Dear Enemy

Dear Enemy
Bab 27 - Apa Sebenarnya Rencanamu?



“Aku minta maaf…”


“Huh?” Grayson menoleh ke arah Sheilla yang kini berdiri tepat di sampingnya. Dia seolah baru saja mendengar wanita itu mengucapkan maaf padanya. Tapi Grayson ragu Sheilla benar-benar mengatakan kalimat itu. “Kau mengatakan sesuatu?”


Wajah Sheilla bertambah merah. Kali ini bukan karena dia malu untuk mengatakan maaf, melainkan dia kesal karena lelaki itu membuatnya harus mengulang kalimat yang sama dua kali. Itu menyebalkan. “Ak-aku bilang maaf…”


Grayson masih diam berusaha untuk mencerna kalimatnya sebelum akhirnya lelaki itu bergerak menempelkan punggung tangannya pada kening wanita itu guna memastikan dia baik-baik saja. “Kau sama sekali tidak panas. Lalu apa yang terjadi? Kenapa kau tiba-tiba bisa mengatakan kata maaf? Ini sungguh bukan dirimu yang biasanya. Katakan, apakah kau tidak ingat siapa aku? Apakah kau hilang ingatan akibat benturan tadi?”


Grayson memegangi pundak wanita itu seraya memandangnya dari jarak yang begitu dekat. Sheilla semakin kesal. Sekarang dia menyesal karena sudah mengatakan maaf pada lelaki menyebalkan itu. Dengan kasar dia menepis pundaknya. “Lupakan saja apa yang aku katakan. Kau menyebalkan!” tukasnya.


Sheilla membalikkan tubuhnya ke arah lain. Wajahnya cemberut dengan tangan terlipat di depan dada. Perangainya tampak mirip dengan James ketika anak itu marah karena tidak diberikan mainan olehnya.



“Haha.. okay, aku juga minta maaf karena sudah membuatmu kesal,” gumam Grayson seraya memeluk wanita itu dari arah belakang. Dia menenggerkan kepalanya di bahu Sheilla sembari memejamkan kedua matanya. “Aku hanya mencoba untuk membuatmu merasa lebih tenang. Aku tidak ingin ada ketegangan apapun yang membuat keadaan jadi semakin kacau…”


Sheilla terdiam. Lelaki itu seolah sudah tahu dimana titik lemahnya, dan dia seolah sudah tahu bagaimana cara untuk menenangkan serta membuat hatinya yang sedang kesal itu luluh. Sheilla menghela napas pelan. Kedua iris matanya memandangi pantulan diri mereka yang kini tampak di depan dinding lift yang mereka tumpangi.


“Jika sejak awal aku diam dan tenang seperti apa yang kau minta, mungkin keadaan tidak akan berubah menjadi serumit ini. Aku minta maaf, karena apa yang aku lakukan membuat kita berdua nyaris celaka…”


“Aku yang lebih merasa bersalah karena gara-gara aku kau jadi tidak fokus menyetir.” Grayson membuka kedua matanya begitu mendengar ucapan wanita itu. Dia memandangai wajah istrinya dengan wajah kesal.


“Kau keras kepala, sudah kubilang aku yang bersalah dalam hal ini.”


“Tidak. Aku yang justru bersalah!” Sheilla berkeras. Dan tanpa mereka sadari mereka jadi berdebat untuk kesekian kalinya hanya karena mereka berdua sama-sama merasa bersalah atas apa yang menimpa mereka hari ini. Keduanya jadi saling mengaku bersalah hingga perdebatan mereka merembet pada hal lain yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan apa yang mereka perdebatkan.


Setelah perdebatan panjang, akhirnya keduanya berhenti berdebat ketika mereka berdua tiba di tempat yang mereka tuju. Lift terbuka dan mereka berdua melangkah keluar dari dalam sana dengan wajah yang sama-sama gusar. Sheilla masih merasa malas untuk menanyakan rencana lelaki yang menjadi suaminya itu. Namun dia sungguh penasaran dengan apa rencana yang telah disusunnya.


Sheilla menghela napas pelan sebelum akhirnya berkata, “Jadi apa sebenarnya rencana yang kau miliki?”


“Kita akan mencoba melacak keberadaan Ken. Mungkin dengan cara itu kita bisa menemukan dimana lokasi James berada.”


“Tapi… kita tidak mungkin diam saja dan menunggu, kan? Mau sampai kapan kita menunggu hingga kita berhasil melacak keberadaan Ken? Kau bahkan tahu sendiri kalau teleponnya saja tidak dapat dihubungi. Lalu bagaimana caranya agar kita bisa menemukan lokasinya berada?”


Grayson berbalik. Dia mendekat dan menelungkup wajah Sheilla dengan kedua tangannya. Memandangi wajah wanita itu penuh keteduhan. “Dengar. Aku tahu kau cemas. Karena aku juga merasakan hal yang sama. Aku juga cemas anak kita kenapa-kenapa, namun kau juga harus tahu bahwa saat ini Ken sedang mengejarnya. Mungkin saja kakakmu tidak bisa dihubungi karena dia sedang berada di dalam pesawat dan sedang mengikuti mereka kan? Untuk saat ini kita harus bersikap tenang dan mempercayakan semuanya pada kakakmu. Bagaimanapun juga kau harus ingat kalau kakakmu adalah agen yang tidak kalah hebat. Bahkan di adalah siswa berprestasi di akademi, kan? Maka dari itu, dia pasti tidak akan mudah menyerah mengejar mereka begitu saja.” Grayson berusaha untuk membuat istrinya tenang.


...***...