Dear Enemy

Dear Enemy
Depan pintu



***


Sheilla melangkah. Berjalan beriringan dengan Kenneth yang sejak tadi mengantar nya untuk berkeliling di gedung yang akan menjadi persinggahan nya juga. Sheilla sudah mulai tampak lelah, tidak ada banyak pertanyaan yang terlontar lagi dari mulut nya. Tidak seperti sebelum nya yang terus menanyakan ini itu. Menanya kan banyak hal yang mulai membuat diri nya tertarik. Langkah gadis itu mulai memberat dan kini diri nya berjalan gontai di samping Kenneth. Raut wajah nya berubah suntuk dalam seketika.


"Berapa lama lagi kita akan berjalan?" Tanya Sheilla dengan suara lirih yang spontan membuat Kenneth di samping nya itu melirik pada diri nya.


"Masih ada banyak tempat yang belum aku tunjukkan," ujar Kenneth.


"Masih berapa banyak?"


"Kita baru berkeliling setengah gedung," kata Kenneth yang sontak membuat Sheilla melongo di buat nya.


"A-apa? Baru setengah?" Sheilla menatap kakak nya itu tak percaya.


"Iya," sahut Kenneth seraya mengangguk kan kepala nya membenar kan ucapan nya.


Sheilla terdiam untuk sesaat. Ia benar-benar sudah tidak kuat berjalan lagi, belum lagi perut nya sudah mulai terasa keroncongan karena waktu sudah hampir dekat dengan jam makan siang.


Sheilla menghenti kan langkah kaki nya, membuat Kenneth berhenti lalu menoleh ke arah nya. Gadis berusia empat belas tahun yang menjadi adik nya itu tampak murung seraya mengusap perutnya.


"Kau lapar?" Tanya Kenneth yang spontan membuat Sheilla mendongak kemudian mengangguk kan kepala nya.


"Kalau begitu ayo pergi ke kafetaria," ajak nya yang berhasil membuat senyum terbit di wajah Sheilla. Dengan semangat, Sheilla mengangguk kan kepala nya.


"Kalau begitu ikut aku," Kenneth melangkah di depan. Memimpin jalan menuju tempat dimana kafetaria itu berada. Sementara itu, Sheilla mengekor di belakang kakak nya.


Tidak ada sepatah kata pun yang di lontar kan oleh Sheilla hingga mereka tiba di kafetaria dan mendapati kedua orang tua nya yang juga ternyata ada di dalam sana. Duduk satu meja bersama Nico dan Bean yang tampak nya sudah ada sejak tadi.


"Sheilla!" Callista memanggil nama nya membuat Sheilla tersenyum seketika lalu melangkah cepat menghampiri kedua orang tua nya membuat Kenneth tertinggal di belakang dan berjalan pelan mengikuti adik nya yang kini tampak kembali bertenaga.


Tiba di meja tempat kedua orang tua nya itu berada, Sheilla lantas duduk tepat di samping Callista.


"Dari mana saja kalian?" Tanya Hans yang merasa penasaran pasal nya sejak tadi diri nya mencari keberadaan mereka namun tak kunjung di temukan oleh diri nya dan Callista.


"Aku baru saja mengajak nya berkeliling dan melihat-lihat!" Ujar Kenneth yang kemudian duduk di samping adik nya. Ke empat orang dewasa itu lalu menoleh serentak ke arah diri nya.


"Benarkah?" Tanya Callista. Sheilla mengangguk kan kepala nya sebagai jawaban.


"Sekarang aku lapar," kata Sheilla sembari memandang Callista.


"Kalau begitu kau mau makan apa? Biar mama pesan kan, ya?"


"Baiklah," Sheilla menyetujui. Ia lalu menyambar buku menu yang sejak tadi tergeletak di atas meja di hadapan nya. Ia mulai di sibuk kan dengan berkutat bersama buku menu di tangan nya. Sheilla mulai sibuk memilih makanan yang hendak di pesan oleh diri nya.


