Dear Enemy

Dear Enemy
Bab 29 - Terbongkar



Rieko menghentikan langkahnya. Wanita itu mengeluarkan ponsel guna mengecek apakah ada informasi dari Alejandro atau tidak. Dan tepat ketika dia baru saja menyalakan ponselnya, dia mendapatkan telepon dari Alejandro yang tampaknya ingin berbicara mengenai rencana selanjutnya yang harus dia lakukan.


“Halo, tuan.”


“Akhirnya kau mengangkat teleponku juga. Darimana saja kau sebenarnya? Kau tidak lupa dengan misi yang aku berikan kan?”


“Aku tidak mungkin lupa dengan misi yang tuan berikan padaku. Semuanya sudah aku lakukan, dan aku berhasil mendapatkan HACS itu.”


“Kerja bagus. Kau memang yang paling bisa aku andalkan. Bagaimana dengan orang yang membawanya?”


“Aku juga membawanya. Namun ada berita yang sepertinya akan membuat tuan terkejut. Orang yang telah membawa HACS ternyata…”



...*...


Lelaki itu tertawa lepas. Dia sungguh senang dengan berita yang baru saja dia dapatkan dari Rieko mengenai HACS dan sosok yang telah membawanya. Dari apa yang dia dapatkan, dia sungguh merasa beruntung karena sudah meminta Rieko untuk menjalankan tugas itu dan membawanya. Wanita yang menjadi orang kepercayaannya itu memang paling bisa dia andalkan.


Begitu telepon di tutup, Alejandro melihat Carlota datang bersama Woody. Mereka membawa beberapa anak lain yang telah melarikan diri dari markas mereka. Beberapa di antara anak itu dalam keadaan tidak sadarkan diri, sementara beberapa di antara yang lain berusaha keras untuk menyelamatkan diri dan melawan Carlota serta Woody yang membawa mereka.


Brukk!


Carlota dan Woody menjatuhkan mereka ke dalam kurungan lain yang berada di sana. Menggabungkan mereka dengan Elios yang hanya bisa memandangi mereka dengan wajah kesal. Begitu tugas mereka selesai, Carlota dan Woody segera menghampiri Alejandro yang sejak tadi terduduk di kursi yang ada di sana.


“Bagaimana dengan tugas kalian?”


“Kami sudah berhasil menangkapnya, tuan. Tidak ada satupun yang kami lewatkan. Semuanya berhasil kami tangkap dan kami bawa kembali,” tutur Carlota.


“Kerja bagus. Lalu bagaimana dengan persiapan kita?”


“Semuanya sudah siap, dan kita hanya perlu berangkat besok.” Woody menjawab.


“Kau sudah mengatur semuanya sesuai dengan perintahku kan?”


“Bagus. Semuanya berjalan sesuai dengan yang aku harapkan. Sekarang persiapkan diri kalian agar kita bisa segera berangkat besok.”


“Baik.”


...*...


Kenneth bisa mengecek segala aktivitas pada ponsel Rieko dengan menggunakan Neoglass nya, dan dari yang dia cek, wanita itu baru saja berbicara dengan seseorang yang disebut sebagai tuan, atau sosok dalang di balik penculikan yang dia lakukan.


Tuan, orang ini pasti ada kaitannya dengan semua yang terjadi. Aku harus mencari tahu siapa sebenarnya tuan yang dia maksud yang sudah mendalangi semua ini. Kenneth mengepalkan tangannya. Lelaki itu bergegas mengambil tindakan dengan melakukan pengecekan pada nomor yang dia dapatkan dari ponsel tersebut. Begitu dia berhasil mendapatkan nomornya, dia hendak menghubungi Mike untuk meminta bantuannya melacak pemilik nomor itu dan mengecek identitasnya. Tapi belum sempat dia melakukannya, panggilan telepon lain dari Rieko yang sempat tersadap oleh Neoglass nya membuat Kenneth seketika berhenti. Lelaki itu langsung mengalihkan perhatiannya. Dia menekan tombol pada Neoglass nya dan mendengarkan setiap pembicaraan yang berhasil disadap oleh alatnya itu.


“Halo? Kenapa kalian menghubungiku sejak tadi?” tanya Rieko yang suaranya bisa didengar oleh Kenneth.


“Akhirnya kau menjawab telepon kami juga. Kami sangat panik karena kau sudah pergi dan sama sekali tidak bisa kami hubungi. Ada hal yang sangat penting yang harus kami sampaikan.”


“Informasi penting? Memangnya apa lagi yang harus kalian sampaikan? Kenapa tidak sejak awal saat kita berpisah kalian sampaikan?”


“Kami sama sekali tidak tahu, karena kami juga baru menyadari hal ini sekarang.”


“Memangnya hal penting seperti apa yang kalian maksud?”


“Kami baru saja tiba di markas, dan begitu tiba anak buah yang aku hubungi untuk menghadang orang itu sama sekali tidak ada padahal aku sebelumnya mendapatkan telepon darinya kalau dia sudah membereskan masalahnya.”


Kenneth membelalakan mata. Mendengar hal itu saja bisa langsung membuatnya tahu bahwa mereka sudah mulai menyadari bahwa dirinya sedang mengintainya. Mereka sadar? Sial. Tapi semoga saja ini tidak membuat penyamaranku terbongkar…


“Lalu?”


“Kami menghubungi anak buah kami dan mereka mengatakan kalau mereka berada di rumah sakit karena mengalami kecelakaan. Setelahnya kami baru sadar kalau orang yang menghubungi kami sebelumnya bukanlah anak buah kami, melainkan orang lain. Dan berita buruknya adalah… aku sudah mengatakan kemana kau akan pergi.”


“APA?! BODOH!”


...***...