
"Kakak apa yang akan kita beli?" Kirara bertanya pada kakaknya.
"Entahlah kakak juga tidak tahu" Shen menjawab sambil menaikkan pundaknya sedikit.
Kirara yang mendengar ucapan kakaknya wajahnya langsung mejadi datar. 'Dia sendiri yang membawaku ke sini tapi tak tahu harus membeli apa? benar-benar hebat' Kirara bertepuk tangan dalam hati.
"Hey hey apa-apaan wajah datarmu itu hmm?" Shen mencubit pipi kirara karna merasa gemas dengan kelakuan adiknya itu.
"Adududuh am.....ampun kak berhenti sakiiiiit !!!" Kirara meringis mendapat cubitan dari kakaknya.
Shen melepaskan cubitannya setelah mendengar kirara meringis kesakitan. Yah bekas cubitan itu meninggalkan tanda merah di pipi Kirara.
"Kita beli handphone dulu" Shen berucap.
"Ya kalau begitu aku ikut saja" Kirara mengandeng tangan kakaknya dan menebar kemesraan di mana mana
Shen yang mendapat perlakuan seperti itu tersenyum tipis ia merasakan suatu perasaan yang tumbuh dalam hatinya. Tapi Shen berpikir bahwa itu adalah perasaan biasa sepasang adik dan kakak.
Mereka sudah menyelesaikan acara berbelanja mereka. Tentu saja semuanya di bayar dengan kartu hitam. Sebelumnya karna tak tahu harus membeli apa Shen hampir membeli semua barang yang ada di mall tapi Kirara menghentikannya. Namun, malah Kirara sendiri berujung menjadi seorang yang gila berbelanja tapi ia masih tahu batasan. Kirara juga membeli beberapa perlengkapan untuk menyamar. Ia tahu kedepannya ia akan selalu di cari cari oleh para orang militer ataupun polisi.
Mereka sudah keluar dari mall dan kini mereka berdua ada di dalam mobil hendak pergi ke tujuan berikutnya. Tapi sebelumnya Shen menanyakan kecukupan barang belanjaannya.
"Hmm apa semua sudah di beli? sudah cukup?" tanya Shen.
"Sudah, Semuanya sudah di beli dan ini lebih dari cukup . Ya tentu jika aku mau aku hanya perlu bilang pada kakak bukan? hahaha" kirara tertawa dengan ucapannya sendiri. ya karna itu benar
ya, itu adalah suatu pernyataan. apapun yang di inginkan kirara ia hanya perlu mengucapkannya la hanya perlu mengatakannya dan seluruh dunia akan berada di genggamanya tanpa ia harus berusaha.
"Hmm pintar" Shen berkata tanpa berdosa.
Kirara terdiam mendengar perkataan kakaknya. Dalam batin ia meledak 'Apa apaan jadi selama ini dia menganggapku bodoh? begitu?'
"Aduuuuh adik kakak yang ini kenapa sangat imut hmmm? tidak, kakak tidak menganggapmu bodoh hanya menganggap kau bukan orang yang menggunakan otak untuk berpikir"
setelah mengatakannya shen tertawa kecil
"Kakaaaak, itu sama saja" kirara kesal dengan perkataan kakaknya. Kirara tak ingin melanjutkan kekesalannya. Ia tahu jika kesal ia hanya akan terus di goda oleh serigala ini.
Steve dan Larry yang melihat interaksi antara kakak dan adik itu tersenyum. Kedatangan Kirara dalam keluarga Velerie benar-benar mengubah citra keluarga. Yang awalnya kaku dan dingin kini terkesan lebih hangat. Ini merupakan sebuah berkah yang datang pada keluarga Velerie.
Matahari sudah berada tinggi di langit. Kini waktunya mereka untuk makan siang. Shen memerintahkan Steve untuk pergi ke sebuah restoran ternama di pusat ibukota. Mobil mewah itu kini sudah terparkir di tempat parkir restoran. Larry turun dan membukakan pintu mobil untuk tuannya. Shen turun kemudian disusul Kirara. Belum sampai ke depan pintu, Kirara sudah menghentikan langkah Shen.
"Kakak, apa mereka berdua tidak ikut masuk?" tanya Kirara.
"Tidak, mereka berdua akan berjaga disini" jas Shen.
"Kenapa berjaga? Kita kan akan masuk ke restoran bukankah seharusnya mereka berdua menjaga kita di dalam? Lagipula mereka pasti lapar karna belum makan siang" ucap Kirara tak mengerti.
"Mungkin kamu belum tahu tapi, itu memang etika yang harus mereka punya. Sebagai pekerja di rumah keluarga orang kaya mereka harus salalu siap setiap saat. Menyediakan kebutuhan tuan mereka dan melayaninya. Mereka harus mendahulukan kepentingan tuannya" Shen berusaha menjelaskan tentang etika para pekerja pada Kirara.
"Tapi......" belum selesai Kirara berbicara Steve sudah memotong ucapannya.
"Maafkan saya karna lancang nona. Tapi, apa yang dikatakan tuan muda itu benar. Sebagai seorang pekerja kami harus selalu siap melayani dan jangan sampai membuat tidak nyaman. Dengan anda yang peduli pada kami seperti ini, sudah cukup bagi kami. Jadi, nona dan tuan silahkan menikmati waktu makan siang anda" senyum hormat dan haru menghiasi wajah Steve dan Larry. Bagi mereka ini adalah sesuatu yang berharga. Tidak pernah ada seorang tuan yang mengkhawatirkan para pekerjanya. Meskipun perlakuan yang didapat mereka cukup baik tapi, hal yang dikatakan Kirara pada mereka membuat terkesan. Dalam hati mereka benar-benar menyukai nona mudanya itu. Berjanji akan selalu mengabdi padanya.
Kirara tak bisa membantah lagi. Apalagi bila yang bersangkutan sudah berkata seperti itu. Shen dan Kirara kemudian meninggalkan mereka di luar. Kirara masih merasa tidak enak meninggalkan Steve dan Larry di luar. Wajahnya tertunduk bahkan ia sampai tidak fokus dengan makanannya. Shen tahu kegundahan hati Kirara. Bagaimanapun jarang ada perlakuan tuan yang peduli terhadap bawahannya. Kirara adalah seorang anak yang baik. Shen mencoba membujuk Kirara.
"Makanlah jika tidak kamu akan kelaparan. Makan malam masih sangat lama. Bagaimana jika kita membungkus makanan untuk mereka?"
Kirara lantas mendongakkan kepalanya menghadap Shen. Apa yang dikatakan kakaknya adalah jalan keluar yang ingin dicarinya. Senyum mulai terukir diwajahnya. Kini kegundahan hatinya sudah sedikit terangkat. Kirara menganggukkan kepalanya dengan semangat. Kali ini ia akan menikmati makanannya dengan senang.