
Sheilla dan Grayson menghentikan langkah mereka begitu mereka tiba di bandara dan mereka melihat titik itu terus bergerak semakin jauh dari tempat mereka berada. Keduanya terdiam dengan wajah panik bercampur kesal. Akibat perdebatan mereka yang tanpa henti sejak tadi, mereka sama sekali tidak bisa mengejar James dengan tepat waktu.
“Lihat, ini yang terjadi kalau kau terlalu panik. Apa yang kau lakukan jadi menghambat usaha kita untuk mengejar James!” gerutu Grayson. Lelaki itu mendelik wanita yang menjadi istrinya dengan wajah kesal. Gara-gara apa yang dia lakukan mereka jadi gagal tiba di bandara tepat waktu.
“Apa maksudmu ini salahku? Ini semua salahmu karena kau tidak menyetir dengan benar!” Sheilla tidak mau kalah.
“Kalau kau bisa lebih tenang seperti yang aku minta, maka kita tidak akan terlambat seperti ini!”
“Kau terus saja menyalahkanku! Sekarang lebih baik kita lakukan sesuatu atau pikirkan sesuatu agar kita bisa menemukan James!”
“Kalau begitu diam dan biarkan aku berpikir!” Grayson dan Sheilla terus berdebat hingga membuat orang-orang di sekeliling mereka beralih memperhatikannya. Mereka sama sekali tak menghiraukan apa yang terjadi di sekeliling saking asyiknya bertengkar, sampai kemudian Grayson menemukan sebuah ide. Lelaki itu bergegas melangkah keluar dari dalam bandara tanpa mengucapkan apa-apa.
“HEY! KAU MAU KEMANA!” teriak Sheilla dengan wajah kesal. Wanita itu bergegas mengejar Grayson dari arah belakang. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya hendak dilakukan oleh suaminya, dan kenapa dia pergi tanpa mengatakan apa-apa padanya.
...*...
Dua orang lelaki beranjak dari tempat duduk mereka. Keduanya seolah sudah memiliki rencana untuk pergi ke toilet pesawat berbarengan. Di sepanjang jalan menuju toilet, mereka berjalan melewati beberapa penumpang lain yang posisi duduknya berada tepat di belakang kursi mereka. Keduanya menatap satu persatu dari penumpang tersebut. Memperhatikan apa yang sedang mereka lakukan, sampai akhirnya dia melihat salah seorang penumpang yang cukup menarik perhatiannya. Penumpang itu adalah seorang wanita berambut merah jagung yang duduk di dekat jendela. Dia duduk dengan anak perempuannya yang sepertinya sedang tertidur pulas.
...*...
Mobil yang mereka tumpangi itu berhenti di depan markas mereka. Jefferson dan Trez melangkah keluar dari dalam mobil dan berjalan menghampiri pintu masuk. Begitu mereka tiba di dalam sana, mereka terkejut mendapati anak buahnya sama sekali tidak ada di sana. “Ini aneh. Dimana semua orang? Bukankah tadi mereka bilang mereka sudah kembali ke markas? Tapi kenapa kosong?”
“Aku juga tidak mengerti. Tapi coba kau hubungi mereka lagi dan tanyakan apakah mereka benar-benar sudah kembali atau belum.”
“Sebentar.” Trez mengeluarkan ponselnya dan menghubungi anak buah mereka yang lain guna menanyakan keberadaan mereka yang sama sekali tidak ada di markas. Setelah dia telepon, ternyata anak buah yang mereka tugaskan menghadang Kenneth saat ini sedang berada di rumah sakit dalam keadaan terluka. Mereka juga menceritakan semua detail kejadiannya pada mereka. Begitu mereka mendengarkan penjelasan dari anak buahnya itu, mereka langsung sadar bahwa orang yang tadi menghubungi mereka bukanlah anak buahnya melainkan orang lain.
“Sial! Kenapa kita sama sekali tidak sadar kalau itu bukan mereka?” Jefferson mengumpat kesal. Setelah dia cek lagi ternyata memang benar. Nomor tanpa nama yang tadi sempat menghubungi mereka itu bukanlah nomor anak buahnya melainkan nomor yang berbeda. Trez yang mendengar hal itu mencoba untuk melacak keberadaan dari nomor yang digunakan Kenneth mengorek informasi dari mereka. Tapi begitu wanita itu lacak, dia sama sekali tidak bisa menemukan lokasinya karena nomor yang digunakan ternyata adalah nomor virtual. Dengan kata lain nomor itu adalah nomor palsu dan bisa digunakan oleh siapa saja.
“Kita kecolongan!” Jefferson mulai panik. Dia sungguh bodoh karena baru menyadari hal ini. Bahkan mereka baru saja memberi informasi pada si penelepon kemana tujuan kepergian Rieko dengan membawa James.
“Kita harus menghubungi Rieko secepatnya!”
...*** ...