
Suara tembakan terdengar di sana-sini. Satu pihak mengenakan seragam dengan di pandu oleh orang berpangkat tinggi. Pihak yang lain adalah warga desa ini. Entah karna apa pemusnahan massal ini terjadi. Para warga yang tak memiliki senjata menjadi sasaran empuk bagi orang-orang berseragam itu. Beberapa bersembunyi di dalam rumah tapi mereka tetap tak selamat. Sedangkan yang lain melawan mereka dengan alat seadanya.
Desa yang berada di kaki bukit jauh dari ibukota yang paginya bewarna hijau menyegarkan saat malam, kini berubah menjadi warna merah yang mencekam. Tiada suara serangga yang saling menyahut. Tiada juga kunang-kunang yang memberi setitik cahaya di desa itu. Pegunungan kini tertutupi oleh tumpukan mayat dengan darah yang masih mengalir. Hujan yang mengguyur membuat genangan darah dimana-mana. Bau anyir darah tercium di seluruh penjuru desa.
Suara tembakan dan teriakan yang saling menyahut tak lagi terdengar di desa. Peperangan sepihak itu berhenti pada tengah malam. Semua orang-orang berseragam beserta pemimpinnya pergi dari desa itu
Suara tangisan seorang gadis kecil terdengar samar di bawah rintikan hujan. Di depannya tergeletak dua jasas yang masih mengalirkan darah segar, kedua jasad itu adalah orangtuanya yang menjadi korban dalam peperangan sepihak itu. Sekarang tanpa mereka ia harus menjalani kerasnya kehidupan seorang diri.
Pada awalnya saat perang terjadi, ia bersembunyi di ruang bawah tanah yang berada tepat di bawah meja di kamar orangtuanya. Sang ibu memberitahu untuk tidak keluar sampai perang ini selesai, ia hanya menurut menunggu di sana sampai orangtuanya menjemputnya. Akan tetapi peperangan tak kunjung usai, gadis kecil mulai takut apabila ia di temukan oleh orang-orang berseragam itu.
Setelah beberapa saat terlelap ia pun terbangun dengan pandangan yang masih buram ia berpikir 'apakah sudah selesai?'. Tanpa tahu apakah hari sudah berganti ia keluar dari persembunyiannya dan menyadari tiada lagi suara tembakan dan teriakan yang terdengar. Bau darah sangat kental hingga tercium dari dalam rumah. Hanya satu yang ia pikirkan, 'apakah ayah dan ibu selamat?'. Dengan fokus yang hanya tertuju pada keselamatan orantuanya ia bergegas peegi ke depan pintu memastikan tak ada orang berseragam yang masih tinggal di baliknya. Setelah yakin bahwa tak ada seorangpun orang berseragam itu, ia bergegas keluar mencari orangtuanya di seluruh penjuru desa.
Ia berlari dengan terengah-engah sembari menutup hidunya karna bau darah yang pekat, berharap menemukan orangtuanya. Mencari sampai ke sudut dan ujung desa dan pada akhirnya ia berhenti di satu titik. Ia menemukannya, ia menemukan orangtuanya tergeletak tak jauh dari sisi depan desa. Sepertinya orangtuanya berada di garis depan untuk melawan orang-orang berseragam itu.
Gadis kecil itu menhampiri mayat orangtuanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Menyadari bahwa orantuanya sudah tak lagi bernyawa, gadis kecil itu terduduk lemas dan akhirnya air matanya menetes. Hujan pun turun dengan deras menutupi suara pilu gadis kecil yang memanggil ayah dan ibunya. Hingga tanpa di sadari matahari mulai terbenam dan malampun datang mebuat gadis kecil itu terlelap di atas jasad orangtuanya karna kelelahan.
Matahari yang terbit dari ufuk timur membangunkan gadis itu dengan mata yang masih sembab. Ia pun berusaha kuat, ia akan menjalani hidup yang berat kedepannya tanpa dukungan dari orangtuanya.