Dear Enemy

Dear Enemy
Secret plan



...***...


Malamnya, ketika Sheilla hendak tidur; seperti biasa, ia akan meminta mama-nya— Callista untuk menceritakan sebuah dongeng sebelum tidur agar ia bisa tidur dengan nyenyak.


Callista tidak pernah menolak dan ia akan selalu datang dan memberikan cerita-cerita yang menarik untuk diceritakan pada Sheilla sebelum ia tidur.


Saat ini. Lebih tepatnya malam ini, setelah selesai makan malam dan melakukan beberapa kegiatan kecil lain sebelum tidur, seperti membereskan mainannya, setelah itu mencuci wajahnya, dan menyikat giginya, Sheilla kemudian berbaring diatas ranjang tidur yang berada di dalam kamarnya.


Kamar Sheilla berukuran cukup luas. Namun jika dibandingkan dengan kamar kakaknya Kenneth, tentu saja tidak lebih besar dibandingkan kamar kakaknya itu.


Kamar Sheilla di dominasi dengan warna ungu muda yang mana merupakan warna kesukaannya. Kamar nya yang berada di lantai dua tidak memiliki beranda seperti kamar kedua orang tua nya atau kakak nya. Kamar Sheilla hanya memiliki satu jendela besar yang mana di pasangi dengan kaca anti peluru yang amat kuat dan cukup tebal. Di sisi kiri dan kanan jendela itu, di hiasi dengan tirai panjang yang menjuntai ke bawah, hampir menyentuh lantai.


Di dekat jendela itu, lebih tepatnya di bagian sudut ruangan sebelah kiri nya, terdapat sebuah meja belajar yang biasa di pakai nya untuk belajar. Tidak jauh dari meja belajar, lebih tepatnya di seberang jendela tempat meja belajar itu berada, terdapat sebuah rak buku yang penuh dengan buku-buku milik Sheilla. Buku-buku pelajaran nya cukup lengkap dengan beberapa bagian rak di hiasi dengan buku-buku cerita, komik, dan buku bergambar lain nya. Di dekat rak buku itu berada, terdapat bingkai-bingkai foto bergambar diri nya. Yang paling atas dan paling besar adalah gambar diri nya bersama dengan seluruh anggota keluarga nya yang lengkap dan utuh, mulai dari kakak nya— Kenneth, kedua orang tua nya, kakek dan nenek dari mama nya, dan tentunya kakek dan nenek dari papa nya juga. Sebuah keluarga utuh yang berfoto dalam bingkai yang sama. Terpajang di atas dinding. Di dekat bingkai foto itu, terdapat beberapa foto lain diri nya. Mulai dari ketika masih bayi, hingga ia beranjak sampai usia nya yang saat ini menginjak tujuh tahun.


Bukan hanya foto diri nya saja yang ada di sana, melainkan ada juga foto ia dengan kedua orang tua dan kakak nya, ada juga beberapa di antaranya yang menampilkan foto diri nya dengan kakek dan nenek ataupun kakaknya Kenneth. Selanjutnya, di tempat dekat dengan meja belajarnya, terdapat sebuah laci kecil yang mana terdapat dua pasang, yang masing-masing di taruh di sisi kiri dan kanan ranjang tidur nya yang cukup besar dan empuk. Di atas ranjang tidur Sheilla, dipenuhi dengan mainan favoritnya. Terutama dibagian kepala ranjang yang sedikit menonjol ke depan membuat sebuah ruang kecil yang biasa dipakainya untuk menaruh semua boneka milik nya. Diatas kedua laci itu, terdapat dua buah lampu tidur yang amat cantik. Kemudian diujung lain, atau yang lebih tepatnya didinding tempat dimana pintu masuk berada, teradapat sebuah lemari dua pintu namun berukuran sedang. Sebelah pintu lemari itu, memiliki sebuah cermin panjang yang bisa menampakkan secara utuh keseluruhan tubuhnya. Lemari itu, adalah lemari yang biasa digunakan oleh Sheilla untuk menaruh semua pakaian miliknya.


