
Disisi lain, disebuah kastil tua tengah hutan.
Langkah kaki seorang pria yang memasuki sebuah kastil terdengar begitu jelas di malam sunyi, seperti biasa. Jubah hitam lebar miliknya nampak kotor dibeberapa bagian, noda tanah dan darah yang terlihat masih baru tak luput mengotori area wajah.
Sampai ditengah ruangan langkah itu berhenti, manik semerah darahnya mengedar ke penjuru ruangan. Instingnya tak pernah salah ketika merasa ada yang berbeda malam ini, seperti ada sesuatu yang hilang.
Secara tiba-tiba rasa sakit yang tak asing lagi datang menyerang organ jantungnya. Bagian itu seperti diremas kuat, membuatnya tak kuat menahan beban tubuhnya sendiri. Salah satu tangannya yang terbalut sarung tangan hitam, menyentuh bagian dada kiri, sedangkan tangan yang lain mengepal disisi tubuh. Wajahnya mulai berkeringat dingin, kelopak matanya memejam. Respon yang menunjukan betapa sakitnya sakit yang ia rasakan sekarang ini.
"Felix!" Teriaknya memanggil seseorang.
Asap hitam muncul dihadapan pria yang kini berlutut dilantai karena kehilangan keseimbangan akibat rasa sakit. Seorang pria lain datang dari asap tersebut, membungkuk hormat pada pria dihadapannya. "Menghadap my Lord," ujarnya dengan kepala menunduk.
"Dimana gadis itu?" Atmosfer disekitar menjadi buruk usai pertanyaan yang sebenarnya sudah diketahui jawabannya itu, keluar.
"Menjawab, my Lord. Gadis itu meninggalkan kastil sejak pagi."
Pria yang dipanggil tuan itu memejamkan matanya. Ada amarah yang bergerumul didada-nya yang masih saja berdenyut sakit. Mengetahui sesuatu menyebalkan yang baru ia ketahui. "Siapkan beberapa hama yang kuat dan tidak mudah dikalahkan. Jangan biarkan Arthur memasuki kastil ku lagi, dan mengacau."
"Laksanakan, my Lord." Jawabnya, patuh. Segera pria itu menghilang bersama dengan asap hilang yang perlahan memudar.
"Aku menyesal tidak langsung membunuhnya." Gumam pria itu sebelum memaksa bangkit dan berjalan pelan menuju suatu tempat. Ia butuh sesuatu untuk mengabaikan rasa sakit ini.
Craasssh
Satu tebasan pedang berhasil membuat kepala monster menjijikkan itu terpisah dari tubuhnya. Jatuh menggelinding ditanah yang tidak lagi bersih. Potongan tubuh monster dan kepala yang sudah tidak pada tempatnya menjadi pemandangan saat itu. Untuk kesekian kalinya tempat itu menjadi saksi bisu kebrutalan seorang pria yang wajahnya kini nampak puas melihat hasil pertarungan sengit beberapa menit lalu.
Monster besar, menjijikkan, dan tentunya kuat itu sudah menjadi bangkai sejak pedang tajam miliknya terayun. Setiap tebasannya mengundang rasa puas dihatinya sebab rasa sakit dijantungnya perlahan berkurang, meski belum sepenuhnya.
"Kau semakin ganas, kak." Sebuah suara familier terdengar, pria itu masih bergeming, tidak peduli.
"Kali ini apa alasannya?" Tanya-nya yang tak juga mendapat respon. Arthur menghembuskan nafas lelah, kakaknya dari dulu memang tidak berubah.
"Kau selalu saja seperti ini. Aku ini adikmu, tidak ada salahnya untuk berbagi cerita. Ayolah kak, kau bahkan tidak bercerita padaku soal gadis dikastilmu."
"Berhenti ikut-campur urusanku, Arthur." Balas pria itu, dingin. Tidak ada yang tahu soal apa yang ia alami kecuali 2 orang kepercayaannya.
"Aku hanya ingin tahu saja. Sejauh mana kakak memiliki hubungan dengan gadis asing itu."
