DESTINY LINE

DESTINY LINE
Help me, please..



"Aduhh!" Ringis seorang gadis dalam posisi jatuh kedepan. Lutut dan telapak tangannya menghantam kerasnya aspal. Sakit dan perih ia rasakan karena itu.


"HEI JANGAN KABURR KAU!!"


Teriakan keras terdengar dari arah belakang. Gadis itu menoleh, matanya sontak membola mengetahui satu dua–lima preman berlari kearahnya. Otaknya berpikir cepat, menoleh sekitar tidak ada seorangpun selain dirinya. Entah mengapa ia begitu yakin teriakan itu tertuju padanya.


Myra—gadis yang bahkan belum paham akan situasi ini mau tak mau mengikuti nalurinya untuk segera berlari.


"Lah beneran ngejar gue dong?!" Myra panik saat melihat kelima preman itu mengikuti kemanapun arah ia berlari. Target preman itu jelas dirinya. Oh my God, apa salahnya?


"Anjing!" umpatnya refleks saat sadar ternyata kakinya terpasang high heels tiga cm. Pantas saja langkahnya begitu berat, belum lagi sakit ditungkai kakinya yang baru terasa.


Dirinya tidak tau ini dimana, jalanan sempit berbelok-belok, seperti gang kumuh di kota-kota besar. Ada dua belokan didepan, ia yang masih bingung memilih belok kekiri. Kakinya sudah letih berlari dan sialnya para preman itu masih saja mengejarnya.


Ia terus menoleh kebelakang, jarak preman itu semakin dekat. Karena kurang fokus, Myra tidak tahu jika didepannya ada seseorang yang berjalan pelan. Tabrakan pun tidak bisa dihindari, ia dan orang itu jatuh dengan posisi Myra menindih tubuh kurus orang itu.


"Awshh," ringisnya kesakitan sekaligus terkejut. Beruntungnya karena tubuhnya tidak langsung berciuman dengan aspal sekali lagi. Namun—


"akhirnya..." melupakan kejadian barusan, pikiran Myra lebih fokus pada seseorang didepannya. Akhirnya, ada orang lain ditempat ini selain dirinya.


"Help me, please." pintanya dan tanpa ragu memegang tangan orang itu yang sontak langsung ditepis. Myra terkejut, apalagi saat mendapati tatapan tak bersahabat dari sosok yang rupanya seorang laki-laki.


Pandangannya mengikuti gerakan laki-laki itu yang bangkit, lalu hendak pergi. Tidak! Myra tentu tidak akan membiarkan penyelamatnya pergi sebelum melakukan tugasnya. "Tolongin gue, plisss. Gue gak tahu salah apa tiba-tiba dikejar sama preman gila. Plisss, gue mohon," pintanya setengah merengkek. Bahkan tangannya kembali memegang lengan laki-laki itu hampir mencengkeram. Myra takut ditinggalkan sendiri, manakala laki-laki itu tetap tidak mau menolongnya.


"Lepas." desis laki-laki itu dengan raut terganggu yang begitu kentara.


Gadis itu jelas menggeleng ribut, apalagi saat sudut matanya menangkap preman itu yang sudah dekat. "Gue mohon bangettt. Cuma elo harapan gue. Gu-hiks gue bakal ngasih imbalan yang lo mau, asal Lo mau nolong gue-hiks!" Myra tidak berbohong jika ia mengatakan takut. Dirinya benar-benar takut, tiba-tiba dikejar bak buronan setelah membuka mata. Manusia mana yang masih baik-baik saja! Mengetahui itu, air matanya semakin deras mengalir.


Namun, laki-laki itu masih bergeming. Tidak merespon ucapan Myra selain matanya yang menatap gadis itu, tidak tertarik. "Aku tak peduli."


"ENGGAKK!" Myra memekik histeris, tangannya ikut menggoyangkan lengan yang digenggamnya ribut. "pliss gue mohon, hiikk. Gue bakal turutin apa mau lo, apapun itu."


