaman. Jiwa introvert-nya seketika berbisik untuk segera keluar dari situasi ini. Tentu itu pilihan yang buruk saat ini.
"Emm, ibu bagaimana sikap ku dulu padamu? Apa aku begitu durhaka?" Sejujurnya ia sudah tahu sebagian besar sikap tokoh Oriona pada keluarganya. Hanya saja, ia ingin mendengar langsung dari pandangan mereka.
Ny. Bartels tersenyum sebelum menjawab, "tidak seperti yang kamu katakan, sayang. Putri ibu semuanya baik. Kamu gadis manis dan penurut kesayangan ibu." Sekilas ada nada sendu dalam ucapannya
Oriona meringis dalam hati, 'bohong sekali.'
"Apakah benar begitu?"
"Kamu adalah adikku yang paling cantik dan manis, Ona." Dianna ikut menimpali.
"Apa yang dikatakan kaka dan ibumu benar, nak. Kamu putri kami yang manis dan penurut. Sudahlah, yang berlalu biarlah berlalu, mengenai ingatanmu, tidak apa terlupa. Kita bisa membuat kenangan manis lagi mulai saat ini." sahut beliau, Tn. Bartels sekaligus ayah dari tokoh Oriona dan Dianna, seraya memberikan senyum lembut.
Astaga baik sekali keluarga ini. Bagaimana jadinya jika mereka tahu kedua putrinya tidak akan aman dimasa depan. Dianna diculik, sedangkan tokoh Oriona meninggal diusia muda. Ia jadi tidak tega membayangkan kedua orang tua baik ini terpuruk karena kehilangan putri-putrinya.
"Terimakasih ibu, ayah, kakak." balas Oriona sambil memberikan senyum tulus yang sama.
Ansel dan pria tua disampingnya tersenyum senang melihat interaksi mereka. Para pelayan yang berjaga disana juga ikut senang. Hanya satu orang yang menampilkan ekspresi kurang mengenakan disertai tatapan penuh siasat pada salah satu dari keluarga bahagia itu. Sayangnya, tidak ada yang menyadari kecuali Oriona.
"Hmm, sepertinya aku harus segera membuat rencana. Selain rencana mencegah peperangan, aku juga harus membuat rencana melindungi diri dan keluarga ini dari hama penghianat!"
Benar, kehidupannya kali ini harus terencana dan ia akan memiliki masa depan yang indah.