
Di lantai satu, asrama pelayan, Roxy dan Stella masih terjaga. Mereka berdua masih khawatir dengan keadaan tuan mereka. Stella merogoh sakunya, mengambil sebuah benda tipis untuk mengirim pesan pada nyonya pemilik mansion. Setiap pelayan sebenarnya memiliki handphone. Hanya boleh digunakan ketika ada keadaan darurat atau memberi suatu keadaan di mansion. Jari-jarinya dengan luwes menekan beberapa tombol.
'Nyonya, sepertinya nona muda trauma. Nona ketakutan mendengar kilatan dalam hujan. Nona tadi sempat berteriak sangat kencang hingga para pelayan menghampiri nona. Tuan muda juga mendengar suara teriakan nona. Tuan muda bergegas masuk ke kamar nona untuk menenangkan nona. Nona sangat ketakutan bahkan sampai menangis. Saat ini tuan muda ada di kamar nona untuk menemani nona'
Seorang wanita menerima pesannya di seberang. Saat ini ia berada jauh dari ibukota. Membutuhkan setidaknya satu hari perjalanan dengan pesawat untuk datang ke ibukota. Ia khawatir. Saat ini anaknya sangat membutuhkan banyak orang di sekitarnya. Pesan singkat diketiknya lalu kemudian dikirim pada Stella.
'Aku akan pulang setelah menyelesaikan berkas-berkas di sini. Setidaknya butuh tiga hari. Aku akan segera pulang. Kau jagalah Kirara'
Setelah mengirim pesan itu, Amelie kembali bekerja keras lebih dari sebelumnya. Karna mendengar kabar tentang anaknya, ia harus bersegera menyelesaikan pekerjaannya.
Sedangkan Roxy, ia kembali ke lantai 2 melihat keadaan tuannya. Rupanya tuannya itu tertidur dengan tangan yang masih menggenggam tangan Kirara. 'Sepertinya trauma nona sudah berhenti. Sekarang nona sudah bisa tertidur' kini hatinya sudah tenang. Roxy memberitahukannya pada Stella. Stella bersyukur, bernapas lega. Kini keduanya sudah bisa beristirahat tanpa khawatir.
Setelah malam yang mengkhawatirkan terlewati, matahari muncul dengan sinarnya yang hangat. Aroma tanah yang terkena hujan mengawali pagi. Kirara mengerjapkan matanya beberapa kali. Aroma tanah yang basah terhirup pertama kali, aroma yang sangat disukainya. Ia kemudian menolehkan kepalanya melihat ke seluruh sudut kamarnya. Saat ia berusaha menggerakkan tubuhnya, ia merasa ada sesuatu yang memegangnya. Pandangannya jatuh pada sosok yang memegangnya 'Kakak masih ada disini' hatinya menghangat. Ia tak menyangka kakaknya akan benar-benar berada di sampingnya sampai ia bangun.
Hujan sudah berhenti. Tidak ada lagi suara gemuruh atau kilatan cahaya yang menakutkan. Hanya ada sambutan hangat cahaya matahari saat pagi. Kirara mencoba untuk duduk di ranjangnya tanpa membangunkan kakaknya. Namun, satu gerakan kecilnya membuat kakaknya terbangun. "Ah maaf. Aku membuat kakak terbangun"
"Lupakan itu. Bagaimana keadaanmu?" Shen terbangun dengan rasa khawatir. Telapak tangannya langsung memegang kening Kirara. 'Sedikit panas. Sepertinya demam'
"Aku sudah membaik. Apa kakak berada di sini semalaman?" Jawabnya dengan senyum kecil lemah.
"Iya, bagaimana mungkin aku meninggalkanmu sendirian sedangkan kamu begitu ketakutan? Haaaah sudahlah. Lain kali jika hal seperti ini terjadi lagi, seharusnya kamu bilang terlebih dahulu. Kamu juga bisa tidur dengan ibu, ayah ataupun aku. Dan jangan khawatir kamu akan mengganggu, kami tak pernah menyepelekan hal serius seperti ini" ya, Shen sedikit kesal dengan adiknya yang tak pernah memikirkan dirinya sendiri.
"Iya, baiklah" ucap Kirara dengan senyum merasa bersalah.
Suapan demi suapan bubur dimasukkan kedalam mulut. Hangatnya bubur menjalar ke seluruh tubuh. Di sela-sela makannya Kirara berkata sesuatu.
"Aku tak mengira akan takut pada hujan seperti ini. Padahal dulu aku sangat menyukainya" Kirara berkata dengan senyum pahit. Ia tak mengira akan menjadi seperti ini.
"Sepertinya kamu trauma. Lebih banyak habiskan waktu yang menyenangkan. Lupakan masalahmu " Hibur Shen."Habiskan makananmu. Kamu demam. Beristirahatlah. Aku akan mengunjungimu lagi nanti. Pelayanmu akan menemanimu" ucapnya lagi.
Shen melenggang pergi ke lantai satu untuk melakukan ritual paginya. Sarapan, mandi dan latihan. Shen memang tidak bisa lepas dari latihannya. Biasanya ia akan pergi ke markas utama La Meera untuk berlatih. Namun keadaan saat ini membuatnya tak bisa pergi ke sana. Ia harus menjaga adiknya. Namun, di dalam mansion, tepatnya ruang bawah tanah bisa digunakan untuk berlatih.
Tak lama setelah itu, Stella masuk untuk merawat nonanya. Ia datang dengan membawa seember air hangat dan kain untuk membersihkan tubuh Kirara.
"Nona beristirahatlah hari ini. Biar Stella, pelayan nona ini yang melayani nona" ucap Stella penuh semangat dengan satu tangan mengepal di dada. Sikap yang percaya diri atau mungkin bisa dibilang sombong? Kirara hanya tertawa kecil menyikapi sikap Stella. Baginya ini adalah hal biasa.
Hari sudah siang. Stella membawa makanan untuk Kirara. Shen mengunjungi Kirara setelah makan siang. Tapi ia juga tak lama disana. Ia datang untuk mengobrol dan menghilangkan kebosanan Kirara. Para pelayan lain juga bergantian menjenguk Kirara. Meskipun tidak semua.
Hanya berada di kamar membuatnya suntuk. Ia ingin berjalan-jalan di taman belakang. Ia sedikit rindu dengan hembusan angin di taman. "Stella, apa kamu mau menemaniku pergi ke taman belakang? Aku bosan selalu berada di kamar"
"Nona, anda sedang sakit. Anda tidak boleh pergi ke luar" cegah Stella.
"Jika aku terus berada di kamar, aku tidak akan sembuh. Dan jika kau tidak mau ya sudah. Aku akan pergi sendiri" Kirara tak peduli. Ia hanya ingin pergi ke taman
Setelah dipikir-pikir akan bahaya jika membiarkan nona pergi sendiri. Ia juga takut dimarahi oleh kepala pelayan. Dan mungkin saja ia bisa dipecat. Stella berseru "Jangan nona! Nanti saya bisa dimarahi jika anda pergi sendirian saat sakit seperti ini. Tolong tunggu di sini sebentar, saya akan mengambil jaket untuk nona"