
Ayah meminta kirara untuk datang ke La Meera di ibukota dan disanalah Kirara sekarang sebagaimana permintaan yang ditulis ayahnya. Di ibukota yang penuh dengan hiruk pikuk kendaraan dan orang orang yang berlalu lalang. Sepertinya, meskipun ini musim dingin semua orang tetap bekerja. Sekarang jam 8 pagi namun, matahari tidak memunculkan sinarnya.
Kirara datang ke ibukota hanya dengan pakaian seadanya tanpa jaket tebal yang membungkusnya. Sangat jelas dingin terasa hingga ke tulang. Semua perhiasan ibu dibawa untuk dijual meskipun, tidak semuanya. Semua barang yang dibutuhkan ada dalam tas. Kirara menggunakan tas ayahnya untuk membawa barang-barang itu. Didalamnya juga ada barang peninggalan ayah dan ibu.
Sekarang Kirara sedang menuju ke sebuah toko untuk menjual perhiasannya. Uang yang didapat cukup untuk biaya hidup 2 hari. Jaket dan sarapan dibeli dengan uang itu. Setelah perutnya kenyang dan tubuhnya cukup hangat, Kirara mulai menyusuri setiap sudut di ibukota. Satu demi satu gang kecil dilewatinya untuk menemukan tempat yang dimaksud ayahnya. Setiap ia bertanya pada orang yang lewat, orang itu selalu berkata hal yang sama "Nak, kenapa kau ingin kesana? Itu tempat yang berbahaya" kata itu terus saja terulang. Ia sebenarnya ragu untuk melanjutkan perjalanannya karna peringatan bahaya yang selalu di dengarnya. Namun, ini adalah permintaan ayahnya setidaknya, ia berusaha mencarinya lebih dulu.
Sudah lewat waktu siang hari, ia tak kunjung menemukannya. Akhirnya, kirara memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Kakinya melangkah menuju sebuah restoran kecil. Semangkok olahan daging berkuah dan segelas susu hangat dipesannya. Lelah membuat ia kelaparan apalagi, di musim dingin seperti ini. Membuatnya menghabiskan makanannya. Semua kehangatan berpindah kedalam tubuh kirara. Ia memanggil pelayan untuk memesan sepiring kukis dan segelas susu hangat lagi. 5 menit menunggu, pelayan itu datang membawa pesanannya. Tak lupa ia mengucapkan terimakasih.
Segelas susu hangat dipegangya dengan kedua tangan. Rasa hangat mengalir dari telapak tangan yang polos itu. Sepotong kukis dicelupkan kedalamnya yang kemudian berpindah memasuki mulutnya. Ia berpikir kemana ia akan pergi selanjutnya pada akhirnya, ia hanya menghela napas lelah.
"Huuuuuh.... kemana lagi aku harus mencarinya? Aku sudah membedah setiap gang di ibukota tapi, aku tak kunjung menemukannya" desahnya.
Tiba-tiba seorang pemuda duduk di depannya. Pemuda itu memesan segelas kopi untuk dirinya sendiri. Mata Kirara tak bisa lepas dari wajah pemuda itu. Wajah rupawan tanpa cela, hidung mancung, mata tajam yang misterius namun, mencuri perhatian dan garis rahang tegas yang dimiliki membuatnya semakin sempurna. Pemuda tampan itu menyadari tatapan kirara. Pemuda itu lantas menatapnya dan bertanya dengan nada ketus "Kenapa?"
Sontak kirara langsung mengalihkan pandangannya dan berkata "Ah euumm tidak apa-apa"
"Kau mau pergi kemana?" Sebuah pertanyaan tiba-tiba terdengar di telinga kirara. Ia menatap pria itu kebingungan. Apakah pertanyaan itu ditujukan untuknya? Kirara menunjuk dirinya sendiri. Pemuda itu mengangguk. Pemuda itu tahu kalau Kirara pasti ingin pergi ke suatu tempat. Tas besar yang diletakkan di bawahnya dengan jelas menunjukkan.
Pemuda itu tidak menjawab pertanyaan Kirara namun malah balik bertanya "Kau tahu tempat seperti apa itu? Itu tempat yang berbahaya. Kenapa kau mau pergi kesana?"
"Saya tahu tapi, itu permintaan terakhir ayah saya dan juga, saya ingin mencoba hidup di ibukota" Kirara menjawab dengan sedikit sedih.
"Aku tahu tempatnya tapi, apa kau yakin untuk pergi kesana?" Pemuda itu mengingatkan.
"Iya, saya yakin" ucap Kirara dengan sangat yakin.
"Baiklah, La Meera berada dalam gang kecil di jalan Sheldon Winter. Itu terletak sangat jauh dari sini. Memakan waktu sekitar 3 jam dengan naik taksi tapi, kau harus membayar mahal karna jaraknya sangat jauh" kata pemuda itu menjelaskan.
"Terimakasih atas bantuannya tuan" ucap kirara senang. Pemuda itu tak menggubris ucapan terimakasihnya. Ia langsung pergi setelah membayar. Tak lama setelah itu, Kirara menyudahi makannya. Ia menuju kasir untuk membayar pesanannya namun, kasir berkata kalau makanannya sudah dibayar oleh pemuda tadi. Sepertinya Kirara bertemu dengan orang baik. Tak hanya wajahnya namun juga sikapnya. Dalam hati ia berharap 'Semoga aku bisa bertemu dengannya lagi'
Tas digendongnya keluar restoran. Ia menunggu sebuah taksi yang lewat. Musim dingin di ibukota rupanya tidak sedingin di desa. Mungkin karna banyak orang yang masih berlalu lalang meski salju sedang turun sangat banyak dan menumpuk menutupi jalan.