Tidak ada respon.


Myra hampir frustasi dibuatnya. Tidak ada pilihan lain, ia bersimpuh didepan laki-laki itu. Pegangannya belum ia lepas, "Lo harapan gue satu-satunya, cuma Lo yang bisa nolong gue... –" ucapan Myra berhenti saat tangannya disentak. Matanya menatap tidak percaya laki-laki itu yang kini berjalan melewati tubuhnya yang masih bersimpuh.


Isakan lolos tanpa bisa dicegah. Kepalanya menunduk, pasrah sudah merasuk dihatinya. Meratapi nasibnya yang buruk, fisiknya tak kuat lagi untuk berlari, tubuhnya sudah melemas. "Kenapa dunia jahat?" bisiknya pada kehampaan.


"Haha akhirnya menyerah juga dirimu!" suara gelak tawa terdengar nyaring didepannya. Ia tahu para preman itu sudah dekat, tinggal menunggu waktu ia akan ditangkap.


"Putri manja dan cengeng seperti mu tidak mungkin bisa lolos dari kami. Haha.."


Myra masih menunduk, meski ia sudah pasrah tapi itu tidak sepenuhnya. Terbesit harapan kecil akan sebuah keajaiban bisa menolongnya. Apa ini benar-benar akhir?


"Tuan pasti senang dengan kerja kita kali ini. Ayo tunggu apalagi, cepat tangkap gadis itu sebelum kabur!" salah satu preman maju, membawa paksa tubuh kecil itu untuk berdiri.


"Menurutlah gadis manis, jika kau tidak ingin terluka." ucap salah satu dari mereka yang sepertinya pemimpin mereka.


Gue udah terluka, bego! Jerit Myra dalam hati.


Preman itu membawanya pergi dengan langkah cepat, membuat Myra lagi-lagi meringis sakit pada kakinya yang terbalut heels.


Kepalanya terus menoleh, mencari sesuatu yang kiranya bisa untuk melindungi diri. Entah mengapa rasa tidak rela menelusup dihatinya. Ia memang sudah ingin menyerah, namun bukan sekarang dan ditangan preman gila itu. Myra masih belum sempat membahagiakan diri sendiri, ia bahkan belum merasakan apa itu cinta. Tidak! Mati diusia muda itu pilihan yang sangat buruk.


"Kamu harapan aku." bisiknya tanpa suara. Logatnya tanpa disadari berubah. Saat ini, Myra merasa harus bersikap sopan untuk mendapat feedback yang baik.


Jalanan yang dilewati tidaklah rata. Beberapa ada lubang dengan genangan air kotor. Kaki Myra yang melangkah terseok tanpa sengaja masuk ke lubang itu. "Ahh!" ringisnya hampir menangis. Kakinya semakin sakit dibuat melangkah. Teganya, para preman itu hanya menatapnya sekilas tidak peduli.


"Jangan manja! Dirimu hanyalah tawanan sekarang! Bukan seorang putri lagi," kata preman didepannya.


Myra mengernyit bingung disela kesakitannya, otaknya kembali berpikir. Baru ia sadari ternyata sedari tadi para preman itu mengatakan hal yang tidak ia mengerti. Tawanan? Putri? Apa maksudnya?


Dirinya asik melamun, hingga tidak menyadari cahaya ditempat itu hilang. Gelap gulita. Myra merasakan tangan yang mencengkeram lengannya terlepas. Belum juga menyadari situasi, teriakan kesakitan menggema disekitarnya disetiap suara tebasan yang mengiringi. Dirinya mundur, takut. Sekitarnya gelap, ia merasakan kehadiran seseorang dibelakangnya. Namun, belum sempat berbalik tengkuknya sudah dipukul terlebih dahulu. Kesadarannya hilang.


"Aku akan kembali membuangmu jika ternyata tidak berguna." seseorang berkata dalam kegelapan. Mengangkat tubuh kecil itu kedalam rengkuhannya. Dalam sekejap, sosok itu menghilang, menyisakan mayat-mayat dalam keadaan mengenaskan.


