DESTINY LINE

DESTINY LINE
Putri Oriona



Seorang gadis yang bulan lalu genap berusia 18 tahun tengah duduk sendiri disebuah kursi taman bunga. Keanggunan tetap memancar dari sosoknya yang ayu meski sorot matanya nampak murung. Sudah beberapa hari ini adiknya menghilang dan sampai sekarang belum ada kabar. Hal yang pasti membuat dirinya dan kedua orangtua-nya amat terpukul.


"Adik, dimana dirimu sekarang? Apa kau baik-baik saja diluar sana?" bicaranya sendu, entah pada siapa. "Aku merasa tidak berguna sebagai seorang kakak."


"Itu jelas tidak benar, Putri." suara lain terdengar menyahut dari arah belakang. Disusul kemunculan seorang pemuda tampan dengan surai dark grey yang membuat pesonanya semakin kuat. Senyum tulus terbit dari bibirnya.


"Selamat pagi, Putri Dianna. Mentari pagi memang sangat bagus untuk kesehatan, tentu akan lebih baik jika dibarengi dengan pikiran positif."


Sang gadis yang dipanggil 'putri' itu berdiri sambil menyambut salam dari pemuda yang tak lain adalah sepupu jauhnya. Beberapa hari ini menginap dikediaman ayah-nya karena urusan bisnis. "Pagi, Tuan muda Xavier."


"Tidak perlu terlalu formal, Putri. Panggil saja aku Ansel." Ansel memberikan ekspresi lembut. Keduanya memang sepupu jauh tapi sudah menjadi kebiasaan bagi setiap anggota keluarga untuk saling menyapa formal saat pertama berjumpa setelah sekian lama.


Dianna tersenyum kecil, "kalo begitu kau bisa memanggilku Dianna."


"Aku merasa lucu atas ke-formalan ini." balasnya terkekeh kecil.


Ansel mengedarkan pandangannya pada taman bunga yang dipenuhi dengan bunga Lavender. Kabar tentang hilangnya Putri bungsu keluarga Bartels selama beberapa hari belakang ini tentu sudah ia ketahui. Pencarian yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, namun mengerahkan para pasukan berkualitas. Alasannya tentu karena putri yang hilang ini adalah putri kesayangan keluarga Bartels yang bahkan dunia saja tidak boleh mengenalnya meski hanya nama.


"Taman ini tempat kesukaan adikku," celetuk Dianna saat tau kemana arah pandang Ansel. Pandangannya menyendu pada kumpulan bunga lavender didepannya. Sirat rindu dan penyesalan terlihat jelas dari sorot matanya.


"Berhenti menyalahkan dirimu, Dianna."


"Aku bahkan tidak bisa membantu menemukannya."


Kedua tangan Ansel hinggap dibahu Dianna, memberi penekanan kecil yang tidak menyakiti. Meminta gadis itu kembali duduk dan menenangkan diri. "Dianna, kau juga permata dikeluarga Bartels. Apa jadinya jika dirimu terluka?"


"A-ku..." Dianna tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Tenggorokannya tercekat bersama dengan air mata yang mengalir. Ansel dengan sigap menyediakan bahu untuk gadis itu.


"Shuuttt... Semua akan baik-baik saja. Aku yakin Oriona bisa menjaga diri diluar sana. Percayalah, sebentar lagi dia pasti ditemukan." Ucap Ansel menghibur gadis itu.


Meski berjauhan dan jarang bertemu, tidak menampik ikatan kekeluargaan mereka yang sangat kuat. Ansel yang sekarang sama seperti Ansel saat kecil dulu, selalu menjadi pelindung dan tempat bersandar kedua putri Bartels selain ibu-nya, Ny. Bartels. Tidak hanya kediaman ini yang merasa kehilangan, dirinya turut terpukul mendengar kabar hilangnya Putri Oriona, adik kecil-nya yang sangat pendiam dan selalu bersikap jutek kepada siapapun.


