DESTINY LINE

DESTINY LINE
Aku siapa?



Sinar jingga perlahan pudar diufuk barat, malam pun datang. Berbeda dengan malam-malam sebelumnya, kali ini mata Myra dimanjakan oleh keindahan gemerlap bintang yang bertabur menghiasi langit. Sangat indah.


Duduk diatas kusen jendela besar yang ada dikamar itu, Myra mendongak terpesona. Baru ia tahu, memandangi langit malam bisa se-menyenangkan ini. Lihatlah! gemerlap cahaya bintang yang terlihat jelas dari bawah sini. Entah seindah apa jika dilihat dari bukit tinggi atau tempat-tempat tinggi lain seperti puncak menara mungkin. Bahkan pemandangan yang ia lihat dari jendela kamarnya dulu tak seindah ini. Jika beruntung, mungkin hanya bisa melihat kerlip-kerlip cahaya bintang.


Tiba-tiba saja ia merasa seperti kembali ke jaman dahulu dimana belum ada bangunan besar yang menutupi hampir seluruh kota. Langit yang menyajikan keindahan taburan bintang, serta alam yang memberi kedamaian. Myra bisa mendengar beberapa hewan malam berisik mengisi kesunyian, seperti suara jangkrik yang saling bersahutan, auman serigala dari kejauhan. Untuk satu itu, ia tidak tahu apa benar itu suara serigala atau hanya halusinasi nya.


Sunyi dan tenang. Suasana yang cocok untuk merenung, berpikir dalam.


Tangan Myra terangkat, menampilkan lengan putih pucat yang nampak terawat. Senyum miris terbit dibibir-nya kala mengingat keadaannya saat ini. Siapa ia kini? Mengapa semua nampak berbeda dari terakhir ia membuka mata?


Seingat Myra, ia hanya tertidur diatas meja setelah menyelesaikan bacaan novel. Namun, tak tahu sebab apa tiba-tiba latar tempatnya berubah. Bukan lagi kamar miliknya, malahan ia mendadak berada di gang sempit dengan bonus kejaran preman.


"Semuanya nampak berbeda," gumamnya, murung.


Myra yakin ini bukan tempatnya. Lantas, bagaimana cara ia kembali?


Tubuh ini bukan miliknya. Rambutnya pendek hitam, bukan panjang bergelombang dengan warna hitam, bercampur merah dibeberapa bagian tertentu terutama bagian ujung. Manik matanya ikut berubah menjadi hijau tosca muda. Semua—tubuh, tempat, sampai identitas-pun berubah.


Hawa dingin semakin menusuk kulitnya yang hanya tertutup sebuah gaun putih. Ia menghela nafas sebelum turun, menutup jendela dan mulai menaiki ranjang empuknya. Berbaring disana.


Ya, selepas kejadian ditaman tadi, laki-laki—ia sebut saja pria—yang belum ia ketahui siapa namanya itu menuntunnya dalam artian menyuruhnya mengikuti laki-laki itu untuk masuk ke sebuah rumah aneh—seperti kastil di film-film barat yang pernah ia tonton.


"Lantai 2, pintu kamar warna putih." katanya kala itu.


Bahkan tanpa repot-repot mengantar dirinya atau memberi penjelasan lebih, pria batu itu langsung pergi meninggalkannya seorang diri. Alhasil ia sempat tersesat sebelum masuk kamar ini yang tidak tahu benar atau tidak. Karena merasa kotor, ia pun berniat mandi dan dari situlah awal mula ia mengetahui jika dirinya terdampar di tempat antah berantah.


Myra menatap langit-langit kamar dengan otak kusut. Semua terlalu aneh dan tiba-tiba, mau disebut mimpi pun tidak bisa. Sudah jelas ia sedari kejadian awal tadi selalu mengeluh perihal sakit. Dalam mimpi tak mungkin bisa merasakan sakit, bukan?


"Enak sih gue jadi cantik, tapi'kan tetep aja identitas tubuh ini gak diketahui.. Iya kalo gue putri bangsawan yang bisa hidup enak, kalo ternyata ni tubuh seorang buronan gimana?!" monolog Myra setengah frustasi. Nyawanya belum bisa dijamin aman jika ia sendiri tidak mengenal tubuh yang ia tempati ini.


Terakhir kali, ia bahkan hampir jadi tawanan seorang preman. Saat ini pun tidak lebih baik, ia masih belum mengetahui apa pria yang menolongnya itu orang baik atau justru sebaliknya. Aisah, nasibnya seperti warna saja, abu-abu.


Tuk


Dug


"Eh apa itu?" Ia bangkit dari posisi rebahan dengan rasa penasaran. Sumber bunyi itu dari jendela kamarnya. Tanpa pikir panjang, ia segera memeriksa dari mana bunyi itu berasal.


Ia membuka jendela besar itu, seketika angin malam berhembus menerbangkan anak rambutnya. Maniknya mengedar, tidak ada apa-apa kecuali pemandangan pohon sama seperti terakhir kali ia lihat. Mungkin ia salah dengar. Baru akan berbalik, Ia melihat sesuatu yang tampak menarik.


"Itu apa?" Tanpa sengaja matanya menatap kebawah, dan disana ia melihat gumpalan putih dipinggir tong kosong tepat dibawah jendela kamarnya. Ia tidak tahu ada gumpalan itu disana, apa karena ia kurang memperhatikan? Tapi, apapun itu, ia benar-benar ingin tahu sekarang.


