
"Ngomong-ngomong Evan, kapan dia pulang?" Amelie ingat anak satu-satunya itu tak kunjung pulang.
"Mungkin sekitar 2 hari lagi. Dia juga tak akan langsung pulang kerumah jika tugasnya selesai. Dia pasti akan pergi ke suatu tempat lebih dahulu. Kemungkinan besarnya dia pergi berlatih lagi. Yah, itu kebiasaannya" Evan sudah pasrah dengan anaknya yang satu itu.
"Hah anak itu benar-benar, tidak bisa tertolong lagi jika menyangkut soal latihan. Memangnya apa yang kau tugaskan padanya?" Amelie tidak bisa apa-apa lagi terhadap anaknya itu.
"Aku menyuruhnya untuk mengambil pesanan di dermaga dekat dengan Apocalipse*. Seharusnya ia sudah selesai hari ini. Aku menambah tugasnya untuk mencari keadaan di desa Liyang, desa yang ditinggali Kirara. Mungkin besok kita akan mendengar kabarnya" Evan menjelaskan
"Baiklah. Ini saatnya kita tidur" ucap Amelie menyudahi perbincangan mereka.
Mereka berdua kemudian beranjak dari sofa. Kamar sebelah kiri di lantai 2 dituju mereka. Kini saatnya memejamkan mata mereka untuk menyambut hari esok yang lebih cerah.
Mentari pagi mulai memunculkan sinarnya dengan malu-malu. Meski cahaya matahari belum terpancar sempurna namun, semua orang dalam mansion sudah memulai aktivitasnya. Pelayan memulai rutinitas mereka membersihkan mansion dan memasak makanan.
Seorang gadis sudah terbangun dari tidurnya. Ia memulai paginya dengan merapikan lemarinya. Beberapa helai pakaian yang dibawa digantung rapi dalam lemari. Perhiasan milik ibunya yang tersisa dan uang hasil menjual perhiasan disimpan dalam laci lemari. Buku ayahnya disimpan dalam laci tempat tidur. Sedangkan barang yang lain hanya diletakkan dalam lemari. Satu set pakaian disiapkan untuk ganti baju. Ia membawanya ke kamar mandi.
Setelah selesai merapikannya, Kirara mulai bersiap untuk mandi. Bathub diisinya dengan air hangat agar ia tak kedinginan di musim dingin ini. Tubuhnya yang polos terendam dalam air. Hangatnya air menjalar ke seluruh tubuh melepas semua lelah yang selama ini hinggap. Haaa, ini adalah sebuah kemewahan kecil namun, terkadang sulit didapat.
"Ah aku lupa, aku kan membawa wewangian mandi milik ibu" ia lantas melingkarkan handuk di tubuhnya. Mengambil wewangian yang tersimpan dalam lemari. Di botolnya tertulis "Lily of Halley" dengan apik. Ia kembali ke kamar mandi dan menuangkan wewangian ke dalam bathub. Meletakkan handuknya kembali dan menaruh botol wewangian dalam laci. Dalam kamar mandi memang ada laci kecil.
Ia kembali merebahkan tubuhnya dalam bathub. Aroma bunga Lily tercium lembut membalut seluruh tubuh. Ini adalah aroma yang dirindukannya. Aroma yang selalu tercium dari tubuh ibunya. 15 menit berlalu, Kirara sudah menyelesaikam ritual paginya. Ia beranjak dari bathub, mengeringkan tubuhnya dengan handuk dan membalut dirinya dengan pakaian yang tadi sudah dia siapkan.
Bunyi suara ketukan pintu mengakhirinya. Rupanya pelayan yang bernama Stella yang mengetuk.
"Tok tok tok! Nona, apa anda sudah bangun? Ini saatnya sarapan. Anda sebaiknya bergegas turun kebawah untuk sarapan bersama"
"Aku sudah bangun, sebentar lagi aku akan kesana" jawab Kirara sedikit berteriak.
Evan dan Amelie sudah menunggu di ruang makan dengan segala jenis makanan uang tersaji di meja. Tak lama kemudian Kirara turun ke ruang makan. Sejenak ia berhenti melangkah. Apakah mereka mau makan bersama? Begitulah isi pikiran Kirara yang membuatnya berhenti melangkah. Amelie yang melihat itu melambaikan tangannya untuk datang dan makan bersama. Salah seorang pelayan menarik kursi untuk di duduki Kirara. Kirara canggung. Ia hanya menurut.
