Dear Enemy

Dear Enemy
Asrama



...***...


Sebuah gedung besar dengan tempat parkir yang amat luas di hadapannya. Gedung itu berada cukup jauh dari keramaian dan sangat jauh dari tempat dimana hiuk-piuk kota berada. Di depan pintu masuk yang terbuat dari kaca itu, Sheilla dapat melihat tiga orang laki-laki yang salah satu di antaranya ia kenal. Seorang remaja laki-laki yang kini berdiri di antara dua pria yang tampak seumuran dengan kedua orang tua nya. Remaja laki-laki itu Kenneth yang tidak lain adalah kakak laki-lakinya yang selama ini tinggal di asrama pelatihan dan menjalani pelatihan mata-mata. Dan hanya beberapa tahun lagi, maka ia akan resmi debut sebagai seorang agent mata-mata yang akan bergerak langsung di lapangan.


"Nic!" Panggil Hans seraya menghampiri pria tua seumuran dengannya.


"Hans!" Sahutnya seraya tersenyum senang. Mereka berjalan menghampiri.


"Apa kabar kau?"


"Aku baik. Seperti yang kau lihat," ucap Nico yang tidak lain adalah sahabat sekaligus rekan dari Hans dan Callista ketika mereka masih menjadi mata-mata.


"Senang mendengarnya."


"Kau sendiri bagaimana? Apakah kau baik?"


"Iya, tentu saja. Oh bagaimana Ken? Apakah dia tidak nakal selama berada di asrama?" Hans melirik pada putra sulung nya yang tengah berdiri di dekat Nico dan seorang pria lain bernama Bean yang tidak lain merupakan coach sekaligus tangan kanan dari Nico.


"Dia baik, sangat cerdas dan mudah memahami setiap pelajaran yang di berikan oleh Bean. Bahkan Ken tidak pernah turun dari peringkat satu nya," ucap Nico membanggakan.


"Benarkah? Wah tidak aku sangka," Hans mengusap pundak putranya itu seraya tersenyum bangga mendengar nya. Kenneth yang sejak tadi di bicarakan hanya tersenyum menanggapi.


"Oh ya, jadi kalian kemari untuk mengantarkan Sheilla?" Tanya Nico mengalihkan pembicaraan.


"Iya, kami kemari untuk mengantarkan Sheilla," Callista menyahut membuat Nico menoleh ke arahnya.


"Jadi, kapan dia akan masuk?"


"Hari ini. Jadi kami kemari pagi ini agar Sheilla bisa mulai beradaptasi dengan orang-orang dan lingkungan baru di sini," ujar Hans.


"Begitu, tapi bukankah seharusnya dia sekolah lebih dulu? Apakah tidak masalah jika dia bolos?"


"Hanya untuk hari saja. Besok, dia akan kembali ke sekolah."


"Begitu rupanya."


"Ah, baiklah. Bagaimana jika kita langsung masuk saja? Sheilla? Biar aku antar?" Bean menawarkan. Sheilla hanya terdiam. Walaupun dirinya sudah kenal dengan Bean karena sudah sering bertemu dengan nya ketika mengantar Kenneth, namun tetap saja rasanya agak canggung bagi Sheilla. Apalagi mengingat ini adalah hari pertama nya. Sheilla menatap remaja laki-laki berparas tampan yang menjadi kakak nya itu. Tubuhnya tinggi, setara dengan Bean bahkan sedikit lagi saja mereka hampir sepantar.


Kenneth yang sejak tadi di tatap oleh Sheilla lantas mengerti akan maksud dari adiknya itu. Ia kemudian menoleh ke arah Bean yang tak lain adalah coach yang menjadi pengajar nya selama beberapa tahun—tidak, ralat. Bean adalah wali pembimbing Kenneth selama ia berada di akademi pelatihan, sementara coach yang di tugaskan mengajar nya adalah orang lain.


"Huh? Tapi bukankah kau harus mengantarkan kedua orang tua mu?"


"Ah, tidak. Papa dan mama akan baik-baik saja. Lagipula anda tahu sendiri jika papa dan mama adalah teman dari Sir. Nic sejak lama, jadi aku rasa mereka akan baik-baik saja walau tanpa aku," Kenneth beralasan.


