Dark Agent

Dark Agent
Kesedihan yang Terulang



Kirara menghirup udara dalam-dalam, mempersiapkan dirinya untuk bercerita. Dalam pikirannya sudah terlintas kejadian yang merenggut nyawa orangtuanya. Dada Kirara sesak menahan tangis.


"Pada awalnya semua baik-baik saja. Hingga pada suatu hari segerombolan orang berseragam muncul. Mereka juga membawa senjata. Atas perintah tuan mereka, mereka mulai membantai seluruh penduduk desa. Para penduduk tak tahu alasan mengapa tiba-tiba mereka diserang padahal, tidak ada orang yang pernah berintersksi dengan orang-orang itu. Para penduduk berusaha membela diri dengan alat seadanya. Ayah dan ibu juga ikut untuk bergabung dengan para penduduk. Sebelumnya ibu memintaku untuk bersembunyi di ruang bawah tanah sampai ia menjemputnya.


Disana aku sangat ketakutan. Tubuhku gemetar meringkuk di sudut. Suara teriakan dan tembakan saling menyahut. Jeritan wanita dan anak-anak juga terdengar entah apa yang mereka lakukan. Aku semakin ketakutan. Lengan bajuku basah karna airmata. Pada akhirnya aku tertidur karna lelah menangis. Entah berapa lama waktu berlalu aku terbangun. Tidak ada lagi suara yang terdengar dan bau darah begitu pekat terhirup.


Aku keluar untuk melihat apa yang terjadi namun, seketika aku terdiam dan perlahan menangis. Pemandangan yang mengerikan. Semua orang sudah tergeletak tak berdaya dengan darah yang berceceran dimana-mana. Anak-anak dan wanita bahkan tidak mereka lepaskan. Aku putus asa mencari keberadaan ayah dan ibu hingga aku menemukannya. Namun keadaan ayah dan ibu juga tak jauh berbeda dengan mereka. Pakaian yang terbasahi darah. Badan yang penuh luka-luka. Tubuh mereka sudah dingin. Saat itu aku benar-benar putus asa. Kehilangan cahaya yang menuntun jalanku membuatku terjerumus dalam kesepian. Aku menyesalinya. Saat orang lain sedang berjuang demi hidup mereka bisa-bisanya aku  tertidur lelap. Aku benar-benar anak yang nakal"


Tangis Kirara pecah. Ia tak mampu menahan kesedihannya lagi. Tangisan itu menyayat hati keluarga Velerie yang lain. Mereka merasa bersalah karna memaksa Kitrara untuk menceritakannya. Amelie mencoba menenangkan Kirara dengan memeluknya. Namun tangis Kirara semakin menjadi. Ia bahkan berkata semua ini terjadi karna ulahnya. Setelah dirinya mulai tenang ia melanjutkan ceritanya.


"Setelah itu aku mengubur jasad ayah dan ibu.  Kepergian mereka membuatku putus asa. Namun, aku perlahan bangkit. Demi orangtuaku, dan demi membalas pada orang-orang yang menghabisi mereka. Sebelum ini aku sudah hidup sendiri selama 2 bulan di desa. Aku mulai mencari makanan di hutan belakang. Namun saat itu aku tidak beruntung. Ada seekor harimau yang menginginkan ikanku dan bahkan aku terluka karnanya. Aku sembuh dan mulai beraktivitas lagi. Hingga, musim dingin datang. Sungai membeku, pohon juga tidak berbuah. Aku kehabisan cadangan makanan. Aku berpikir untuk mulai hidup di ibukota. Saat mencari modal untuk pergi aku menemukan buku milik ayah. Dalam buku itu, ayah memintaku untuk bertemu paman. Sampai disini cerita selanjutnya sudah kalian ketahui sendiri"


Hati Shen luluh. Ia benar-benar merasa kasihan dengan Kirara setelah mendengar ceritanya. Sungguh cerita yang menyedihkan. Kirara bahkan menyalahkan dirinya sendiri atas kematian orangtuanya. Sepertinya ia benar-benar terpuruk.


Keluarga Velerie berdiskusi tentang apa yang akan dilakukan kedepannya. Amelie dan Evan bermaksud untuk berkunjung ke Desa Liyang, desa yang di tinggali Kirara dulu. Mereka ingin membantu Kirara untuk menemukan dalang dibalik semua kejadian yang menimpanya.


Evan berpikir kalau sebenarnya orang-orang itu mengincar Fillen yang menjadi buronan bersamanya. Evan mulai menyalahkan dirinya 'Jika saja aku tak mengajaknya untuk bekerja denganku, pasti dia masih menjalani hidup yang damai bersama keluarganya' suatu penyesalan muncul di sudut hatinya.


Keesokan harinya setelah sarapan, pasangan pemilik rumah itu pergi. Tapi sebelum mereka pergi, Evan sempat bertanya pada Kirara tentang ciri-ciri  orang-orang yang membantai seluruh penduduk Desa Liyang. Kirara berkata kalau mereka orang yang memakai seragam bewarna abu-abu. Sepertinya mereka tentara. Dan ada satu orang yang memerintah mereka, mungkin setingkat jenderal, ada luka di pipi kanannya. Evan tak tahu pasti alasan mereka membantai seluruh penduduk desa. Apalagi yang memimpin mereka orang setingkat jenderal.


Kirara ditinggal berdua dengan kakaknya. Selain karna pergi untuk melihat keadaan desa, mereka juga ingin kedua anaknya cepat akrab. Mereka juga ingin menikmati waktu berdua saja dengan berjalan-jalan. Ya mereka juga pasangan yang harus menikmati waktu romantis mereka. Sepertinya mereka tak akan pulang cepat.