DESTINY LINE

DESTINY LINE
Danger



"Salam putri Oriona… Maafkan atas kelancangan saya, putri."


Opriona menatap pengawal didepannya yang menundukan kepala hormat dengan ekspresi takut dan panik. Jujur saja, ia belum terbiasa dengan perlakuan yang ia terima.


"Tidak apa. Aku tidak sengaja melihat pintu ini terbuka, aku hendak menutupnya." Ucapnya yang tentu sebuah kebohongan. Tidak mungkin ia jujur, bisa saja pengawal ini melaporkan tindakannya pada tuan rumah.


"Tidak perlu minta maaf." Sela Oriona saat melihat gelagat pengawal itu yang ingin kembali minta maaf.


"Aku akan kembali, tolong urus kuda milik Ansel."


***


Elmyra bukanlah gadis penakut, namun juga bukan gadis pemberani. Penampilannya dulu yang terkesan tomboy dan cuek, membuatnya secara tidak langsung mendapat pengabaian dan beberapa kritikan pedas.


Jarang ada yang datang lebih dulu dan menawarkan pertemanan padanya. Kebanyakan dari mereka langsung ilfeel melihat penampilannya yang jauh dari kata anggun dan feminim. Tetapi, karena itulah para penjahat pun tidak ada yang berminat menjarahnya. Itu menjadi poin plus dan kelebihan kecil yang ia syukuri. Dirinya dulu jadi tidak perlu susah payah untuk melindungi sesuatu yang berharga, penampilannya tidak mengundang minat siapapun.


Namun, setiap kelebihan tentu ada kekurangan, dan kekurangannya sejak dulu menjadi Elmyra atau sekarang Oriona tetaplah sama. Ia seorang yang buta arah, apalagi ditempat baru. Lihatlah, sekarang ia sudah seperti orang gila yang tersesat diwilayah sendiri.


Tadi, saat ia kesini bersama Ansel, ada sebuah mobil yang mengantar mereka, karena letak tempat ini yang cukup jauh dari mansion utama. Akan tetapi, masalah utamanya ia tidak tahu dimana ia bisa mendapat tumpangan itu lagi, semakin berjalan, semakin ia merasa asing dengan tempat yang dipijak.


Helaan nafas keluar dari mulutnya, dimana semua orang? Pengawal atau penjaga satu pun tidak terlihat.


Sekitarnya nampak seperti kebun yang sudah lama tidak terurus. Banyak tanaman liar dan semak belukar yang tumbuh hampir mencapai betisnya. Ada kolam yang airnya kotor, bewarna keruh, batuan yang berlumut–TUNGGU! Manik tosca-nya segera menatap sekitar lebih jeli. Ia tidak mungkin lupa tempat ini.


"Apa-apa'an ini!" Tangan Oriona terangkat, menutup mulutnya, terkejut. Bagaimana bisa ia kembali ketempat ini?


"Bangun Myr, bangun!" Oriona mencoba memukul keningnya, menutup mata dan terus merapa, agar kembali sadar. Barangkali dirinya sedang berhalusinasi. Saat membuka mata lagi, tempat ini masih sama.


Bagaimana ceritanya ia kembali ke kolam kotor tempatnya tenggelam dua hari lalu?!


Sreeekkk


Oriona menoleh, waspada. Asal suara itu dari semak setinggi lutut yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Penasaran, kakinya melangkah mendekati semak-semak itu.


Satu langkah


Dua langkah


Tiga langkah


Tangannya terulur hendak menyibak semak tersebut, sebelum akhirnya….


Meong


"Hahh~"


Sepasang mata cokelat keemasan dari hewan berbulu lebat putih, tengah menatapnya polos. Gadis itu spontan menghela nafas lega. Hanya seekor kucing…


"Baby, kau disini?" Pulih dari keterkejutan, Oriona segera mengangkat hewan berbulu itu kedalam gendongan nya. Bagaimana bisa kucing itu, disini? Tetapi, jika itu benar, berarti ini memang tempat pria batu itu. Lagi-lagi kebingungannya bertambah. Mengapa semua terjadi tidak masuk akal? Tidak ada portal atau semacamnya yang ia lewati, namun tiba-tiba saja langkahnya sudah berpijak ditempat yang tidak asing ini.


"Hei, mpuss, menurutmu mengapa aku bisa sampai ke tempat ini, lagi? Apa mansion Bartels bersebelahan dengan kastil pria batu itu? Tapi, tidak mungkin…" monolog Oriona, sambil mengelus bulu hewan digendongannya.


Sudah sampai sini, tidak ada pilihan lain selain mencari jalan keluar. Langkah kakinya, membawa Oriona lebih dekat dengan kastil megah itu. Ah, iya… baru ia sadari ternyata kastil yang pernah ia tinggali itu sangat besar. Bentuknya dari luar terlihat seperti bangunan yang sering ia lihat dari film Disney.


