DESTINY LINE

DESTINY LINE
Mimpi dan misi?



Myra memasuki kastil dengan mudah sebab pintu kastil yang masih terbuka. Seperti saat keluar tadi, gadis itu tetap saja tidak bisa berhenti mengagumi interior kastil yang sebelumnya belum pernah ia lihat. Baru ia sadari juga ternyata hanya satu lampu besar ditengah ruangan seluas lapangan sepakbola ini.


"Untuk apa kau membawa benda menjijikan itu?" Suara itu lagi-lagi terdengar membuat langkahnya spontan berhenti.


"Benda menjijikkan?" Dibandingkan gugup, Myra justru fokus pada kalimat yang baru saja diucapkan pria itu. Otaknya berpikir benda apa yang dimaksud. Apa maksudnya—pandangannya turun pada kucing dalam gendongannya.


"Maksud lo—" ucapannya terhenti saat ingat ucapan pria itu beberapa saat yang lalu, "begini, benda menjijikkan apa yang kau maksud, tuan?" ulangnya tentu dengan logat yang sama seperti pria itu.


Pria yang berdiri berjarak kurang 10 meter darinya terlihat menampilkan wajah malas. Tatapannya menajam pada gumpalan putih yang baginya sangat menggangu pemandangan matanya. "Bodoh."


"Heiii—" Baru akan menyuarakan protesnya, Myra lebih ditinggal pergi oleh pria aneh itu.


"Ingat posisimu disini, jangan menyentuh sesuatu apapun yang bukan ranahmu." ucapnya sebelum menghilang dibalik belokan koridor.


Gadis itu tidak menjawab, namun otaknya sudah memahami maksud itu.


Ngeong


"Uh baby, maaf aku sampai melupakan mu. Ayo, aku akan mengobati lukamu." Myra melangkah menuju dimana kamarnya berada. Ia harus mengobati sang kucing dan bergegas tidur agar esok bisa memikirkan langkah selanjutnya.


Ruangan serba putih tanpa ujung menjadi pemandangan yang bisa ia lihat sekarang. Dimana ini? Selagi otak nya terus bertanya-tanya, langkah kakinya terus berjalan, hingga berhenti disatu titik.


Dihadapannya seperti ada batas tak kasat mata, batas yang membatasi antara dirinya dan kilas kejadian asing diseberang batas itu. "Sebenarnya dimana ini?"


Sosok yang tampak gagah dengan jubah sulaman mewah itu terlihat dalam posisi berlutut dan kepala tegak menghadap sang lawan bicara. Seperti mengatakan sesuatu pada sosok lain didepannya yang tidak bisa ia lihat, kumpulan kabut putih menghalangi pandangannya .Tapi, ia yakin jika keduanya sedang melakukan dialog dimana sosok yang terhalang kabut itu menolak, hingga membuat sosok gagah itu tampak marah, kepalan tangannya menguat. Sayangnya, ia tidak bisa melihat dengan jelas wajah sosok itu.


Adegan berganti. Kini pemandangan berganti disebuah hutan yang nampak rimbun akan pepohonan. Sosok yang ia lihat tadi ada disana bertarung dengan makhluk besar nan menyeramkan, seperti monster. Namun, itu tidak terlihat seperti pertarungan dimana kedua pihak saling menyerang. Yang ia lihat sekarang adalah sosok tadi—pria gagah berjubah sulaman rumit bewarna merah bercampur hitam dan emas— justru tidak melawan bahkan terlihat pasrah disetiap serangan sang monster. Ia refleks menutup matanya saat monster menyeramkan itu melakukan serangan terakhir yang menjadi akhir hidup dari sang lawan.


Crashh


Tubuh yang tercabik-cabik dan kepala yang sudah tidak pada tempatnya. Ia seketika mual.


"Tadi itu, siapa?" Siapa dia dan mengapa sosok gagah itu justru tidak melawan? Ia yakin sosok itu mampu, bahkan bisa menang. Bukan malah mengalah dan memilih kematian.


Ingin rasanya ia beranjak, tetapi kakinya seperti ditahan. Ia tidak bisa melangkah barang selangkah pun, seakan kilasan itu memang diperlihatkan kepadanya.


Hingga adegan yang ketiga, masih dengan sosok yang sama.


