
"...atau Zulka?"
Namun, sayang kesadarannya tidak bertahan lama. Oriona jatuh pingsan. Sebelum kepalanya sempurna menyentuh tanah, sebuah lengan besar menelusup dileher belakang, menahannya dari benturan tanah.
Gadis bersurai hitam kemerahan itu masih setia menutup mata. Detik kian berlalu, hanya gadis itu–terbaring diatas tanah rumput seorang diri. Bangkai dan darah yang tadi-nya mengotori kebun tak terawat tersebut, hilang, bersih kembali seakan tidak pernah terjadi apa-apa sekian menit yang lalu.
Dari arah semak lain, seekor kucing putih sejenis Persia datang mendekati tubuh sang gadis yang masih tidak sadarkan diri. Sepasang manik cokelat keemasan itu memancarkan kepolosan khas binatang pada umumnya. Ekornya mengibas kanan kiri. Dilihat dari sudut pandang manusia biasa, tingkah laku sang kucing dinilai normal. Namun, berbeda didunia ini, sesuatunya nampak berbeda dan tentu lebih dari apa yang bisa dibayangkan oleh logika.
Kaki kanan depan milik sang kucing bergerak, menyentuh telapak tangan Oriona. Sinar keemasan muncul dari sana. Dalam sekejap, tubuh gadis itu beserta kucing menghilang. Menyisakan kesunyian di kebun terbelangkai dibelakang kastil megah itu.
Sejak awal, binatang berbulu cantik itu memang bukan kucing biasa.
Kesadaran menyapa Oriona. Kelopak indah itu membuka, mengerjap pelan, hingga terbuka sempurna menampilkan sepasang netra tosca menawan milik putri bungsu Bartels.
"Ugh…" Oriona memijat keningnya saat pusing mendera. Manik tosca-nya memedar mengamati sekitar. Ini adalah kamar miliknya sejak menginjakkan kaki dimansion Bartels. Oriona menundukan kepala, kembali memberi tekanan kecil pada kedua alisnya. Mencoba mengingat-ingat, apa yang sebenarnya terjadi?
Sebuah ingatan masuk, punggungnya menegang saat berhasil mengingat semua. Pertarungan antara monster dan…
Masih segar dalam ingatannya, ciri fisik salah satu pemeran utama dengan surai hitam legam gelap dan manik merah darah itu milik Zulka Cestaro Caspian—antagonis Rahwana dalam cerita Destiny line.
Dalam novel memang dijelaskan bahwa sebagai antagonis, Zulka memiliki karakter keras, buas, dan berhati dingin. Hidup ratusan tahun membuat hatinya perlahan dingin tanpa sifat kemanusiaan. Sisi manusiawi nya hilang setelah mengalami reankarnasi dibeberapa kehidupan yang berakhir memberikan luka.
Sebagai Elmyra, ia sering mendengar berita terkait berbagai macam tindakan kriminal yang terjadi disekitar. Ia acuh karena merasa itu bukan urusannya, namun sekarang menyaksikan langsung adegan kriminal seperti pembunuhan atau adegan berdarah, mentalnya belum siap. Ngeri merasuki hatinya, mengingat pedang sang Rahwana dengan enteng menebas kepala monster didetik terakhir sebelum pingsan.
"Zulka sangat menakutkan, aku harus mencari cara lain untuk mencegah peperangan tanpa berinteraksi dengan Zulka." Otak Oriona mulai berpikir, Zulka itu antagonis kejam, ia tidak akan membiarkan Dianna berurusan dengan tokoh itu.
"Tidak! Dianna terlalu baik, mungkin aku bisa mencarikan wanita lain untuk Zulka." Ya, meski menjadi antagonis kejam pun, bukan berarti dia tidak pantas bahagia. Ia juga akan tetap ditujuan awal.
Tok tok
"Putri… anda didalam?" Suara Jasmine terdengar.
"Iya, Jasmine… aku didalam. Masuklah!"
Jasmine membuka pintu, raut wajahnya lega saat mendapati sang nona baik-baik saja.
"Ada apa?" Tanya Oriona.
"Begini, putri. Hari menjelang malam, pesta sebentar lagi akan dimulai. Saya akan membantu Putri bersiap pindah kekamar yang sudah disiapkan."
"Mengapa harus bersiap, Jasmine. Itu hanya soal pindah kamar malam ini, bukan selamanya. Aku hanya perlu membawa tubuh dan beberapa buku saja untuk mengusir kebosanan." Oriona merasa tidak perlu ribet hanya sekedar pindah kamar satu malam.
Jasmine mengangguk sopan, "baik, putri."
Sebenarnya Oriona tidak suka atas ke-formalan Jasmine. Perempuan itu lebih tua dari nya, seharusnya ia yang memperlakukan Jasmine dengan sopan. "Ah ya, tolong siapkan cemilan segar, Jasmine."
Setelah kepergian Jasmine, tiba-tiba Oriona merasa ada yang salah saat Jasmine mengatakan hari menjelang malam. Pendangannya bergulir pada balkon kamar yang masih terbuka. Tidak ada matahari kecuali sinar Mega merahnya yang perlahan menghilang diufuk barat. Benar, malam hari akan segera tiba.
Tidak ada yang salah, hanya saja—TUNGGU! Bukankah ia tidak sadarkan diri di kebun terbelangkai milik pria batu yang sempat menolongnya itu? Mengapa, ia bisa sampaii dikamarnya? Siapa yang membawanya kesini–Jelas tidak mungkin tadi itu mimpi, ia bisa merasakan dengan jelas rasanya terjerembab diantara semak belukar hingga rambutnya tersangkut.