Pria itu berjalan mengabaikan pertanyaan Arthur. Mengambil sebuah kain untuk membersihkan pedangnya dari lumuran darah monster tadi. Sakit itu sudah hilang meski belum sepenuhnya, dan mengingat kalimat Arthur barusan, ia terpikirkan sesuatu.
"Pergilah." Usirnya terdengar tidak terbantah.
Arthur tahu emosi kakaknya sedang tidak stabil. Ada sesuatu yang berhasil mengusik kembali kakaknya setelah sekian lama, dan tugasnya sekarang ialah mencari tahu apa itu.
"Hentikan rencana diotakmu sekarang, Arthur De Caspian.." ucap nya dengan nada rendah.
"Baiklah." Untuk saat ini, ia tidak akan membantah.
PRANGG
Pecahan cermin jatuh berhamburan. Darah menetes dari kepalan tangan yang digunakan untuk memukul cermin tersebut, mengotori lantai. Pelakunya tak lain seorang pria tegap nan tinggi yang kini menghadap lurus ke cermin yang telah sempurna pecah, tak bersisa. Kepalan tangan itu, berdarah.
Tatapannya tajam, kesiur angin datang membawa pecahan cermin yang berserakan dilantai terbang, kembali tersusun menjadi sebuah cermin besar seolah kejadian barusan tidak pernah terjadi.
Pria itu membiarkan jubah mewah gelap miliknya meluruh ke lantai. Satu persatu kancing kemeja hitam dibuka, hingga semuanya terlepas, lalu dibuang asal. Kini cermin besar itu menampakan bayangan tubuh bagian atas pria tanpa atasan, memperlihatkan tubuh penuh luka dan darah yang masih basah.
Segaris bekas luka sepanjang jari tengah orang dewasa terlihat. Tepat dibagian dada sebelah kiri. Bekas luka yang seharusnya sudah mengering justru kembali mengeluarkan darah. Luka itu belum sepenuhnya menjadi bekas.
Nampak luka baru dibagian perut, hasil pertarungan beberapa waktu lalu. Saat salah satu monster itu berhasil memberikan tusukan cukup dalam diperutnya yang langsung mendapat balasan berupa tebasan dikepala monster.
Lengan kanan dan kiri pun tak luput dari luka. Tampilannya terlihat menyedihkan oleh sebab darah yang hampir mewarnai bagian atas tubuhnya. Namun, saat melihat pancaran manik semerah darah itu, tidak ada kesakitan sedikitpun. Pandangannya menyorot kepada bayangannya sendiri dingin dan kosong secara bersamaan.
"Jika kehadiranku hanya untuk merasa sakit, mengapa takdir sialan ini masih mengikatku?"
Detik demi detik berlalu, seiring luka baru itu perlahan hilang dengan sendirinya. Ia sebut itu kutukan. Terluka, merasa sakit, namun tak menunggu waktu lama akan sembuh. Fase yang sama ketika ia yang seharusnya sudah musnah ratusan tahun yang lalu, justru masih terlihat bugar sampai sekarang. Mati lalu hidup kembali digenerasi selanjutnya. Terus begitu hingga seseorang yang ditakdirkan sebagai pemutus takdirnya itu datang.
"Aku mengutukmu, wahai kegelapan! Hidupmu abadi namun tidak dengan luka yang diberikan Rama untukmu! Kau akan terus merasa sakit hingga titisannya kembali… kembali mengulang apa yang terjadi hari ini!"
"Seharusnya aku bunuh saja saat itu," desisnya, tajam.
Karena sejak saat itu, cahaya hidupnya perlahan redup, kemudian seperti panggilan untuknya, yaitu kegelapan, itulah dirinya.
"Satu lalat belum ditemukan, muncul lalat lain yang menambah masalah."
Darah kembali menetes karena regenerasi yang belum sepenuhnya usai, tetapi sang empu justru kembali menguatkan kepalan tangannya. Tidak peduli seberapa banyak darah menetes, tatapan mata semerah darah itu belum juga melunak pada bayangan di cermin, malah semakin tajam tatkala kilasan seorang gadis yang berlutut memohon kepadanya, terlintas begitu saja dicermin.
