
Sebuah taksi dinaikinya, ia berkata pada supir untuk membawanya ke jalan Sheldon Winter. 3 jam sudah Kirara menaiki taksi. Setelah turun, ia pun membayar. Benar kata pemuda di restoran tadi, harga untuk perjalanan menuju La Meera* sangat mahal. Selain karna jaraknya jauh, juga karna tempatnya yang berbahaya.
Kakinya melangkah menuju gang kecil di jalan Sheldon Winter. Di ujung gang dapat terlihat papan nama bertuliskan La Meera dan 2 orang penjaga. Penjaga yang melihat seorang anak kecil bertanya "Anak kecil, apa yang kau lakukan disini? Pulanglah!"
"Paman apa kau tahu lencana ini?" Kirara bertanya sambil menyodorkan lencana ayahnya.
"Anak kecil, darimana kau mendapatkan lencana ini?" Tanya penjaga yang satu lagi.
"Ayah memberikannya padaku. Ayah bilang aku bisa bertemu paman Evan jika menunjukkan lencana ini" Ujar kirara sambil menyimpan kembali lencana ayahnya.
"Jangan bilang ayahmu bernama Fillen? Dan pamanmu itu tuan besar Evan?" Sang penjaga bertanya lagi untuk memastikan identitas gadis kecil di depannya.
"Memang benar. Aku ingin bertemu dengannya bolehkah aku masuk?" Ucap Kirara.
"Baiklah. Masuklah dan tunggu disini. Aku akan bilang pada tuan besar" penjaga mengantarnya sampai kedalam. Ia kemudian menelpon seseorang. Kirara duduk di ruang tunggu. Sesekali ia menolehkan kepalanya melihat sekeliling.
Hampir 1 jam Kirara menunggu akhirnya, terdengar suara mobil diluar. Sepertinya itu adalah mobil yang dikendarai orang yang dicari Kirara. Seorang pria berumur awal 40 tahun melewati pintu masuk. Pria itu adalah Evan. Orang yang dicari Kirara. Setelan jas hitam dan dasi bewarna hitam. Sangat jelas wibawa dan aura sangar menguar darinya sehingga orang-orang di sekitarnya membungkukkan tubuhnya setiap melihatnya. Dibelakangnya ada 2 orang yang mengikuti. Mereka berpakaian serba hitam.
Pria itu berjalan menuju arah Kirara. Ia kemudian duduk di depannya dan 2 orang pengawal berdiri di belakangnya. Kirara yang mengetahui kalau pria itu duduk di depannya langsung berdiri dan sedikit membungkukkan dirinya. Pria itu sedikit terkejut dngan sikap Kirara.
"Duduklah! Aku tidak membutuhkan penghormatan dari anak kecil sepertimu" ucapnya sedikit sarkas.
"Terimakasih. Namun, saya juga harus menghormati orang yang dihormati oleh bawahannya. Dan lagipula bukankah ini adalah tempat milik anda?" Kirara bangun dari sikap hormatnya, menjelaskannya dengan tersenyum kecil.
"Ya kau benar. Jadi kau adalah anak dari Fillen?" Evan memulai percakapannya.
"Iya benar" Kirara menjawab mengikuti alurnya.
"Berapa lama kau menunggu?" Evan.
"Sekitar 1 jam" Kirara.
"Kau sudah makan?" Evan.
"Emm belum" Kirara.
"Suruh pelayan membawakan sepiring camilan dan susu hangat!"
Tak lama ada seorang perempuan membawakan sepiring camilan dan susu hangat. Perempuan itu meletakkannya di depan Kirara. Setelahnya perempuan itu pamit pergi.
"Kau kesini sendirian? Apa kau tidak takut? Dimana ayahmu?" Evan.
"Ayah sudah pergi jadi, saya kesini sendiri. Sebenarnya saya memang takut untuk pergi kesini tapi, karna ini permintaan ayah jadi, saya harus melakukannya" raut pilu terpampang di wajah Kirara.
"Kenapa kau pergi kesini mencariku?"
"Saya hanya ingin memenuhi permintaan ayah dan juga memberikan surat ini pada paman" ucap Kirara sembari memberi surat ayahnya.
Evan menerima suratnya. Ia melihat tulisan di luar surat itu. Jelas nama Evan Velerie tertera disana. Dan itu adalah tulisan tangan Fillen. Anak kecil di depannya tidak mengada-ngada. Evan kemudian membaca surat itu setelah memastikannya.
Untuk sahabatku,
Evan Velerie
Jika kau membaca surat ini, aku sudah tidak lagi memijak bumi. Maaf aku tak bisa bertemu denganmu lagi, sebagai gantinya anakku yang melakukannya.
Evan, kau berkata akan mengabulkan satu keinginanku bukan? Sekarang aku akan menagihnya. Tolong rawat anakku Kirara sampai ia bisa berdiri dengan dua kakinya sendiri, sampai ia tahu kejamnya dunia aku ingin, kau menemaninya. Latih dia agar siap menghadapi dunia.
Tergantung padamu ingin merawatnya bagaimana. Kau boleh mempekerjakan anakku tapi jangan buat dia merasakan kelaparan sekalipun, jangan buat dia merasakan panas dinginnya cuaca dan jangan sampai ia terluka.
Sepertinya, berlebihan bagiku jika aku ingin kau merawatnya seperti anakmu sendiri tapi, aku masih berharap kau mau menjadi ayah angkatnya. Kirara masih membutuhkan orangtua disisinya. Aku dan istriku tak bisa menemaninya lagi. Isilah posisi yang kosong itu! Sebagaimana permintaan terakhirku.
Semoga dirimu dan keluargamu selalu dalam keadaan sehat.
Dari sahabatmu,
Fillen Castiella