
"Sudah."
"Sekali lagi, Putri."
Gadis itu menjauhkan mulutnya dari sendok obat yang diarahkan untuknya. Obat encer, bewarna gelap, dan sangat bau. Manusia waras mana yang mau meminum obat yang pahitnya seperti mengunyah tanaman Brotowali itu. Jika ada tentu itu bukan dirinya.
"Aku sudah menghabiskan setengahnya sesuai perjanjian kita. Jangan paksa aku lagi, atau aku benar-benar akan memuntahkan semua isi perutku." Sang gadis menggerutu diakhir kalimatnya. Wajahnya tertekuk dengan suasana hati cukup buruk.
"Mohon ampun, Putri. Ini semua demi kebaikan putri sendiri. Tubuh putri masih lemah, Tn bartels berpesan pada saya untuk terus memantau kesehatan putri." jawab wanita muda dengan pakaian pelayan. Jasmine, nama pelayan itu.
Gadis bersurai hitam dengan beberapa helai bewarna merah itu mendengus sebal. Belum cukup keterkejutannya saat membuka mata, kini ia harus menerima perhatian berlebihan dari orang-orang yang mengaku sebagai orang tua-nya.
Ya, gadis itu Elmyra Maharani, salah satu manusia diantara jutaan umat didunia ini yang mengalami hal aneh dan tidak masuk akal. Ayolah siapa yang akan percaya jika ia adalah jiwa asing dari dunia yang berbeda?
Tau-tau dipanggil tuan putri, diperlakukan bak kesayangan, pelayanan yang bahkan belum pernah ia dapatkan sebelumnya. Hingga ia akhirnya mengerti, itu semua karena tubuh yang ia tempati ini. Putri Oriona Egelwich Bartels namanya.
Siapa dia?
Pemeran figuran dalam novel 'Destiny line'. Adik tiri dari pemeran utama wanita, Dianna Rosemarry Bartels sekaligus umpan untuk memancing kehadiran pemeran utama pria dan pertemuannya pada Dianna. Lewat sayembara yang diadakan atas hilangnya Putri bungsu Bartels, dan pada akhirnya dimenangkan oleh Allerios Dizon Dardapati.
Disini Myra mulai menyadari asal kesialannya dalam beberapa hari ini, tak lain karena alur novel yang sudah berjalan. Sesuai yang tertulis, Allerios yang menemukannya, dan sebagai imbalan Putri Dianna bersedia menerima pinangan dari putra kedua keluarga Dardapati tersebut.
"Sudahlah, Jasmine. Ayah tidak akan tahu soal itu."
"Putri—"
"Aku ingin jalan-jalan." potong Myra, cepat. Dikurung dalam sangkar emas dan segala kebutuhan yang lengkap tidak menjamin jiwa bebasnya tunduk begitu saja. Ia butuh angin segar, ditambah mimpi berulang yang beberapa hari ini ia alami jujur membuatnya pikirannya kusut. Ia terus dihantui akan suatu misi yang mana ia sendiri tidak paham apa maksud misi tersebut dan siapa yang dimaksud.
Sekilas ada raut terkejut di wajah pelayan Jasmine. Mungkin dia mulai menyadari perbedaan nona-nya yang dulu dan sekarang. Namun, Myra sama sekali tidak peduli. Ia sendiri tidak tahu bagaimana karakter persis Oriona yang asli, kalaupun tahu ia yakin seratus persen sikap keduanya akan bertolak belakang.
"Putri ingin berjalan-jalan keliling mansion?"
Myra berfikir sejenak, "mungkin mengelilingi mansion ini tidak buruk. Diluar itu aku tidak yakin akan mendapat izin dari ayah." Meski belum memiliki interaksi lebih dengan orang tua Oriona, namun ia sudah bertemu dan bisa ia lihat kasih sayang besar yang terpancar dari sorot mata mereka. Ketulusan yang besar dan tak mau kehilangan.
"Baiklah, Putri."
"Oriona..?"
Gadis itu, Myra atau bisa kita panggil dengan nama Oriona sekarang—menoleh pada seorang gadis cantik yang datang menghampirinya.
"Kau…?"
Dianna menutup mulutnya dengan tangan. Jadi, rumor itu benar, adiknya sedikit melupakan ingatannya setelah ditemukan. Kesedihan dan perasaan bersalah semakin besar dihatinya. Semua ini tidak akan terjadi jika ia lebih perhatian pada sang adik. "Aku Dianna, kakakmu," katanya lirih.
"Kau tidak mengingatku?"
Oriona tidak bisa menyembunyikan raut tak enak-nya. Bukan karena tidak ingat, tapi memang ia bukanlah Oriona yang asli. Soal Dianna, tentu ia ingat dengan pemeran utama perempuan favoritnya itu. Tokoh yang memerankan takdir Dewi Shinta.
"Kau kakakku," jawab Oriona sambil tersenyum tipis.
Dianna ikut tersenyum, tubuhnya bergerak maju membawa Oriona kedalam pelukannya. "Maafkan aku karena lalai menjaga mu. Ku mohon jangan tinggalkan kami lagi, oke?"
Ia bingung harus merespon bagaimana selain tersenyum mengiyakan. Jiwa asing sepertinya mana tau apa yang telah terjadi tanpa ingatan dari raga yang ditempati. "Aku tidak akan mengulanginya lagi, kak."
"Kau ingin jalan-jalan?" Tebak Dianna setelah mengurai pelukan keduanya. Oriona mengangguk.