Byurrr


"Hahhh.." Myra terkesiap, terkejut mendapati dirinya berada dalam genangan air. Dengan panik kedua tangannya mengepak berusaha menyeimbangkan tubuhnya yang perlahan tenggelam. Air sudah masuk ke hidung dan mulutnya, pernafasannya mulai tersendat.


Tubuhnya semakin tenggelam, kakinya kram dua-duanya. Myra memejamkan matanya yang perih. Terlepas dari para preman, kini apa ia harus mati dalam keadaan tenggelam?


Didetik akhir kesadarannya, ia merasakan sebuah tangan menarik lengannya kuat hingga kepalanya keluar dari air. "Hahhh..uhuk! uhuk!" Myra terbatuk hebat, mukanya pucat dengan mata merah karena perih dan terlalu lama berada diair.


"Lemah."


Gadis itu mendongak mendengar itu, masih berada di air dengan tangan bertumpu pada batu dipinggir kolam. Dari pandangannya, terlihat seorang laki-laki yang tidak asing diingatkannya. Ah ya! Itu laki-laki yang tadi.


Mengabaikan ejekan tersebut, Myra lebih tertarik untuk mengamati sekitarnya. Seperti sebuah taman, hanya saja kurang terawat. Banyak semak belukar, bahkan batu yang menjadi tumpuannya sekarang berlumut. Eh? Spontan Myra melihat kolam tempatnya tercebur.


"Huweekk!!" Myra mual mendapati air kolam yang hitam berlumut. Ia berusaha keluar dari kolam yang amat-sangat kotor itu. Namun, ternyata kolam itu sangat dangkal, ditambah batu yang menjadi tumpuannya sangat licin, ia jelas kesusahan.


"Bantuin~" rengeknya pada manusia batu didepannya. Bahkan saat ia kesusahan manusia minim ekspresi itu hanya melihatnya tanpa berniat membantu. Sebenernya dimana nurani mu, tuan tampan? Batinnya kesal setengah ingin menangis.


"Dasar merepotkan."


Myra tidak peduli, berusaha menjadi manusia tuli dan tak tahu malu ia terus merengek berisik. Jika tidak bisa membuat laki-laki itu menolongnya karena iba, setidaknya laki-laki itu akan membungkam rengekannya dengan bantuan.


"Huwaaa cepett!! Air kolamnya kotor, menjijikan. Gue mau mun—huwek!" Myra kembali mual.


Srekk


Cara Myra berhasil, ekspresi terganggu terlihat jelas diwajah laki-laki itu. Maka, dengan sekali tarikan tubuh Myra dengan mudah keluar dari kolam tersebut.


"Ugh---" Myra merasa perutnya diaduk, mau muntah tapi tidak bisa. Kakinya selonjoran diatas rumput. Kram masih ia rasakan bersama rasa perih karena luka sebelumnya terkena air.


Merasa sudah sedikit mendingan, kepala Myra mendongak, melihat laki-laki tadi yang masih belum berpindah posisi atau setidaknya meninggalkan dirinya. "te-terimakasih." Ucapnya sambil tersenyum tulus diwajahnya yang pucat menyedihkan.


Myra sadar tanpa orang ini, ia tidak mungkin selamat. Meski ia masih bingung dengan keadaanya yang tiba-tiba berubah dalam sekejap Namun, dimana pun ia berada, ia harus bisa menjaga diri, minimal jika harus mati, ia mati tanpa kesia-siaan. "Terimakasih tuan," ucapnya sekali lagi.


Alih-alih menjawab, laki-laki asing itu justru mendengus dan membuang muka. Myra hanya bisa tersenyum sabar melihatnya.


"Simpan ucapan mu itu, karena aku tidak segan membuangmu jika dirimu tidak berguna."


Senyum Myra sontak luntur begitu saja. Berguna yaa?