"Oh ya, Ken! Kau ingin apa? Biar mama pesan kan juga. Kau pasti sangat lelah karena telah mengajak Sheilla berkeliling, bukan?" Ucap Callista.


"Ah, baiklah aku ingin..." Kenneth meraih satu buku menu lain. Ia kemudian mulai di sibuk kan dengan mencari menu makanan yang cocok untuk di nikmati oleh nya.


Setelah memesan dan menunggu hingga masak kan itu jadi, mereka lalu makan bersama di sana. di meja yang sama yang berada di ruang kafetaria.


*


"Iya. Hati-hati di jalan dan jangan lupa! Besok adalah hari pertamamu Sheilla. Jadi jangan sampai kau terlambat datang!" Pesan Nico seraya menatap Sheilla yang tampak sudah kembali bertenaga.


"Aku tidak akan terlambat," sahut Sheilla seraya sedikit tersenyum ke arah nya.


"Bagus kalau begitu, kau harus tidur dan beristirahat yang cukup malam ini. Agar dengan begitu, kau akan lebih segar ketika kau bangun."


"Iya," sahut Sheilla lagi.


"Kalau begitu, kami permisi," ucap Hans pada mereka.


Callista menatap Kenneth putra nya itu lekat sebelum ia melangkah pergi meninggalkan nya.


"Jaga diri mu baik-baik! Jangan lupa untuk makan yang teratur, tidur yang cukup, dan jaga kesehatan mu," pesan nya seraya tersenyum penuh kehangatan ke arah nya. Sebelah tangan nya terulur mengusap lembut pipi putra nya itu.


"Iya ma. Mama tidak perlu mengkhawatir kan aku di sini. Lagi pula semua nya baik-baik saja," sahut Kenneth balas tersenyum pada mama-nya.


"Mama percaya padamu. Kalau begitu, mama dan papa pamit," Callista berpamitan.


"Iya," Kenneth mengangguk. Sejurus kemudian, Callista beranjak pergi bersama dengan Sheilla dan Hans yang sekarang mereka mulai melangkah menghampiri mobil mereka yang terparkir di tempat parkir sana.


Mereka masuk, kemudian melambaikan tangan ke arah Kenneth yang berdiri bersama dengan Nico dan Bean di depan pintu masuk sana.


Detik berikut nya, mereka mulai melihat jika mobil yang di kendarai oleh Hans itu mulai beranjak pergi meninggal kan tempat parkir di sana.


*


Hans memarkir kan mobil yang di kendarai nya itu tepat di pekarangan rumah mereka.


Setelah cukup lama berkendara, akhir nya mereka sampai juga. Hari saat ini sudah malam, sang mentari telah turun dari singgasana nya dan waktu sudah menunjuk kan pukul delapan malam lewat seperempat menit.


Sheilla yang duduk di jok bagian belakang itu, kini tertidur dengan bersandar pada boneka yang selalu di simpan Callista di belakang sana sejak dulu.


"Akhirnya kita sampai juga," Hans merebahkan punggung nya pada sandaran jok yang di duduki oleh nya.


"Sheilla tampak nya sangat kelelahan sampai-sampai ia tertidur," Callista berucap seraya melirik Sheilla lewat pantulan kaca spion tengah mobil nya.


Putri kecil nya yang berusia empat belas tahun itu tertidur di belakang sana dengan sangat tenang, membuat Callista yang melihat nya merasa amat teduh.


"Ya, lagipula siapa yang tidak merasa lelah setelah melakukan kegiatan di luar sepanjang hari sampai malam seperti ini?" Hans menyahut. Ia kemudian menoleh ke arah Sheilla di jok belakang sana.


"Kau ada benar nya juga sayang," kata Callista yang kemudian membuat Hans menoleh ke arah nya seraya tersenyum simpul. Detik berikutnya, mereka berdua lalu keluar.


***