Berlatar ditaman bunga yang seharusnya indah, namun tidak lagi karena ada adegan berdarah disana. Lagi-lagi pertarungan oleh sosok itu melawan seseorang pria yang wajahnya tidak bisa ia lihat dengan jelas. Pria bersurai light brown yang nampak bercahaya terkena sinar matahari. Pakaiannya tidak kalah mewah dengan sosok itu.


Dua pedang yang nampak tajam beradu menciptakan bunyi dentingan yang memekakkan telinga. Berbeda dengan adegan kedua tadi, kali ini sosok itu melawan dengan segenap kekuatan. Terlihat dari setiap gerakannya yang begitu gesit menangkas serangan lawan. Sayangnya, kemenangan memang bukan untuknya, entah karena apa tiba-tiba saja sosok itu sudah berlutut kalah dengan pedang pria bersurai light brown itu menyentuh lehernya.


Ia langsung menutup mata, sudah menduga apa yang akan terjadi kala melihat pedang itu terangkat, tertuju pada dada sosok itu. Mentalnya sedikit terguncang, kakinya melemas. Meski, hanya sebuah kilasan, tapi tetap saja ia tidak terbiasa melihat adegan berdarah seperti itu.


Batas itu hilang. Menyisakan ruangan hampa dengan dirinya yang berdiri lemas disana. Kakinya sudah bisa digerakkan, tanpa bisa menahan diri lagi, ia jatuh terduduk. "Huwekk!" mual ia rasakan, masih terbayang jelas kejadian tadi meski sudah berakhir.


"Yang terjadi biarlah terjadi..." Sebuah suara menggema diruangan tanpa ujung itu. Ia melihat sekitarnya yang tidak ada seorang pun kecuali dirinya.


"Setiap awal akan selalu ada akhir. Maka, selesaikan apa yang sudah kamu mulai." suara itu terdengar lagi.


Ia bingung kepada siapa suara itu tertuju. Untuknya?


"A-apa? ap-pa yang harus aku selesaikan?" tangannya terbata-bata. Batinnya masih syok mengalami semua ini.


"Tugasmu! Selamatkan dia!"


"Dia... Siapa?"


"Jiwa yang berputus asa."


"Siapa? Siapa yang kau maksud?"


Tidak ada jawaban. Ia bangkit dari posisinya, melihat sekitar sebelum cahaya menyilaukan datang, menghalangi pandangannya.


"HAAA.."


Ia menyibak selimut, kemudian berjalan menuju jendela kamarnya. Membuka perlahan udara sejuk dan pemandangan pagi hari berhasil mengembalikan suasana hatinya. Kicauan burung terdengar, dari tempatnya sekarang ia bisa melihat pepohonan yang besar dan rimbun daunnya tumbuh disepanjang mata memandang. Mungkinkah ia kini berada ditengah hutan..?


Perhatiannya teralih pada gumpalan bulu putih bersih yang semalam ia bawa. Ia terkekeh kecil, kucing sejenis Persia dengan warna mata cokelat keemasan itu tengah tertidur pulas diatas karpet bulu dekat ranjangnya. Bulunya begitu halus untuk ukuran kucing liar. Ya, ia anggap kucing itu tanpa pemilik, karena ia sendiri tidak tahu darimana hewan itu berasal.


Sebuah amplop cokelat terlihat menyelip diantara tubuh sang kucing dengan karpet bulu. Ia yang penasaran pun mengambil amplop tersebut dan mulai membacanya.


Lakukan tugas pertama-mu dari sekarang!


Keningnya mengernyit masih belum mengerti. Melihat lagi ternyata masih ada satu surat didalam amplop.


Misi utama : Lepaskan belenggu keputus-asa'an dan buatlah satu tujuan untuk-nya!


Apa maksud dari tulisan itu? Ia jadi teringat perihal mimpi-nya, atau kedua hal itu memang berkaitan? Dirinya harus melakukan misi, tapi masalahnya kepada siapa target misi ini? Ia bahkan baru sampai didunia antah berantah ini, namanya sendiri pun ia tidak tau.


"Aishh, bisa gila aku lama-lama." Tak ingin berpikir lebih jauh, Myra memutuskan untuk keluar dari kamar. Perutnya sudah keroncongan meminta diisi, dan itu membuatnya tidak bisa berfikir jernih.