"Pintu masuk sebelah mana…?"


Lagi-lagi ia kebingungan mencari jalan keluar. Hingga tiba-tiba—


BOOMMM


"Akkhh…"


Oriona merasa sakit dibeberapa bagian tubuhnya. Lengannya yang tidak tertutup sempurna oleh baju tergores duri tanaman. Perih terasa, begitu juga diwajahnya. Ia belum berani membuka mata–yang refleks terpejam saat terhempas tadi–takut terkena duri semak belukar.


Meskipun begitu, telinganya masih mendengar dengan jelas suara-suara seperti pertarungan. Bunyi tebasan pedang dan geraman binatang, namun suaranya terdengar lebih berat, besar dan menakutkan.


Oriona mencoba bangun, pinggangnya yang sakit membuatnya kesulitan. "Oh my god." Pekiknya tertahan saat rambutnya menyangkut disemak-semak.


Crassh


Boomm


Krakkk


GRRRRR


Kembali terkejut, Oriona spontan meringsut mundur. Manik tosca-nya membola melihat pemandangan didepannya. De Javu dirinya merasa pernah disituasi seperti ini. Pemandangan itu nampak tidak asing diingatannya.


Seorang pria bersurai hitam pekat bertarung melawan binatang aneh nan menyeramkan. Bentuknya seperti singa namun memiliki tanduk kerbau. Ekornya panjang, memiliki mata yang sepenuhnya putih, bulunya nampak lebat dan ukurannya sangat besar. Tiga kali lipat lebih besar dari pria yang melawan binatang tersebut. Tidak! Daripada binatang, itu lebih bisa disebut monster.


Perutnya seketika mual, pedang pria itu berhasil menebas lengan Monster, hingga putus dan darah mengucur.


"Aku harus pergi–Hoekk!" Darah monster itu bewarna hijau tua menjijikkan.


Namun, sepertinya itu tidak mudah. Kakiinya yang terus melangkah mundur tidak sengaja terjerembab ditanah yang berlubang. Tubuhnya lagi-lagi jatuh.


"Tidak.. tidak.!" Oriona mulai panik ketika eksistensi nya justru diketahui oleh sang monster dan pria itu.


Monster tersebut yang mengetahui ada mangsa lain, segera mendekat. Ekspresi-nya semakin buas kala mencium bau darah yang terasa lezat.


Oriona berusaha melarikan diri. Ia menarik kakinya yang terlilit rumput liar dengan kesusahan. Tangannya gemetar, panik dan takut melihat monster itu yang semakin dekat.


Dalam situasi genting seperti ini, air mata Oriona meleleh keluar. Jantungnya berdetak kencang karena takut dan panik. Tolong siapapun, jauhkan monster itu darinya!


Sedangkan disisi lain, punggung pria bersurai hitam gelap itu nampak membungkuk sedikit dengan tangan lain yang menyentuh dada sebelah kiri, tepat dimana jantungnya berada. Nafasnya yang memburu perlahan teratur, meski pandangannya masih tidak fokus. Aroma manis menenangkan tercium indera penciumannya yang tajam. Aroma yang tidak asing lagi, aroma yang berhasil mengendurkan setiap sistem saraf pada tubuhnya. Jadi, apa ini karena gadis itu… kembali?


"AAAA…"


Kesadarannya kembali. Pandangannya naik, hingga sorot semerah darah itu menajam saat menemukan monster menjijikkan yang menjadi lawan nya beberapa waktu lalu beralih mengincar seseorang.


Secepat kedipan mata, tubuhnya melesat, mendekati sang monster. Pedang terangkat, manargetkan leher monster itu yang tengah mengayunkan kaki depannya pada seorang gadis yang kali ini memejamkan mata, ketakutan.


SPLASSHH


Leher monster menjijikkan itu putus, menggelinding, diikuti tubuh monster yang luruh ketanah. BAMM bunyi bedebam diatas tanah terdengar keras.


Darah hijau menyiprat hingga mengenai tubuh bagian depan Oriona. "Ugh—"


Detik detik berlalu… Oriona memberanikan diri membuka mata. Bangkai monster menjijikkan itu tentu bukan pemandangan yang bagus. Ia beralih pada seorang pria yang ternyata juga tengah menatapnya.


Surai hitam gelap, mata semerah darah, pedang berlumuran darah ditangannya. Manik Oriona membola saat sebuah ingatan masuk ke dalam pikirannya.


"Rahwana…?" Gumamnya, pelan.


"...atau Zulka?"


Namun, sayang kesadarannya tidak bertahan lama. Oriona jatuh pingsan. Sebelum kepalanya sempurna menyentuh tanah, sebuah lengan besar menelusup dileher belakang, menahannya dari benturan tanah.