
Trez dan Jefferson berusaha mengatur napas mereka yang tidak beraturan. Keduanya sungguh syok dengan apa yang baru saja mereka alami. Mereka hampir mengalami kecelakaan akibat apa yang dilakukan oleh Jefferson. Lelaki itu terus menyalip beberapa mobil hingga mereka bergerak di saat ada mobil lain yang melaju dengan kecepatan tinggi dari arah yang berlawanan dengan mereka. Kalau saja saat itu Trez tidak bergerak dengan cepat menarik setir ke arah yang tepat, maka mungkin saja nyawa mereka sekarang sudah melayang dan pergi menuju alam baka.
Plakk!
Trez mendaratkan sebuah pukulan keras pada bahu lelaki itu. Jefferson meringis kesakitan saat wanita yang menjadi rekannya itu memukulnya dengan begitu keras. “APA YANG KAU LAKUKAN!”
“INI ADALAH BALASAN KARENA KAU TIDAK MAU MENDENGARKANKU. SUDAH AKU BILANG UNTUK JANGAN TERLALU MENGEBUT. KAU BENAR-BENAR INGIN KITA MATI?!” Trez menatapnya dengan wajah kesal.
“Aku tidak mungkin berniat untuk bunuh diri. Aku hanya cemas kita terlambat sampai di sana.”
“Tapi apa yang kau lakukan barusan nyaris membuat kita mati! Sekarang lebih baik kau turun. Biar aku saja yang menyetir!” tukas Trez dengan wajah kesal. Wanita itu melangkah keluar dari dalam mobil dan meminta Jefferson untuk keluar dari dalam sana dan berganti posisi dengannya. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan menuju bandara.
...*...
Sheilla dan Grayson melangkah keluar dari dalam mobil. Keduanya pergi menghampiri salah satu minimarket terdekat. Mereka langsung masuk ke dalam sana dan menghampiri meja kasir. Di sana sudah ada seorang wanita yang sedang melayani pelanggan. “Kami sedang mencari permen, apakah kau bisa tunjukkan dimana mesin permennya?”
Wanita berkacamata itu menurunkan sedikit kacamatanya sebelum kemudian berkata, “Lurus saja ke arah sana, dan kalian akan bisa lihat mesin permen di paling ujung.”
Sheilla dan Grayson segera pergi menuju tempat yang ditunjukkan oleh wanita tersebut. Posisi mesin permen itu berada di ujung lorong. Tepat ada di pojokkan. Tiba di sana, mereka segera menghampiri mesin tersebut dan berdiri di sana sejenak seraya mengecek keadaan sekitar. Setelah dirasa aman, mereka langsung memasukkan dua buah koin ke dalam mesin tersebut lalu memasukkan beberapa angka berupa kode rahasia yang tak lain merupakan kode akses untuk pergi ke markas mereka.
Setelah kode dimasukkan, benda itu bergerak perlahan hingga mereka bisa melihat sebuah ruangan berukuran cukup besar yang bisa menampung mereka berdua. Keduanya langsung masuk dan menutup pintunya. Bersamaan dengan tertutupnya pintu, mesin itu bergerak kembali ke posisinya seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Mereka berdua terdiam. Sheilla dan Grayson jadi menghentikan perdebatan mereka sejak mereka mengalami kecelakaan kecil tadi.
Sheilla melirik ke arah lelaki yang menjadi suaminya itu dan memperhatikan wajahnya. Walaupun dia terlihat tenang dan tidak secemas sebelumnya, namun Sheilla bisa membaca kalau sebenarnya dia juga sangat mencemaskan James. Hanya saja Sheilla baru menyadari hal itu karena sejak tadi dia terlalu sibuk dengan perasaannya sendiri.
Sebagai seorang suami sekaligus seorang ayah, Grayson adalah orang yang bisa dibilang perhatian dan penyayang, walaupun dalam beberapa situasi lelaki itu terlalu gengsi untuk menunjukkan perasaan itu. Terlebih padanya. Enam tahun tinggal di satu atap yang sama dengannya cukup untuk membuat Sheilla bisa memahami Grayson, dan walaupun mereka sering bertengkar, sebenarnya mereka saling menyayangi serta saling mencintai satu sama lain.
Pertengkaran mereka sering kali terjadi hanya karena mereka berdua dulunya adalah musuh yang juga selalu bersaing dalam banyak hal. Kalau mengingat-ingat kejadian pertama kali mereka bertemu, sebenarnya sejak awal pun mereka bertengkar dan menjadi musuh hanya karena sesuatu hal yang sangat sepele dan memalukan. Namun karena gengsi mereka yang sama-sama besar, mereka jadi berakhir dalam situasi semacam ini.
“Aku minta maaf…” gumam Sheilla dengan suara pelan. Wajahnya merona, dan kalimatnya lebih terdengar seperti sebuah bisikan yang bahkan entah Grayson mendengarnya atau tidak. Sheilla menundukkan kepalanya ke arah lain.
...***...