Keluarga Bartels sangat menyayangi-nya, Ansel tahu usaha mereka bahkan hingga ke titik dimana Tn. Bartels mengadakan sayembara kepada mereka yang telah diseleksi menjadi kandidat terpilih untuk mencari keberadaan sang putri. Hadiah yang ditawarkan tentu bukan hal biasa.


"Kudengar Putra kedua keluarga Dardapati ikut andil menjadi salah satu kandidat terpilih. Kau pasti sudah mendengar rumor tentang kehebatan-nya dalam memberantas musuh. Aku yakin dengan keikutsertaan putra kedua Dardapati itu, kita bisa segera menemukan Putri Oriona."


"Putra kedua Dardapati? Apa alasannya? Apa karena hadiah yang ditawarkan ayah?"


"Benar, putra kedua Dardapati, Tuan muda Allerios. Untuk alasannya aku kurang tahu, mungkin kau bisa menanyakannya nanti pada Tn. Bartels. Jika alasannya karena hadiah, kurasa itu kurang tepat."


Dianna berdehem, "baiklah, aku akan segera menanyakannya nanti." jawabnya, dengan kepala tetap bersandar pada bahu Ansel. Air matanya sudah mengering, namun hatinya masih belum bisa tenang sebelum adiknya ditemukan.


Tidak tau kenapa Ansel merasa ada suatu hal kurang mengenakkan yang akan terjadi. Ia menatap surai cokelat terang milik sepupunya sambil mengelus perlahan. Semoga semua tetap baik-baik saja.


**


Berapa sudah apel yang ia makan? Satu, dua? Entahlah, Myra bahkan lupa menghitung. Namun, perutnya sudah kenyang hanya karena apel, itu sudah menggambarkan sebanyak apa apel yang ia makan. Uh, dirinya mengantuk sekarang.


Dahan yang lebar dan kokoh membuatnya tak takut untuk menyandarkan punggungnya di batang pohon. Sepoi-sepoi angin pagi hari terasa sejuk, membuatnya mengantuk. Sejak kemarin, ia sebenarnya sudah merasakan ini, dimana kondisi tubuh yang begitu lemah seperti kurang gizi dan olahraga. Beberapa bagian tubuhnya pegal, namun karena didunia-nya dulu ia memang memiliki tubuh lansia—pegel sana, pegel sini— jadi ia tidak begitu memperhatikan kondisi tubuh barunya.


Baru saja akan terlelap, ia dikejutkan dengan suara yang tidak jauh dari tempatnya. Mengamati sekelilingnya, tidak ada hal mencurigakan sebelum sesuatu jatuh dari dahan paling atas pohon yang ia tumpangi saat ini.


brukkk


Seekor burung berukuran sedang jatuh menghantam tanah, satu sayapnya berdarah, mungkin terluka. Myra bergegas turun hendak menolong. Namun, anehnya burung tersebut malah kembali terbang dengan keseimbangan yang membuat hati Mura tidak tega. "Hei hei tunggu!"


"Astaga!" Myra berdecak tak habis pikir, burung itu tetap terbang jauh. Ia ingin abai saja, bukan urusannya selagi burung itu tidak sekarat dihadapannya.


Ayolah! Bukankah tadi sayap burung itu terluka? Mengapa terbangnya cepat sekali?


"Jangan bilang burung itu burung jadi-jadian?" monolog-nya sambil terus berjalan tanpa tujuan. Ini lah akibat dari aksi sok heroiknya. Ia yang buta arah tentu menjadi masalah besar ketika memasuki hutan belantara tanpa pendamping.


Ia tersesat!!


Situasi yang sangat buruk dan bertambah buruk lagi ketika perjalanan tanpa tujuannya dihadang oleh beberapa pria dengan pakaian tertutup serba hitam. Lagi-lagi angka ganjil, tiga orang yang mencegatnya.