"Kau mungkin lupa dengan kesukaan mu. Ayo, akan kutunjukan taman bunga milikmu." Dianna menggandeng tangan Oriona dan menuntunnya pelan, menuju taman bunga yang dimaksud.
Oriona pasrah saja mengikuti Dianna. Ia masih bingung bagaimana menyikapi perlakuan Dianna padanya yang jujur sejak awal lahir didunia ini—dunia Myra— tidak pernah sekalipun diperlakukan dengan penuh kelembutan seperti ini. Rasanya aneh, ketika kalian seorang gadis independen sejak mengenal dunia, terbiasa dengan suara keras, dan tuntunan kemandirian, tiba-tiba menjadi gadis yang selalu dilimpahkan perhatian dan kelembutan ditengah keluarga penyayang.
"Apa?" Beo Oriona merasa aneh dengan panggilan yang Dianna berikan.
Dianna tersenyum lembut. Seketika aura keanggunan miliknya keluar. Silau sekali.
"Begitulah kami memanggilmu. Oriona–Ona."
"O-oh." Sebelumnya, Ia hanya seorang gadis penyendiri tanpa teman. Jadi, ketika seseorang tiba-tiba sok dekat dengannya, ia bingung harus merespon bagaimana.
"Kau terlihat berbeda, adik." Dianna menuntun Oriona menuju sebuah kursi taman yang ada disana.
"Apa begitu?"
Dianna mengangguk, "tapi begini lebih baik. Dirimu tidak lagi memberikan ekspresi jutek ketika berhadapan denganku."
Oriona hanya tersenyum canggung. Ayolah, ia bahkan tidak tau seperti apa itu Oriona. Hah, daripada memusingkan identitas nya bukankah lebih baik, ia mencari tau kabar hubungan kedua peran utama.
"Kakak aku dengar, seseorang mendapat hadiah besar dari ayah karena telah menyelamatkan nyawaku. Kalo boleh tau, siapa sosok beruntung itu kak?"
"Emm? Aku mendengar dia ialah putra kedua Dardapati, Allerios."
"Lalu hadiah apa yang akan ayah berikan?"
Keterdiaman Dianna membuat pikiran Oriona tertuju pada alur novel. Diceritakan, Dianna pada awalnya ragu menerima pinangan dari Allerios karena mempertimbangkan banyak hal, terutama dia sendiri belum mengenal pria itu. Dianna tidak ingin menikah dengan seseorang tanpa pertimbangan yang matang. Meski asal usul Allerios sangat jelas, namun tidak menampik sikapnya bisa saja tidak seperti kebanyakan orang bicarakan. Ya, seperti itulah pemikiran Dianna.
"Ona, bagaimana pendapatmu tentang kakak ipar?"
Oriona tersenyum senang karena tebakannya benar. "Ouh, apa kakak ku ini akhirnya menerima lamaran dari seseorang?" tanya-nya sambil mencolek lengan Dianna, menggoda gadis itu.
"Ah, apa maksudmu?" Dianna tersenyum malu-malu. Nampak sekali semburat merah muda dikedua pipi gadis bersurai brown caramel itu.
"Kenapa kak? Aku hanya bertanya, mengapa dirimu sampai malu-malu seperti itu?" Oriona terkikik geli melihat Dianna yang semakin salah tingkah. Ternyata begini rasanya menggoda seseorang apalagi gadis anggun dan pemalu seperti Dianna. Hmm, apa sebentar lagi kapal Allerios-Dianna akan berlayar?
"Berhenti adik! Sejak kapan kamu pintar menggoda?" Dianna bingung mengenai perubahan adiknya, namun tidak bisa disangkal sebetulnya ia sangat malu digoda seperti ini. Apalagi pelakunya adalah Oriona, adik-nya yang kembali dengan sikap yang berbeda. Efforia-nya terasa berbeda.
Oriona hanya tersenyum jahil menanggapi. Ia tidak akan puas sebelum mendapat apa yang ia mau. "Jadi, siapa pria yang berhasil membuat kakakku tersipu malu seperti ini, hmm?"
"Oriona!!" Pekik Dianna, benar-benar malu. Adiknya kini pintar sekali menggoda-nya.
"Hahaha…" gadis itu tertawa lepas. Instingnya mengatakan untuk lari ketika melihat wajah kesal kakaknya.
"Kemari, Onaaa!" Dianna mulai mengejar Oriona yang sudah lebih dulu lari.
"Kejar Ona kalo bisa, wleee.."
Jadilah aksi kejar-kejaran oleh kakak beradik itu. Oriona berlari menuju pohon delima yang tumbuh ditengah taman bunga, dibelakangnya ada Dianna yang mengejar. Kali ini, gadis itu benar-benar melupakan sikap anggun dan dewasanya setelah berhadapan dengan Oriona yang sekarang.
"Berhenti adik!!"
Oriona terus menoleh kebelakang membuatnya lalai, jika didepannya terdapat akar pohon yang keluar. Tanpa bisa dihindari, kakinya tersandung akar tersebut.
Brukk
"Aww,"
"Heii!" Dianna terkejut melihat Oriona terjatuh. Namun, ia tidak sempat berhenti, kakinya lebih dulu ikut tersandung kaki Oriona. "Astaga DIANNAA!!" Teriak Oriona refleks menyebut nama sang kakak, saat tubuh berat Dianna justru menimpa tubuhnya yang kurus.
Dianna tertawa tanpa rasa bersalah.