
Waktu berlalu. Hidangan yang tersedia di meja sekarang sudah tak bersisa. Shen membayar makanannya juga membungkus beberapa makanan untuk Steve dan Larry. Shen kemudian memberikannya pada 2 orang yang sedari tadi menunggu di luar.
"Ini untuk kalian berdua, terimalah! " kata Shen.
"Terimakasih tuan muda" ucal Steve dan Larry bersamaan dengan membungkukkan badan mereka.
"Jangan berterimakasih padaku. Aku hanya ingin menghibur adikku karna dia tidak fokus makan memikirkan kalian" tolak Shen.
"Terimakasih banyak nona" Steve dan Larry terharu.
Kirara hanya menjawabnya dengan tersenyum. Senang rasanya melihat mereka. Kegelisahan di hati juga turut menghilang larut dalam rasa terimakasih mereka. Kini waktunya mereka pulang namun, Kirara ingin pergi ke suatu tempat.
"Ituuu apa boleh kita pergi ke pusat makanan di pinggir jalan?" tanya Kirara dengan sentum malu-malu.
"Kenapa kau ingin pergi kesana? Itu berdebu bisa membuatmu tidak sehat" Shen khawatir.
"Akuuu..... masih lapar hehehe. Aku ingin makan makanan kecil. Lagipula makanan di sana semuanya sangat enak" jawabnya terkekeh. Makan di restoran tidak membuatnya kenyang. Penampilannya justru sayang untuk dimakan. Dan karna porsinya juga terlalu sedikit. Kirara segan untuk meminta lagi.
"Bagaimana kalau kita pulang saja? Aku akan menyuruh Vallan untuk membuatnya untukmu"
"Kakak, kakak tidak mengerti bagaimana rasa makanan yang langsung didapat dari tempatnya. Dan jika Vallan membuatnya rasanya tidak akan sama" bantah Kirara.
"Baiklah baiklah. Tapi, jangan makan terlalu banyak, nanti kamu bisa sakit. Steve, putar haluan ke pinggiran ibukota" Shen mengingatkan. Ia kemudian menyuruh Steve untuk berputar haluan.
"Baik tuan muda" jawab Steve tersenyum. Nona mudanya ini memang tidak bisa diprediksi. Ia bahkan membuat tuan muda mengalah.
Kirara sangat bersemangat melihat beberapa kios makanan yang berjejer di pinggir jalan. Ia mengabaikan perkataan kakaknya yang menyuruhnya untuk membeli beberapa makanan saja. Larry turun menemani Kirara sedangkan Shen dan Steve duduk diam di mobil memperhatikan mereka berdua.
Satu persatu tempat didatangi. Mulai dari seafood panggang, es krim, pancake manis, daging tusuk dan beberapa makanan lain. Ia hampir membeli semua makanan yang ada di tempat itu. Melihat Larry yang terlihat kesulitan membawa semua makanannya, ia berhenti untuk membeli makanan lagi. Mereka berdua kemudian kembali ke mobil. Makanan yang tadi dibeli diletakkan di bagasi mobil dan ada beberapa makanan yang dibawa Kirara. Ia berniat untuk memakannya dalam perjalanan.
"Bukankah sudah kubilang jangan beli terlalu banyak?" Ingat Shen.
Ucap Kirara lalu memakan es krim yang tadi dibelinya. Ia sibuk dengan es krimnya yang lambat laun mencair. Setelah es krimnya habis ia melanjutkan makan daging tusuk. Awalnya ia ingin makan tanpa memedulikan suasana di sekitarnya tapi, karna suasana terlalu hening ia menawarkan makanan pada kakaknya itu.
"Kakak, apa kau mau?"
"Apa itu?" Tanya Shen.
"Daging tusuk" jawab Kirara ringan.
"Tidak tidak. Itu berasal dari luar. Makanan itu sudah terkena debu. Aku bis....." belum sempat Shen menyelesaikan ucapannya, Kirara sudah menjejalkan daging tusuk ke mulut kakaknya itu. Ia bosan mendengar ceramah kakaknya itu. Satu-satunya cara untuk membuat kakaknya diam hanya dengan menyumpal mulutnya dengan makanan agar dia merasakannya sendiri. Seringai jahat muncul diwajahnya.
Shen terkejut dengan kelakuan adiknya. Namun setelahnya ia terdiam merasakan kenikmatan dari daging tusuk yang disumpalkan ke mulutnya. Rasa asam manis yang segar ditambah dengan aroma asap membuatnya ketagihan. Ia mengambil alih daging tusuk dari tangan Kirara lalu menikmatinya lagi.
"Bagaimana?? Apa enak?" Tanya Kirara dengan senyum jahat.
"Iya, lumayan" jawab Shen dengan sisa saus yang tersisa di sisi mulutnya. Kirara sedikit kesal dengan kakaknya. Padahal dia begitu menikmati makanannya hingga bersih tapi dia hanya berkata lumayan.
"Kakak, masih ada sisa saus yang tersisa di mulutmu. Hahaha" Kirara mengakhiri ucapannya dengan tawa renyah. Sulit untuk melihat kakaknya yang seperti ini. Shen dengan cepat mengusap sisa saus di mulutnya. Ia terkekeh kecil. Bagaimana ia bisa menjadi bahan tertawaan hanya karna saus di mulutnya. Steve dan Larry yang mendengarnya juga ikut tertawa dalam hati. Mereka tidak berani menampakkannya secara terang-terangan. Bisa-bisa nyawa mereka terancam.
"Dasar adikku ini. Kamu sangat menikmatinya ya?" Ledek Shen.
"Hehehe, maafkan aku kakak" jawab Kirara.
Sekarang setiap Kirara akan menikmati makanannya, ia selalu memberi kakaknya walau sedikit. Shen hanya menerimanya. Ya, ia juga ingin menikmati rasa makanan yang lain. Waktu demi waktu berlalu. Suapan demi suapan makanan dimasukkan dalam mulut menemani perjalanan mereka.
Tak butuh waktu lama untuk pulang ke rumah. Sore hari mereka sudah sampai di rumah. Semua barang belanjaan dan makanan yang tadi dibeli dikeluarkan dari bagasi. Semua orang terkejut melihat tumpukan barang diluar. Padahal hanya sebentar mereka keluar tapi barang yang dibeli sudah menggunung. Dan itu semua hanya barang belanjaan Kirara. Para pelayan memindahkan barang belanjaan ke dalam rumah. Makanan yang dibeli diletakkan dimeja makan. Dan beberapa ada yang disimpan di lemari pendingin dan dibagikan pada pelayan.
Shen dan Kirara menikmati makanan yang tadi dibeli. Shen terlihat sangat menikmati makanan pinggir jalan itu. Padahal tadi dia yang banyak mengoceh tentang kebersihannya.