"Bagaimana tidurmu?" Amelie mengajak Kirara berbicara untuk menghilangkan kecanggungan.
"Sama-sama. Sekarang makanlah yang banyak, kita akan berkeliling rumah setelah ini" Amelie senang melihat Kirara yang tersenyum. Ia berharap kedepannya akan terus ada hal-hal baik yang membuatnya selalu tersenyum di rumahnya.
Menit demi menit berlalu. Semua orang sudah selesai dengan sarapan mereka. Kini saatnya Amelie mengajak jalan-jalan di sekitar mansion.Amelie mulai mengenalkan Kirara dengan semua pekerja di rumahnya. Mulai dari Roland si kepala pelayan atau butler. Stella dan Celine yang menjadi pelayan. Vallan sang kepala koki. Karl dan Max si pengawal. Steve yang seorang supir pribadi. Hingga Beilyn si tukang kebun.
Amelie memastikan bahwa semua orang dirumahnya harus mengenal Kirara sebagai nona muda di rumahnya. Setelah selesai berkenalan ia menunjukkan satu persatu bagian dari rumahnya.
"Nah rara, kamu pasti setidaknya tau sedkikit bagian dari rumah ini. Lantai 2 yang berada di ujung kiri adalah kamarku dan Evan, kemudian lantai 1 dipakai untuk kamar tamu. Di sini ada ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan dan dapur. Jika melewati pintu di dapur disana ada asrama para pelayan dan pekerja"
Tak cukup hanya di dalam rumah, Amelie membawa Kirara keluar menuju taman dibelakang rumah. Taman luas dengan hamparan bunga yang harum bewarna-warni. Ada juga danau buatan di tengah-tengah taman. Diatasnya dibangun sebuah gazebo klasik untuk bersantai. Ada juga ayunan yang digantung disebuah pohon.
Amelie menyuruh Kirara untuk beeistirahat di bangku taman itu. Hembusan angin sepoi-sepoi dan pemandangan indah di depan mata menghilangkan semua rasa lelahnya.
"Apa kau lelah?" Amelie tahu jika Kirara butuh untuk mengistirahatkan kakinya yang kelelahan.
"Iya sedikit, tapi setelah duduk disini dan melihat pemandangan indah semua kelelahanku rasanya pergi jauh" mata Kirara terpejam sejenak menikmati hembusan angin yang menyentuh lembut.
"Rara, aku tahu saat ini kamu sendirian tanpa orangtuamu. Karenanya apa kamu mau menjadi anakku dan memanggilku ibu? Kamu akan selalu mendapat kasih sayang sama seperti sebelumnya disini dan setidaknya aku akan menjanjikan kehidupan yang layak untukmu. Maka dari itu, apa kau mau?" Amelie ingin Kirara menjadi anaknya.
Kirara bungkam. Ia terharu mendengar tawaran bibinya. Ia memang mengharapkan keluarga dan orang yang selalu memperhatikannya. Tapi, apa boleh?
"Apa boleh saya mendapat perlakuan yang berlebihan seperti ini?"
"Tentu saja boleh. Bagaimana?" Jawab Amelie lembut. Saat ini memang Kirara membutuhkan perlindungan seseorang. Dan saat ini hanya keluarganya yang dikenal olehnya.
"Saya mau! Hiks.. hiks saya mau. Terimakasih terimakasih ibuuuu hiks" rasa haru dan terimakasih memenuhi hati Kirara. Airmatanya tumpah tak terkendalikan. Isak tangis yang menyayat hati terdengar di telinga. Amelie dengan sigap memeluknya dan menenangkannya. Suatu hal yang dia pikir tak akan leenah ia dapatkan lagi kini, datang menghampirinya. Kasih sayang keluarga, perhatian yang hanya tertuju padanya dan kata-kata indah yang hanya bisa didengar olehnya. Bagai pohon patah yang menumbuhkan tunas baru, harapannya kini timbuh lagi. Tak ada lagi rasa dingin yang menyelimuti. Kini hanya akan ada kehangatan yang selalu membungkusnya. Rasa rindu tiba-tiba terbesit dalam benaknya. Ayah dan ibu yang telah tiada sekarang posisi itu sudah ada yang mengisi. Bagaimana ia harus menyikapinya?
*Apocalipse\= markas cabang yang berada di luar negri