"Sekarang, apa yang harus aku makan?" Kakinya sudah lelah berkeliling kesana-kemari hanya untuk mencari letak dapur. Jangankan ketemu, kakinya dibuat mati rasa karena terus mondar-mandir ditempat yang sama. Baiklah, ia tersesat sekarang.


Salahkan kastil ini yang lantai satu saja luasnya melebihi lapangan sepak bola didunianya. Diperburuk ia yang sebenarnya buta arah. Astaga, Ia harus bagaimana sekarang? Melewati lorong-lorong tanpa pencahayaan, ia benar-benar takut sekarang.


"Kiri? Kanan?" gumamnya bimbang.


Setelah berpikir lagi, ia memutuskan untuk belok kiri. Berjalan dan terus berjalan, banyak pintu-pintu dilorong itu, tapi ia masih ingat peringatan semalam, tidak boleh kepo bahkan menyentuhnya.


Ada satu pintu besar diujung lorong, ia membukanya, dan pemandangan dibaliknya membuatnya benar-benar tidak bisa berpaling. "Wahhh..."


Myra segera berlari menuju salah satu tanaman rambat, yang tumbuh sayuran berbentuk lonjong disana. Yap, mentimun. Tidak hanya itu, di tempat yang sepertinya kebun ini ada banyak sekali jenis sayuran, mulai dari mentimun, kol, tomat, cabai dan lain sebagainya. Fokus Myra teralih pada satu pohon besar dipinggir sungai kecil. Astaga, ada sungai dan lihat! Buah apel nampak lezat bergantungan disetiap dahannya.


"Ouh aku pasti menyesal jika tidak mencobanya."


Ia bahkan abai dengan larangan pria itu. Menurutnya, tidak salah jika ia hanya meminta sedikit makanan dari kebunnya. Ia lapar, dan sampai saat ini pria itu juga tidak nampak batang hidungnya. Hanya beberapa untuk mengganjal perut, ia janji tidak akan merusak kebunnya.


Disinilah ia sekarang, diatas salah satu dahan pohon apel yang paling dekat dengan satu rumpun apel yang sudah masak. Tak terhitung banyaknya buah yang ia makan. Jangan percaya atas perkataan nya yang hanya makan sedikit, manusia itu memang tempatnya lupa dan tak tau diri. Ia bahkan tak sadar ada yang mengawasinya dari salah satu balkon yang menghadap langsung kekebun belakang.


"Dia memanjat seperti monyet."


Pfftt


"Tuan, perkataan Anda terlalu jujur," seseorang dibelakangnya mengomentari. Hampir meledakkan tawa-nya mendengar ucapan spontan itu.


"Aku mengatakan yang sebenarnya."


"Lalu langkah apa yang akan tuan ambil saat ini?"


Terjadi keheningan sesaat, "Tidak perlu, kehadirannya bukanlah ancaman. Lagipula, kakak pasti sudah mengetahuinya."


Pria yang sepertinya bawahan itu menampilkan ekspresi keberatan, "Tetapi, gadis itu membawa—"


"Dia tidak mengetahuinya. Biarlah dulu, kita lihat apa tujuan penyusup itu kemari."


Sang bawahan mengangguk patuh, "Baik, tuan."


Seseorang yang dipanggil tuan itu menatap lurus kedepan tepatnya pada seorang gadis yang nampak nyaman diatas dahan pohon apel. Entah apa yang merasuki kakaknya hingga mau menerima orang asing dikediaman ini. Ia merasa itu bukan sesuatu yang biasa.


"Hardey, menurutmu mengapa kakak membiarkan gadis itu berkeliaran bebas disini?"


"Menjawab tuan. Mungkin saja Tuan Cestaro menginginkan suasana baru, atau nona itulah yang berhasil menaklukkan hati kakak anda."


Senyum kecil terbit begitu mendengar penuturan pengawal pribadinya, "begitu yaa? Tapi, Hardey kakak bukan pria seperti itu."


Sekali A tetaplah A, itulah kakaknya. Jadi, amat mustahil jika kakaknya dengan memudah menjatuhkan hati disaat ada wanita lain yang sudah mengisi hatinya.


Ah, sayang sekali.