"sekarang apa lagi??" Batinnya berteriak kesal.


"Putri Oriona." ucap pelan salah satu dari mereka. Myra mengernyit tak paham, otaknya lambat berpikir hingga kemudian satu kesimpulan tercetus dikepalanya.


"No! Kalian pasti salah orang! Gu-- Aku bukanlah Putri yang kalian maksud!!" ujarnya panik.


"Kebohongan yang sia-sia, putri." Myra merasa nyawanya sangat terancam apalagi saat mereka bergerak mendekat. Ia sudah akan ancang-ancang berlari, namun kalah cepat dengan salah satu pria itu yang entah kenapa bisa berada dibelakangnya. Tengkuknya dipukul hingga kesadarannya hilang.


"Aku buka-- Ouh.."


"Cepat, bawa!!"


Ketiga pria misterius itu segera melesat cepat membawa seorang gadis yang menjadi incaran tuan mereka sejak lama. Setelah ini, pasti kinerja mereka akan dipuji dan bonus besar-besaran akan segera mereka dapatkan.


Namun, dipertengahan jalan seseorang tidak diharapkan menghadang jalan mereka. Pertarungan antara dua kubu tidak bisa dihindari demi menyelamatkan seorang gadis yang masih tidak sadarkan diri.


"Lepaskan gadis itu atau mati..?"


Ketiga pria serba hitam itu saling menatap, kemudian dua orang dari mereka melesat menyerang seorang pemuda yang wajahnya sudah tidak asing, dipenjuru negeri ini hampir semua mengenalnya, termasuk mereka, Pasukan pilihan dari suatu kelompok yang tidak sembarang orang bisa menggunakan mereka.


Pertarungan nampak sengit dengan dua orang yang hampir kewalahan. Melihat temannya terlihat akan kalah, pria yang satunya meletakkan tubuh gadis itu didekat pohon, kemudian ikut menyerang pemuda itu.


Jelas mereka merupakan pasukan yang sangat terlatih, setiap gerakan beladiri yang sangat gesit dan selalu mengincar kelemahan lawan. Kecepatannya dalam menghindar dan melesat tentu tidak bisa dianggap remeh. Namun, lawan mereka kini adalah seorang pemuda bersurai light brown yang pada akhirnya bisa mengalahkan mereka dengan mudah.


Merasa sudah tak berdaya, pria itu melemparkan benda yang langsung mengeluarkan asap. Taktik mengecoh lawan untuk melarikan diri.


"RIOSS! Hah, apa yang terjadi?" tanya seorang pemuda lain yang baru saja datang. keduanya sempat bersama tadi, tetapi tiba-tiba pemuda yang dipanggil Rios itu menghilang.


Rios, tepatnya Allerios tidak menjawab melainkan berjalan menuju seorang gadis yang terbaring, pingsan.


"I-ini? Putri Oriona?" Allerios mengangguk atas keterkejutan Louis, partner pencariannya sekaligus sahabatnya.


Louis spontan menepuk bahu Allerios, bangga. "Astaga! Kita bahkan baru memulai pencarian tiga jam lalu, dan kau sudah menemukannya. Bukanlah sayembara ini sangat mudah bagimu?!"


Allerios menggendong sang gadis, hati-hati. "Sejak awal gadis ini memang istimewa. Tentu, bukan sembarang orang yang bisa menculiknya."


Louis menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Langkahnya mengikuti Allerios dengan otak yang belum paham. "Apa hubungannya?"


"Kau tau hutan apa yang kita masuki, bukan?"


"Hutan kegelapan. Semua orang menyebutnya begitu."


"Kau bisa berspekulasi sesukamu, Louis."


"Baiklah baiklah." Keduanya melanjutkan perjalanan dalam hening. Hingga saat malam tiba, keduanya sampai dikediaman Bartels yang seketika disambut pekikan haru dan bahagia dari setiap orang dalam kediaman.


"PUTRI ORIONAA!!"