
...***...
Maret 2008
Perlahan kedua manik mata gadis berusia empat belas tahun itu terbuka. Hal pertama yang di lihat olehnya adalah cahaya terang dari jendela kamarnya yang tertutupi dengan tirai. Ia tertidur dengan posisi menyamping, tepat mengarah pada jendela yang jaraknya hanya sekitar satu setengah meter dari tempat nya berada saat ini.
Ia mengerjap kan kedua mata nya beberapa kali. Berusaha untuk memperjelas penglihatan nya. Detik berikutnya, ia baru dapat melihat seluruh bagian kamar di hadapannya itu secara jelas.
Tirai di jendela kaca besar di sana masih tertutup. Dan tirai itu tampak bersinar ketika sang mentari yang telah berada di singgasana nya itu berusaha untuk menembus masuk ke dalam kamar nya yang masih tampak gelap.
Sheilla. Masih tergelung di tempat tidurnya dengan berbalutkan selimut tebal milik nya. Masih terbaring di atas ranjang tidurnya yang empuk. Di kamar yang masih sama saat ia kecil dulu. Sudah delapan tahun berlalu, namun tidak ada terlalu banyak hal yang berubah. Kamarnya masih sama, berwarna ungu muda yang kini warna nya mulai sedikit memudar. Bagian dari barang-barang di kamarnya itu masih sama.
TOK!TOK!TOK!
Perlahan kedua telinga nya menangkap suara yang berasal dari arah pintu masuk kamar nya, dan Sheilla yakin itu pasti adalah Callista-mama nya.
"Sheilla sayang apakah kau sudah bangun?" suara lembut nya itu menginterupsi gendang telinga nya. Membuat diri nya tersadar dari sebagian alam bawah sadar nya.
"Sheilla, bangun sayang! Kau tidak lupa soal rencana kita pagi ini bukan?" Teriak nya sekali lagi. Oh ya, bagus. Sheilla baru ingat akan rencana nya pagi ini.
"Sheilla?" Callista kembali berteriak memanggil nama nya. Pasal nya masih belum ada jawaban sama sekali dari balik pintu kamar tempat dimana sheilla masih tergelung itu.
"Aku bangun ma!" sahut Sheilla kemudian setelah terdiam cukup lama.
"Good. Let's wake up honey!" teriak Callista sekali lagi.
"Okay!" Balas Sheilla yang kemudian bangun dari tempat tidur nya, lalu duduk sejenak mengumpul kan kesadaran nya yang masih belum pulih sepenuh nya.
Detik berikutnya, gadis berusia empat belas tahun itu lantas beranjak menghampiri jendela kamar nya disana. Membuka tirai nya, dan membiarkan sang mentari pagi masuk ke dalam kamarnya. Serta menyinari seisi nya.
Sheilla terdiam sesaat menatap ke luar jendela kamar nya. "Akhirnya, hari ini datang juga," gumam nya pelan dengan raut wajah yang tampak tidak senang. Terlihat jelas dari mimik wajah nya, jika hari ini bukanlah hari yang di nanti atau di tunggu-tunggu olehnya.
Sheilla melangkah pergi dari tempat nya berada saat ini. Berjalan pergi menuju kamar mandi nya yang tidak terlalu jauh dari kamar nya.
Setelah delapan tahun berlalu, Sheilla sekarang sudah mulai bersikap semakin mandiri.
...*...
"Morning ma, pa!" Sapa Sheilla ketika diri nya tiba di ruang makan tempat dimana kedua orang tua nya berada.
Mendengar suara Sheilla, membuat fokus mata Callista dan Hans beralih pandang pada putri mereka itu.
"Morning honey!" Callista dan Hans menyahut seraya tersenyum ke arah nya. Sheilla yang sudah tampak amat rapi itu lantas duduk di kursi biasa tempat nya duduk.
"Kau sudah siap sayang?" Hans bertanya.
"Kalau begitu ayo sarapan lebih dulu. baru setelah itu kita berangkat," ujar Callista.
"Baiklah," Sheilla tersenyum lantas mulai di sibukkan dengan sarapan bersama di ruang makan sana.
...*...
Perlahan mobil yang mereka tumpangi itu beranjak dari tempat semula ia berada.
Sepanjang perjalanan, Sheilla termenung. Sementara itu, kedua orang tua nya yang duduk di jok bagian depan terus berbincang. Mengobrolkan sesuatu yang entah apa, Sheilla tidak dapat mendengar nya dengan terlalu jelas karena sibuk dengan lamunan nya sendiri. Ada banyak sekali hal yang tengah mengganggu pikiran nya saat ini tentang bagaimana kehidupan nya nanti ketika tiba di asrama yang akan menjadi tempat nya singgah. Ia merasa malas untuk mengikuti keinginan kedua orang tua nya. Sheilla masih belum merasa siap untuk memulai kehidupan baru sebagai seorang mata-mata.
"Are you okay honey?" Tanya Callista membuat Sheilla tersadar dari lamunan nya dan spontan menoleh ke arah datang nya suara.
"Ah, ya?" Sheilla tersadar.
"Kau kenapa? Kenapa tampak nya kau tidak senang sayang?" Tanya Callista.
"A-ah aku hanya sedang memikirkan mengenai bagaimana kehidupan di asrama nanti," Sheilla beralasan.
"Tenang saja. Kau tidak akan lagi merasa kesepian, karena di asrama nanti, kau akan mendapatkan banyak teman," Hans menenangkan.
"Ah benarkah?"
"Iya. Jadi kau tidak perlu khawatir! Lagi pula kakakmu Kenneth akan menjagamu," ucap Callista. ah ya, Sheilla baru ingat jika kakak nya berada di asrama.
"Ya," sahut nya dengan suara pelan. Perjalanan mereka selanjutnya kembali di selimuti oleh keheningan.
...*...
Hans memarkirkan mobilnya tepat di tempat parkir di sana. Begitu mesin mobil itu berhenti, mereka bertiga lantas beranjak bangun dari tempat duduk mereka lalu keluar dari dalam mobil secara bersamaan.
Sheilla yang duduk di belakang sana kemudian menutup pintu mobil nya itu rapat, detik berikutnya ia melangkah menghampiri kedua orang tua nya yang kini berdiri di antara mobil.
Tas backpack milik Sheilla terpasang di pundak nya. Di dalam tas itu, Sheilla membawa beberapa pakaian, dan kebutuhan lain nya yang ia butuhkan.
"Ayo sayang," ucap Callista membuat Sheilla yang baru saja membenahi tas nya lantas mendongak menatap ke arah mama-nya yang kini melambai dengan gesture meminta nya untuk datang ke arah nya.
Sheilla beranjak menghampiri Callista dan Hans yang berdiri di sana. Tiba di hadapan mereka, Sheilla dan kedua orangtuanya lalu melangkah menghampiri beberapa orang yang kini berdiri di depan pintu masuk gedung besar di hadapan mereka.
Sebuah gedung besar dengan tempat parkir yang amat luas di hadapannya. Gedung itu berada cukup jauh dari keramaian dan sangat jauh dari tempat dimana hiuk-piuk kota berada. Di depan pintu masuk yang terbuat dari kaca itu, Sheilla dapat melihat tiga orang laki-laki yang salah satu di antaranya ia kenal. Seorang remaja laki-laki yang kini berdiri diantara dua pria yang tampak seumuran dengan kedua orang tua nya. Remaja laki-laki itu Kenneth.
...***...