Selanjutnya, didekat lemari itu terdapat sebuah meja rias kecil miliknya. Disamping meja rias itu, terdapat pintu masuk menuju kamarnya. Tak jauh dari pintu masuk terdapat pintu menuju kamar mandi pribadi miliknya. Dan terakhir, tepat diujung ranjang Sheilla terdapat sebuah ruang yang cukup luas. Ruang itu biasa digunakan sebagai tempat bermain bagi Sheilla kala dirinya tidak diperbolehkan bermain diluar rumah baik oleh Callista maupun Hans.


"Dan mereka pun hidup bahagia sebagai putri dan pangeran," Callista mengakhiri ceritanya. Ia kemudian menutup buku dongeng yang ada ditangannya, lantas membelai rambut Sheilla penuh kelembutan. Sheilla masih terjaga dan kedua manik matanya masih belum juga terpejam.


"Sekarang kau harus tidur sayang," ujar Callista pada Sheilla yang kini menatap dirinya.


"Baiklah, sekarang aku akan tidur," Sheilla tersenyum lantas menyandarkan kepalanya pada dada Callista dan mulai memejamkan matanya. Sementara itu, Callista terus membelai rambut Sheilla penuh kelembutan. Memastikan jika Sheilla benar-benar tertidur.


Beberapa saat berlalu. Setelah lama hening, Callista kemudian berusaha mengecek apakah Sheilla sudah benar-benar tertidur atau belum. Callista memanggil namanya beberapa kali, namun sama sekali tidak ada jawaban dari Sheilla.


"Tampaknya dia sudah benar-benar tidur," pikir Callista ketika menyadari tidak ada jawaban dari Sheilla yang kini telah terlelap. Pergi ke alam bawah sadarnya.


Callista kemudian mencium kening Sheilla penuh kasih sayang. Detik berikutnya, ia bergerak pelan agar tidak mengganggu sheilla yang sedang tidur, ia lalu melangkah keluar dari dalam kamar sheilla dan pergi dengan langkah amat pelan. Menutup pintu kamar Sheilla setelah ia mematikan lampu kamar Sheilla.


Callista melangkah menuju arah kamar tidurnya yang dimana letaknya tidak terlalu jauh dari kamar Sheilla berada. Ia membuka pintu kemudian masuk dan mendapati Hans, suaminya yang tengah berdiri di depan cermin. Tampaknya ia baru saja selesai berganti baju dan kini tengah mengancingkan baju tidur berlengan panjangnya.


"Bagaimana? Apakah dia sudah tidur sayang?" Tanya Hans ketika Callista tiba di dalam kamar dan membuat fokusnya beralih menatap isterinya yang sudah berbalutkan gaun tidur panjang yang kemudian di balut dengan sebuah blazer hangat.


"Ya, dia sudah tidur," sahutnya yang kemudian mengunci pintu lalu duduk di tepi ranjang. Raut wajah Callista sedikit di tekuk, membuat Hans bingung.


"Kau kenapa?"


"Aku hanya bingung bagaimana cara untuk bisa mendamaikan mereka? Dan aku takut, bagaimana jika sampai hari dimana mereka mengetahui semuanya tiba, apa yang akan terjadi?" Ungkapnya.


"Kau terlalu khawatir, lagipula mereka baru berusia tujuh tahun. Dan hari dimana mereka tahu semuanya masih sangat lama, mereka akan tahu semuanya ketika mereka sudah dewasa," Hans berusaha menenangkan.


"Tapi mereka tidak akan pernah bertemu lagi dalam waktu yang sangat lama. Bagaimana mungkin mereka akan berbaikkan jika mereka sendiri tidak pernah bertemu?"


"Mereka akan bertemu lagi ketika mereka sudah beranjak remaja. Lagipula aku dengar mereka tidak akan lama tinggal di Manchester."


"Tapi—"


"Sstttt... sudah jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik sekarang kita tidur."


...***...