"O-oh begitu, baiklah kalau begitu. Kau boleh mengantarkan Sheilla berkeliling," Bean memberi izin.


"Kalau begitu kami permisi," ucap Kenneth yang kemudian menarik tangan Sheilla yang tak lain adalah adiknya, beranjak pergi meninggalkan tempat mereka. Melangkah masuk ke dalam gedung tersebut dan meninggalkan kedua orang tua mereka yang sibuk bercakap dengan Nico. Sejurus berikutnya, Callista, Hans, Nico, dan Bean ikut masuk ke dalam gedung yang menjadi markas mereka itu.


...*...


Kenneth Gevariel. Adalah kakak laki-laki sekaligus saudara kandung satu-satunya yang di miliki oleh Sheilla. Orangnya dingin, kaku, terkesan sombong karena jarang tersenyum, dan tidak banyak bicara. Namun tanpa banyak orang tahu, jika Kenneth adalah kakak sekaligus anak yang sangat menyayangi keluarga nya. Kenneth memiliki tubuh tinggi, wajah tampan, mata indah yang mirip dengan papa-nya, dan rambut kecoklatan yang amat mempesona. Kenneth penuh dengan Kharisma, apalagi ketika dirinya berada dalam situasi yang amat tenang.


Saat ini, dirinya tengah berjalan beriringan bersama dengan Sheilla. Melangkah mengelilingi gedung yang menjadi tempat singgah nya sampai ia debut. Hening menyelimuti kebersamaan mereka untuk sesaat. Sheilla hanya diam dan enggan untuk berkata, ia tidak ingin membuat Kenneth kakak nya merasa terganggu, apalagi jika mengingat sikap mereka yang bertolak belakang, sering kali membuat Kenneth merasa kesal dengan bagaimana berisik nya Sheilla apalagi jika sudah sangat berenergi. Gadis yang menjadi adik nya itu, tidak akan pernah berhenti berbicara. Bahkan akan terus berbicara sampai mulutnya berbusa.


"Ehem," Sheilla berdeham panik, ketika mulai merasa amat canggung dengan kebersamaan mereka. Kenneth di sampingnya itu menoleh ke arah Sheilla.


"Huft~" Kenneth menghela napas.


"Biar langsung aku antar kan kau ke asrama mu saja. Setelah itu kau benahi barang-barang mu, dan baru akan aku antar kan kau untuk melihat-lihat sambil akan aku jelaskan semuanya," ucap Kenneth pada Sheilla ketika menyadari bagaimana kesusahan nya Sheilla ketika membawa tas backpack di pundaknya.


"Baiklah," sahut Sheilla seraya balik menatapnya.


"Sekarang ikut aku," Kenneth melangkah di depan, memimpin jalan Sheilla.


Kenneth membawa Sheilla menuju ruang Bean lebih dulu untuk membawa kunci asrama nya. Selanjutnya, ia kemudian membawa Sheilla ke asrama nya yang gedung nya berada tepat bersebelahan dengan gedung asrama putra.


Sepanjang jalan, Sheilla terus mengedarkan pandangan nya menatap setiap detail gedung asrama yang cukup menarik baginya. Tidak jarang diri nya berpapasan dengan beberapa orang yang berlalu-lalang kesana kemari di sekitar gedung.


"Aku kira akan ada lebih banyak orang yang tinggal disini tapi tampak nya tidak terlalu," Sheilla membatin. Kenneth yang menyadari Sheilla terdiam sejak tadi lantas melirik ke arah nya. Dari mimik nya, Kenneth dapat mengetahui apa yang tengah di pikir kan oleh adik nya itu.


"Ada lebih banyak orang yang tinggal disini. Tapi sebagian besar sedang pergi ke sekolah!" Jelasnya yang membuat Sheilla spontan mendongak memandang kakak nya.


"O-ooh, begitu," Sheilla mengangguk-angguk kan kepala nya, menanggapi. Ia sempat terkejut karena kakaknya dapat membaca apa yang ada dipikirannya.


...***...