Dark Agent

Dark Agent
Bukan Mimpi



Guratan sedih muncul di wajah pria itu. Satu-satunya sahabat yang paling dekat dengannya sekarang sudah tertidur dalam damai. Kini ia menerima surat terakhirnya untuk merawat anak semata wayangnya itu.


"Baiklah nak, siapa namamu?" Tanya Evan.


"Kirara, Kirara Castiella " ucap Kirara mantap. Sebenarnya Kirara mewarisi 2 nama keluarga. Castiella nama keluarga ayahnya dan Asyelan nama keluarga ibunya.


"Namaku Evan Velerie, kau bisa memanggilku paman Evan. Baiklah Kirara, maukah kamu tinggal denganku?" Tanyanya lagi. Meskipun Evan terlihat seperti orang yang kejam namun, ia adalah sosok ayah yang penyayang bagi anaknya.


"Apakah itu adalah permintaaan ayah yang tertulis dalam surat itu?" Kirara menjawab dengan pertanyaan.


"Bisa dibilang begitu" Pikir Evan


"Baiklah, saya akan menurutinya" jawab Kirara.


"Kalu begitu kamu ikutlah denganku! Habiskan dulu cemilannya! Baru setelah itu kita pergi" perintah Evan.


Kirara dengan cepat menghabiskan cemilan yang disuguhkan. Setelah selesai, keduanya pun berdiri dan melangkah keluar. Kirara berjalan di samping EvanĀ  sesuai yang diperintahkan. Satu unit mobil sedan mewah terparkir tepat di depan pintu. 2 penjaga tadi lantas membukakan pintu mobil untuk tuannya.


"Masuklah dulu!" Perintah Evan pada Kirara. Kirara tak menjawab, ia hanya mengangguk lalu masuk dan duduk di bangku belakang.


"Paman, kita akan pergi kemana?" Tanya Kirara.


"Kita akan pulang ke rumah paman" ujar Evan.


30 menit berlalu dalam mobil. Suasana hening begitu jelas terasa. Tak ada bincang-bincang ringan yang mencairkan suasana. Hingga mobil sampai di gerbang sebuah rumah.


"Waaaah paman, ini rumah paman? Besar sekali" ucap Kirara yang kagum dengan rumah pamannya itu. Matanya berbinar melihat betapa mewahnya rumah itu. Mulutnya tanpa sadar terbuka saking kagumnya.


"Benar! Ini rumah paman. Mulai sekarang kamu akan tinggal disini" Evan.


"Aku? Tinggal disini? Apa boleh paman?" Tanya Kirara tidak percaya.


"Tentu saja boleh! Kamu mau kan?" tanya Evan.


Kirara mengangguk dengan semangat. Siapa juga yang tidak mau tinggal di rumah mewah ini.


"Ayo turun! Kita sudah sampai" ucap Evan mengakhiri kekaguman Kirara.


Wanita yang berdiri tepat di tengah pintu menyambut Evan dengan pelukan. Wanita itu melihat ke arah Kirara. Evan yang tahu itu lantas memperkenalkannya "Ini Kirara, dia anaknya Fillen"


"Jadi kau yang bernama Kirara, boleh aku memanggilmu Rara?" Tanya Amelie dengan senyum lembut terukir diwajahnya.


"Iyaa" Kirara menjawab dengan ceria.


"Anak baik. Namaku Amelie, kamu bisa memanggilku Bibi Mel. Baiklah Rara, apa kau sudah makan malam?" tanya Amelie lemah lembut.


"Belum Bibi Mel" Kirara menjawab dengan senyuman.


"Masuklah! Kebetulan kami belum makan malam. Kamu bisa makan bersama kami. Oh iya, berikan barang bawaanmu pada Roland!" kata Amelie.


"Biar saya bawakan nona!" Seorang pelayan laki-laki mengajukan diri untuk membawakan barang Kirara. Laki-laki itu adalah Roland. Dia seorang kepala pelayan di mansion ini. Umurnya masih terbilang sangat muda yaitu 23 tahun. Padahal pasti banyak orang yang mau mempekerjakan dia tapi, kenapa ia malah menjadi kepala pelayan.


"Stella! Tolong siapkan makan malam untuk kami!" Perintah Amelie kepada pelayan bernama Stella.


"Baik nyonya!" Stella menunduk lalu bergegas menyiapkan makan malam.


Amelie mengajak Kirara ke ruang makan. Sedangkan Evan melepas jasnya dan diberikan pada pelayan laki-laki di sampingnya. Setelahnya ia mengikuti istrinya menuju ruang makan. 10 menit berlalu. Makanan sudah siap di meja makan.


"Nah Rara, makanlah yang banyak! Tak perlu sungkan" Amelie mengajak Kirara makan.


"Iya. Terimakasih Bibi Mel" tak lama setelah mengucapkannya, Kirara langsung memulai makannya. Suapan demi suapan masuk kedalam mulutnya. Matanya terpejam menikmati betapa enaknya makanan yang disantapnya itu. Amelie yang melihat Kirara makan tersenyum lucu. 'Bagaimana orang tega menelantarkan anak kecil yang lucu ini' benaknya berpikir. Suara alat makan berdentingan saling beradu. 20 menit berlalu. Makanan di meja makan sudah tak tersisa.


"Tidurlah. Kamarmu ada di lantai 2 sebelah kanan. Besok aku akan mengajakmu berkeliling. Roland sudah menaruh tasmu disana. Kamu bisa melihatnya dulu untuk beradaptasi. Kamu juga bebas untuk menggunakan kamar itu. Sekarang kamar itu milikmu" Amelie memberikan sebuah kamar di lantai 2.


"Baik terimakasih bibi Mel" Kirara berbinar mendengarnya.


"Sama-sama nak" jawab Amelie tersenyum.


Kirara naik ke lantai 2. Ia masuk ke kamar barunya itu. Kamarnya begitu luas, nuansanya benar-benar berbeda. Warna abu-abu cerah dengan garis putih menutupi dinding kamar. Langit-langitnya berwarna biru tua dengan gambar awan yang menghiasi. Persis seperti langit malam. Membawa ketenangan bagi siapapun yang berada disana.


Kirara kemudian melangkahkan kakinya entah kemana. Kamar mandi dalam ruangan, lemari pakaian besar dan juga ranjang dengan kasur besar yang empuk. Benar-benar luar biasa. Ia bahkan tak penah membayangkan hal seperti ini. Ia membuka lemari pakaian. Semua barang yang dibawanya diletakkannya dalam lemari itu. Besok pagi ia akan merapikannya. Kini saatnya ia tidur. Ia hanya berharap ini bukan mimpi.