Untuk membayar rasa penasarannya, Myra berbalik dan berlari kearah pintu. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, berusaha mengingat rute jalan menuju lantai satu serta mencari anak tangga yang ia gunakan tadi. Setelah menemukannya, ia turun dengan hati-hati. Hingga sampailah ia ditengah ruangan luas sebelum mencapai pintu, langkahnya melambat.


"Woww," mulutnya bergumam takjub. Entah ini disebut kastil atau mansion, yang jelas rumah ini begitu besar dan mewah. Beberapa ia temukan barang-barang kuno dan patung hewan disudut-sudut ruangan. Lampu besar dan terkesan antik namun mewah bergantung ditengah langit-langit ruangan ini. Myra bergidik, membayangkan bagaimana cara memasang lampu itu dilangit ruangan yang begitu tinggi? Pasti tidak mudah.


Terlalu mengagumi isi ruangan tersebut, Myra sampai tidak sadar jika hanya dirinya diruangan itu. Tidak ada siapapun, dan saat sadar, barulah tatapan takjub itu berubah waspada. "Tiada orang disini?"


Cepat-cepat Myra berlari kearah pintu, kembali ketujuan awal. Dua pintu besar yang sangat tinggi membuatnya tidak yakin bisa mendorong itu dengan mudah.


Butuh usaha lebih untuk membukanya, dan setelah berhasil ia segera melangkah keluar. Menurut teorinya, jendela kamarnya menghadap ke barat, jadi ia harus kearah barat kastil untuk sampai disisi luar kamarnya.


"Gelap anjir!" Myra mendesah kesal. Sebenarnya ini jaman apa? Setahunya didalam kastil sudah ada listrik. Lampu, shower mandi, penghangat ruangan barang yang ia tau itu menggunakan tenaga listrik. Tetapi, mengapa itu hanya berlaku didalam? Lihatlah, bahkan ia baru sadar ternyata diluar ini terlihat menyeramkan karena halaman kastil dan sekitarnya hanya diterangi api diatas bambu alias obor.


Sudah terlanjur nyebur, Myra merasa harus melanjutkan niatnya. Meski dalam hati terbesit rasa takut, ia berusaha menguatkan mental. Mengambil salah satu obor disana, ia mulai berjalan pelan.


Pencarian menjadi semakin sulit saat ia menyadari betapa besarnya kastil ini. Bermenit-menit berlalu tapi ia tak kunjung menemukan jendela kamarnya. Apalagi suasana malam yang sunyi membuat suara sekecil apapun akan terdengar nyaring, seperti saat ia tidak sengaja menginjak ranting kayu, ia sudah akan berteriak jika tak mengingat keadaannya sekarang. Itu hanya ranting, bodoh! Batinnya menggerutu.


Ngeonggg


"Eh?" Ia segera mengikuti suara tersebut. Terlihat disamping bawah tong kosong gumpalan seperti kapas putih tengah menggeliat.


"kucing?" Myra meletakkan obor diatas tong yang tertutup, lalu perlahan mengangkat gumpalan kapas itu yang ternyata seekor kucing Persia. "Lo luka ternyata," gumamnya saat tahu ada darah dikaki depan kucing.


Myra berbalik cepat, nafasnya memburu disertai jantung yang berdetak kencang. Barusan itu ia merasa seperti ada banyak pasang mata yang mengawasinya. Tapi, setelah ia melihat sekitar tidak ada siapa-siapa atau hal mencurigakan. Hembusan nafas lega keluar dari mulutnya.


Ia mengambil obor kemudian berbalik. "AASTAGAA!"


Dubrakkk


Saking terkejutnya Ia sampai terjungkal kebelakang karena tergelincir sesuatu. Tubuh bagian belakangnya menghantam tanah, obor ditangannya jatuh. "Aduhh!"


Myra buru-buru mengambil obor bambu lalu menyorot bayangan didepannya. Tidak mungkin hantu'kan? Jika iya, semoga saja hantu takut api.


"Lo!?"


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya sebuah suara yang kembali membuat bulu kuduknya merinding.


"Gu--gue—"


"Berhenti menggunakan bahasa aneh atau aku akan membunuhmu!"


Heiii! Ancamannya biasa aja dong!


Jika begini, Myra yakin sosok itu memang bukan orang baik!! Ia harus segera pergi dan itu dipikirkan nanti, sekarang ia harus segera menjawab pertanyaan pria batu itu atau nyawanya terancam.


"K-kucing," cicitnya. Myra benar-benar merasa terintimidasi dibawah tatapan dingin sosok yang berdiri didepannya ini.


Hening cukup lama, entah apa yang dipikirkannya setelah mendengar jawaban Myra. Gadis itu sendiri tidak mau lagi untuk sekedar menjelaskan, selain karena masih gugup, dia pasti paham hanya dengan melihat gumpalan putih yang nampak nyaman digendongannya.


Tak tak


"Minimal bantu kek," Myra menggerutu melihat kepergian pria batu itu tanpa belas kasih setidaknya membantunya berdiri. Hah, memang apa yang bisa ia harapkan pada-nya? Ia masih hidup saja sudah menjadi keberuntungan.


Ia bangkit dari posisinya dengan tertatih, pinggang dan bagian bawah seterusnya terasa nyeri. Untuk jalan sebenarnya sakit, namun ketakutan lebih mendominasi dirinya. Ia segera berjalan cepat menyusul pria tadi yang sudah tidak terlihat siluetnya. "Cepat sekali..."