DESTINY LINE

DESTINY LINE
Novel anonim



"Pakettt!!!"


"SEBENTARRR!" Pintu terbuka dari dalam, menampilkan seorang gadis dengan tampilan kucel, rambut acak-acakan, dan mata sayu khas bangun tidur. "berapa bang?" tanyanya sambil menguap lebar.


"Totalnya jadi 99.900" sang kurir menyebutkan nomila yang harus dibayar. Myra lantas memberikan selembar uang merah kepada kurir tersebut. "Nih, thanks bang."


Brakk


"Yeayy novel gue dateng." Hilang sudah kantuk yang dirasakan tadi berganti pekikan bahagia. Novel yang ia pesan Minggu lalu sudah sampai, ia tidak sabar untuk menyelesaikannya.


"Mumpung besok libur kerja." Kerja part time sebagai karyawan rumah makan disela kesibukannya sebagai pelajar. Lelah itu pasti, namun semua itu akan larut dalam setiap untaian kata yang berbaris rapi dalam novel.


"Garis takdir?" gumamnya setelah mentranslet judul buku yang berbahasa Inggris tersebut digoogle.


Myra berjalan menuju meja didepan jendela kamarnya. Disana sudah lengkap keperluannya untuk beberapa jam kedepan, seperti kopi, cemilan, air panas, bahkan se-pack tissue yang baru ia beli sepulang kerja tadi.


Sore sudah berganti malam saat Myra berhasil menyelesaikan bacaannya. Gumpalan tissue-tissue kotor berserakan memenuhi lantai bawah mejanya yang semula bersih. Air mata masih mengalir dipipinya padahal akhir cerita adalah bahagia.


"Arelios gak salah demi perempuan yang dicintai, tapi kenapa harus mati sebagai akhir dari Zulka?"


Novel ditangannya ini memang benar adaptasi dari kisah Ramayana versi modern. Secara garis besar, alur cerita sama, hanya berbeda dibeberapa bagian yang merupakan imajinasi penulis sendiri. Sebelumnya, ada catatan juga dari penulis di lembar akhir, jika cerita 'destiny line' hanyalah karangan fiktif tanpa berniat mengubah tatanan cerita rakyat yang sudah ada.


"Dewi Shinta... Disini diganti dengan nama Dianna. Definisi wanita idaman. Sudah cantik, mempesona, lemah lembut, setia lagi. Beruntungnya Rama." Entah senyum apa yang ditampilkan myra sekarang. Dibalik kesempurnaan dua tokoh utama, ada sang antagonis cacat sebagai pelengkap sebuah cerita.


Dia memang memiliki kekayaan, ketenaran, kekuasaan. Namun, ia tidak bisa mendapatkan hati Dewi Shinta yang sudah terlanjur setia pada sang kekasih.


"Gilakk gue gak pernah bisa se-emosional ini cuma gara-gara novel. Asli mah rekomend banget nihh." Wajah yang sudah kucel tambah kucel karena air mata, namun Myra tidak memusingkan itu. Ia kini fokus mencari nama penulis novel ini, barangkali ada karya lain yang bisa ia baca juga.


"Lah gak ada nama penulis?" Baru ia sadari ternyata tidak ada nama atau keterangan tentang penulis. Hanya catatan kecil perihal alur novel tadi.


"Ada yaa penulis kayak gini? Orang-orang gak bakal tau dia punya karya. Padahal novelnya bagus, bagus lagi kalo namanya dicantumin otomatis terkenal. Dih!" Myra tak habis pikir dengan penulis anonim itu.


Terdiam cukup lama, pikiran Myra penuh dengan isi novel itu. Berandai-andai, ingin sekali ia menolong kehidupan Rahwana disini. Zulka tidak salah jika mengharap cinta balasan setelah bertahun-tahun menunggu dengan tulus setia akan kehadiran Dianna. Takdir juga tidak salah perihal cinta yang hadir dalam sukma-nya. Tidak ada yang salah sebenarnya. Hanya saja, Myra berpikir mengapa Ramayana versi ini tetap memilih ending yang buruk untuk sang Rahwana a.k.a Zulka. setidaknya berilah dia kesempatan kedua, kesempatan mencintai orang lain hingga happy ending untuknya.


Hahhh, mau bagaimana lagi, novel ini tetaplah kisah tentang Ramayana dan Shinta, beda versi saja. Jadi, Myra hanya bisa berimajinasi sendiri tentang keinginannya memberi happy ending untuk sang Rahwana.


"Seandainya gue ada dikisah mereka, gue gak bakal biarin siapapun terluka. Takdir Rama adalah Shinta, maka biarlah itu terjadi. Rahwana... Bahkan jika ia tetap mencintai Shinta hingga akhir, gue cuma mau dia tetap punya tujuan hidup. Karena, gue rasa mati karena cinta bertepuk sebelah tangan itu terlalu sia-sia. Hmm~" monolog Myra sambil menyandarkan pipinya keatas meja. Rasanya malas sekali ia beranjak dari posisi, apalagi ia habis menangis. Matanya terasa berat, ia mengantuk. Perlahan, kelopak mata itu mengerjap kemudian tertutup. Myra jatuh tertidur.


Malam itu, takdir bekerja untuk sebuah keinginan Myra. Keajaiban terjadi padanya tepat diumurnya yang ke-19 tahun. Ya, bahkan Myra sendiri lupa malam ini adalah ulang tahunnya.


Angin berhembus entah dari mana. Lembaran novel tersapu angin, hingga berhenti dan menampilkan halaman kosong dengan satu bait tulisan.


"Selesaikan apa yang kamu mulai, meski itu hanya sebuah keinginan kecilmu."