"No no itu pasti bukan mimpi," Oriona menyibak selimutnya, ada lebam keunguan dipergelangan kaki kiri, itu sudah menjadi bukti bahwa kejadian lalu itu bukan mimpi.
"Kucing?" Barulah ia teringat akan hewan berbulu itu.
"Dimana? Push push.." Oriona bangkit dan mulai mencari kucing tersebut, barangkali kucing itu juga ikut disini. Namun, sudah ia cari disekeliling kamar tetap tidak ada. Dirinya justru menemukan sebuah kertas lusuh yang sama seperti tempo lalu diatas karpet bulu.
Misi : Datang ke pesta dan alihkan perhatiannya.
"Siapa orang gila yang mengirim ini?!" Gumam gadis itu tidak habis pikir. Iya, orang gila mana yang sok-sok an bermain magic Teka teki seperti ini? Apakah lucu begitu?
Sudah dua kali ia mendapat kertas misterius yang menyuruhnya melakukan hal-hal yang tidak ia mengerti. Pertama, saat dikastil, sekarang dikamarnya. Padahal, otaknya masih kebingungan akan hal janggal yang barusan terjadi, dan apa ini? Siapa yang mengirim dan apa tujuannya?
Tiba-tiba ia teringat akan satu novel yang pernah ia baca, tentang alur cerita yang menceritakan pemeran utama bertransmigrasi ditemani sistem. Setiap hari akan ada misi yang harus dilakukan oleh pemeran utama atau kesialan yang akan didapat. Heh, apa dirinya juga akan seperti itu?
Oriona merebahkan tubuhnya dikasur dengan kaki menggantung. Hidupnya disini amat menyenangkan dalam artian ia tidak harus pusing memikirkan biaya sekolah dan makan. Tanpa bekerja, uang dan kebutuhannya sudah tersedia. Kerjaannya beberapa hari ini hanya tidur, jalan-jalan, makan, bahkan semua itu bukan kategori bekerja.
Untuk jiwa pemalasnya, semua ini adalah kenyamanan yang ia cari. Namun, jiwa bebas, sibuk, dan suka hal baru pada dirinya ternyata cukup tertekan dengan segala kemudahan ini. Ia suka rebahan dan makan enak, tetapi jika keterusan tentu ia bosan. Jadi, apa ia lakukan saja perintah dikertas itu? Lagipula, ia cukup penasaran dengan siapa yang dimaksud jiwa yang berputus asa. Apakah itu salah satu tokoh Destiny line? Bisa jadi'kan.
"Lagi, aku tidak suka dikekang. Awalnya aku merasa tidak masalah berada dikamar dengan secangkir cokelat panas dan novel action pilihan. Tapi—" senyum penuh rencana tersungging dibibirnya, "sepertinya nakal dan sedikit membangkang disini tidak buruk. Kapan lagi, aku bisa bebas melakukan apa yang aku suka tanpa perlu memikirkan resiko?"
Detik kemudian decihan kesal terdengar diruangan itu, "dulu begitu banyak tekanan yang membuat ku terpaksa menekan jiwa bebasku. Tapi, sekarang aku tidak mau lagi. Toh, hidupnya disini entah sampai kapan. Aku harus bisa memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya."
Itu seperti kamu ingin bebas ber-ekspresi, namun keadaan memaksamu untuk terus dewasa dan menahan diri. Setiap langkahmu selalu dihantui ketakutan, terbayang-bayang kemungkinan resiko yang akan terjadi jika kamu melakukan ini–padahal itu masih buah pikir negatifmu sendiri. Alhasil, terkadang kamu masih stuck disatu tempat karena takut langkah yang kamu ambil salah.
Yang tidak semua orang paham adalah kadang kala, ketika seseorang menghadapi suatu masalah sedangkan pikirannya terus dipenuhi negatif–masalah yang tadinya kecil bisa menjadi besar karena pikirannya. Aslinya, tidak seburuk itu. Semua tergantung pola pikir masing-masing orang.
Elmyra, anak pertama dari sebuah keluarga yang harus ia jaga nama baik dan ekonomi-nya. Tingkahnya tidak boleh merugikan, apalagi sampai menyusahkan ekonomi keluarga–dimana ia memiliki banyak adek kecil yang masih banyak kebutuhannya. Ia sudah hidup mandiri sedari kecil, selalu menahan diri dari kesenangan semu khas anak remaja dan menggantinya dengan bekerja keras agar lulus hingga mendapat pekerjaan yang layak.
Itu Elmyra, sekarang ia adalah Oriona. Anak bungsu yang sudah mengantongi sendok emas sedari lahir. Kenakalan apapun ia rasa tidak akan merugikan keluarga ini selain sikap protective mereka yang begitu awas akan keselamatannya.
Anggap saja, keberadaannya disini sekaligus untuk menebus apa yang tidak bisa ia perbuat dimasalalu, mengobati mentalnya yang tidak baik-baik saja sejak kecil, bayangan masa lalu yang belum termaafkan. Ah, sudahlah, kini hanya ada Oriona putri bungsu Bartels. Lupakan masa lalu, dan fokus dengan rencana kedepan.
"Aku harus pergi diam-diam, hmm~ Jasmine pasti mengawasi ku, kalo begitu…" Oriona bangkit, berjalan menuju walk in closet dikamar tersebut. Mengambil jubah dan beberapa persiapan yang akan ia gunakan nanti.
Oriona menatap barang ditangannya sambil berpikir. Rencana kabur pada malam hari tentu tidak mudah, apalagi kamarnya pindah dilantai empat. Mau tidak mau, ia harus bergerak sekarang.
"Seharusnya, ini mudah."