"Kau kira bisa lari begitu saja dariku setelah apa yang kau janjikan padaku?"
Bughh
Pyarr
Cermin kembali hancur.
"Aku benci penghianat!"
"Katakan!!" Titahnya saat merasakan kehadiran Felix dalam ruangan ini.
Felix kembali berlutut menghadap tuan-nya, "Menghadap, my Lord. Tuan Arthur mendapat undangan dari keluarga Bartels. Sebuah acara pertunangan dari putri sulung Bartels, Putri Dianna Rosemarry."
"Apa kau sudah melupakan tugas mu, Felix?"
Kepala Felix semakin menunduk, "mohon ampun, my Lord. Hamba mendengar rumor acara pertunangan tersebut hanya kedok untuk menutupi acara sebenarnya yaitu kembalinya putri bungsu keluarga Bartels yang beberapa hari mengalami kasus penculikan."
"Putri bungsu Bartels?"
"Menjawab, my Lord. Putri bungsu keluarga Bartels yang selalu disembunyikan dari dunia sejak umur 7 tahun dengan alasan yang belum pasti."
Hening menyambut setelah penjelasan itu selesai. Falix masih pada posisinya menunggu titah sang tuan untuk langkah selanjutnya.
"Kau bergerak cepat tanpa perintah dari ku, Felix..?"
Felix adalah pengawal bayangan yang juga hidup abadi, namun tanpa kematian. Setiap sang tuan terlahir kembali, tugasnya ialah mencari reankarnasi sang Tuan, kemudian membangkitkan ingatan sang Tuan kembali. Singkatnya, setelah pria itu mati, ia akan terlahir kembali digenerasi selanjutnya, dari bayi hingga berumur 7 tahun, lalu Felix datang untuk memberi ingatan hidup dari ratusan tahun lalu, lalu kembali mengabdi dan melindungi sang Tuan hingga dia pemutus takdir Tuan-nya datang.
Tugas yang diberikan dari ratusan tahun lalu tidak berubah, yaitu mencari dia, untuk segera melakukan tugasnya detik itu juga.
Namun, kali ini Felix justru melenceng dari tugas yang diberikan saat mengetahui satu kesimpulan yang bisa membantu meringankan beban sang tuan.
"Menjawab, My Lord. Hamba hanya ingin gadis itu menepati janji-nya."
Ting
Jam berdentang ketika jarum panjang dan pendek berada tepat diangka 12. Felix beranjak dari posisi berlututnya, berdiri tegak menghadap pria itu. Tidak ada lagi sikap formal pun Felix kini justru bersikap santai.
"Ah~ masa kerja ku sudah habis." gumam Felix sambil melakukan beberapa peregangan. Sejak mentari terbit ia tidak beristirahat dalam menjalankan tugas. Meski tubuhnya baik-baik saja, tetap ia merasa bosan.
Tatapannya beralih pada pria yang masih bergeming ditempatnya, raut wajah Felix kembali serius, "jantungmu tidak sakit ketika berada didekat gadis itu, benar?"
Tidak ada jawaban.
Felix juga tidak butuh jawaban itu. Ia sudah mengetahuinya. Itulah mengapa ia mengawasi gadis asing itu sejak kemarin, karena entah oleh apa, keberadaannya membawa angin segar untuk Zulka—pria yang ia layani setiap mentari terbit hingga tepat jam 12 malam, juga sahabat-nya setelah jam 12 malam hingga mentari terbit.
"Aku tidak membutuhkan-nya." Zulka berucap dingin. Dia benci bergantung pada orang lain sejak dulu.
"Tetapi, jantungmu membutuhkannya." balas Felix sungguh-sungguh. Entah dalam mode pengawal atau sahabat, sikap pedulinya pada pria itu tidak pernah berkurang.
"Kau tau apa yang ku butuhkan."
"Haah, baiklah. Aku tidak akan memaksa, tetapi setidaknya gadis itu harus membalas Budi kebaikanmu, dia harus menepati janjinya."