
Kirara sudah memakan habis ikannya. Hanya tersisa tulang dan kepalanya saja. Entah dia lapar atau memang suka ikan, kirara menghabiskan keduanya tanpa sisa hingga suara sendawa keluar dari mulutnya.
"Aaah aku kenyang. Aku harus pulang sebelum matahari terbenam" ucapnya.
Kakinya mulai melangkah kembali kerumah dengan tangan yang menenteng beberapa apel dan ikan serta kayu bakar di punggungnya. Kirara sudah sampai di rumah. Ia menuju ke markasnya meletakkan buah apel kedalam keranjang buah. Sepertinya kirara lupa kalau dia tidak punya akuarium alhasil ia memasukkan ikannya kedalam sebuah guci besar.
"Haaaah aku lupa aku tidak punya akuarium. Untungnya disini ada guci besar dan beruntungnya lagi ikanku tidak mati dalam perjalanan. Nah kalau begitu bahan makanan untuk besok sudah siap"
Hari sudah gelap diluar. Kirara membuat sup ikan untuk makan malam dengan kompor kayu bakar. Buah yg di dapatkan kemarin dihaluskan dengan air untuk membuat minuman. Setelah kenyang makan, kirara merebahkan dirinya untuk beristirahat.
Keesokan harinya kirara mulai menggali tanah untuk membuat kolam ikan. Ia juga membuat beberapa lubang untuk ditanami benih buah. Saat tengah hari semua pekerjaannya sudah selesai. Meskipun kirara tidak membuatnya begitu luas tapi sangat membuat ia kelelahan. Kirara pergi ke sungai untuk membersihkan dirinya yang kumal. Ia membawa dua ember kosong bersamanya dan juga apel untuk menemani perjalanannya.
Sampai di sungai kirara merendam kakinya. Ia menyukai sensasi dingin yang disalurkan air sungai melalui kakinya itu. Setelah dirasa cukup untuk menyejukkan kakinya ia melompat kedalam sungai. Suara percikan air terdengar begitu keras. Sesaat kemudian kepala kirara muncul ke permukaan, mengambil napas dan mulai membersihkan dirinya. Kirara tidak khawatir tenggelam karna sudah pandai berenang dan juga air sungai di hutan tidak terlalu dalam.
"Yaah mungkin saat ini hanya sebuah kolam tapi suatu saat aku pasti akan membuatnya menjadi danau" ujar kirara.
Semua hal itu ia lakukan setiap harinya. Kolam yang tadinya kecil mulai menjadi danau karna selalu digali setiap harinya. Ikan didalamnya semakin banyak. Batu sungai yang diambilnya kini menghiasi di tepinya. Benih yang dulu ditanam sekarang sudah bertumbuh dan akan berbunga.
Sudah dua bulan berlalu. Desanya mulai memasuki musim dingin. Perlahan tapi pasti udara mulai menjadi dingin. Sinar matahari tertutupi awan salju. Pepohonan memutih seiring banyaknya kepingan salju yang turun. Hewan-hewan di hutan memasuki masa hibernasi. Tiada suara kicauan burung ataupun serangga-serangga bising yang terdengar. Salju turun menutupi semua yang ada di sekitarnya. Salju menumpuk diluar rumah membuatnya semakin merasakan kesepian. Tak ada persediaan makanan dirumah kini, perutnya pasti akan kelaparan. Sepertinya sekarang ia harus pergi ke ibukota.
Kirara sudah terbiasa dengan hidupnya. Jujur saja tinggal sendirian di desa yang semua penduduknya sudah mati itu membuatnya sangat kesepian. Ia juga tidak mungkin tinggal disini selamanya tanpa berinteraksi dengan orang lain. Sepertinya sudah saatnya ia pergi ke kota, tentu sesekali ia akan kembali. Namun untuk pergi ke kota ia membutuhkan banyak uang. Darimana ia mendapatkannya?
Berbagai argumen beradu didalam kepalanya. Bagimana cara mendapatkan uang? Bagaimana caranya ia pergi ke ibukota? Setelah sampai apa yang harus dilakukan? jika uang sudah didapat tidak menjamin bagaimana selanjutnya. Jika ia kehabisan uang di ibukota bagaimana? Bekerja? Apakah ada yang mau mempekerjakan anak kecil? Kemungkinan terburuknya dia menjadi seorang gelandangan yang mati karna kelaparan. Sudah cukup dengan semua hal yang berkecamuk di pikirannya. Sekarang ia harus tidur, baru besok ia mencari jalan keluarnya.