
“Kau baru saja bicara dengan siapa di telepon?” tanya Grayson yang baru saja tiba di dalam sana. Begitu tiba, lelaki itu langsung berjalan menghampirinya yang sejak tadi sedang duduk di sofa yang ada di sana.
“Ken, dia memberitahuku kalau kita bisa beristirahat malam ini dan pergi menemui Nico besok.”
“Kenapa?”
“Dia bilang situasinya sedang tidak bagus. Nico sedang dalam keadaan kurang baik. Dia sedang memikirkan Lucy yang katanya membuat kesepakatan dengan Beatrix untuk menyelamatkan Aland dan Amanda.”
“Apa? Dia pasti sedang sangat mencemaskan keadaannya sekarang ini.”
“Iya, maka dari itu kita diminta untuk datang besok.”
“Baguslah kalau memang kita bisa datang besok, lagipula kita juga lelah kan?”
Sheilla menganggukan kepalanya, setuju dengan ucapan lelaki yang menjadi suaminya itu, dia juga memang sudah sangat lelah setelah melakukan perjalanan selama berjam-jam dari Argentina menuju Inggris. Sekarang yang ingin dia lakukan hanyalah pergi ke kamar tidur dan langsung beristirahat.
“Kalau begitu ayo bersiap untuk tidur.” Grayson beranjak dari tempat duduknya. Lelaki itu mengulurkan tangannya dan membantu Sheilla untuk bangun. Mereka berdua lantas melangkah meninggalkan ruangan tersebut dan pergi ke kamar mereka yang posisinya berada dekat dengan ruangan tersebut.
...*...
Sepasang orang dewasa yang sejak tadi terduduk di mobil mereka itu terdiam sembari memandang keluar jendela, menatap bangunan rumah yang tak lain adalah lokasi tempat dimana target mereka tinggal. Jefferson mengeluarkan ponselnya, langsung mencari kontak wanita yang beberapa jam yang lalu memintanya untuk membuntuti target mereka. “Rieko, kami sudah menemukan tempat mereka.”
“Bagus, kirim lokasinya sekarang juga.”
“Baik, akan kami kirimkan segera.”
“Dan tolong awasi mereka sementara aku pergi ke sana.”
“Okay.” Jefferson memutuskan sambungan telepon mereka secara sepihak, lelaki itu lantas mengirimkan lokasi tempat dimana mereka berada pada Rieko. Begitu mereka berhasil mengirimkannya, mereka langsung mempersiapkan diri untuk mengawasi situasi sementara mereka menunggu wanita itu tiba di London seperti apa yang sudah direncanakan.
...*...
...*...
“Good morning, James!”
“Morning, Ella.” James tersenyum simpul memandangi wanita yang langsung menyapanya begitu dia tiba di dapur itu. Wanita itu tampaknya baru saja selesai menyiapkan sarapan untuknya. James berjalan menghampiri meja makan yang ada lantas duduk di kursinya. Begitu duduk di sana, dia terdiam sembari memandang sekeliling, mencari kedua orang tuanya yang pagi-pagi seperti ini tidak ada di sana. “Ella, dimana mum dan dad?”
“Mummy dan daddy mu sedang pergi, mereka bilang ada sesuatu yang harus mereka lakukan. Mereka hanya pergi sebentar.”
“Ah, begitu rupanya…”
“Sekarang ayo sarapan.” Ella menaruh sarapan milik James dihadapannya. Setelah itu dia berlalu menghampiri kursi yang ada di sana lalu duduk.
“Ella, bagaimana keadaanmu?”
“Aku sudah merasa lebih baik, tapi mum dan dad mu tetap memintaku untuk berlibur. Sepertinya untuk beberapa minggu kita tidak akan bisa bertemu.”
“Tidak apa-apa, yang penting kau cepat sembuh.” James tersenyum simpul lalu melahap makanan yang ada di hadapannya dengan menggunakan sendok yang diberikan Ella.
...*...
Taksi itu menghentikan laju mobilnya di depan bangunan dimana titik lokasi yang dikirimkan Jefferson berada. Melihat hal itu, Jefferson dan Trez yang ada di dalam mobil lantas menatap ke arah kaca spion yang ada. Dari arah taksi yang mereka lihat itu, mereka menangkap sosok wanita bertubuh tinggi yang melangkah keluar dari dalam taksi tersebut. Wanita itu mengenakan setelan mantel berwarna hijau dengan kacamata hitam yang menyangga hidungnya. Dia mengeluarkan sebuah koper hitam dari dalam taksi tersebut lalu menghampiri mobil tempat mereka berada.
Tok! Tok!
Wanita itu mendekat dan langsung mengetuk pintu mobil mereka, membuat mereka berdua langsung bisa mengenali sosoknya. Wanita itu tidak lain dan tidak bukan adalah wanita yang sejak kemarin mereka tunggu. Wanita yang menjadi alasan kenapa mereka terdiam di sini dan menunggunya hingga tiba.
Rieko menurunkan kacamata hitam yang menutupi matanya. Dia memandangi Jefferson dan Trez yang ada di dalam sana dan memberikan isyarat dengan tatapan matanya. Jefferson langsung bisa paham apa maksud dari isyarat yang dia berikan. Lelaki itu langsung membukakan pintu bagasi dan membuka kunci pintu belakang mobil mereka. Rieko beranjak memasukkan barangnya lalu duduk di jok belakang. “Apakah semuanya aman?”
...***...