
"Kriiieeet.. . " suara laci yang dibuka terdengar di pagi hari. Kirara mengawali pagi harinya dengan mencari barang kesana kemari. Ia mencari barang berharga yang bisa ia jual untuk menghasilkan uang. Ia mencari di dalam lemari, bawah tempat tidur, laci meja kerja dan banyak tempat lainnya. Ia juga berulang kali naik turun antara rumah dan ruang bawah tanah.
Pada akhirnya ia menemukan sebuah kotak dalam laci meja kerja ayahnya. Kirara mencoba membukanya, beruntungnya kotak itu tidak terkunci. Ada sebuah buku yang menarik perhatiannya. Pada sampulnya tertulis "ANAKKU TERSAYANG, KIRARA"
Sepertinya itu buku diary ayah yang menceritakan dirinya. Terdapat celah dalam buku itu yang berarti ada sesuatu yang diletakkan didalamnya. Satu persatu lembaran dalam buku di buka sampai pada celah buku. " ini.... tulisan tangan ayah!"
Ada tulisan tangan ayahnya di halaman tersebut Ada juga sepucuk surat dan lencana diletakkan diantaranya. Satu halaman penuh tertutupi dengan tulisan tangan ayahnya. Matanya mulai menelusuri setiap kata yang ditulis ayahnya.
"Raraku sayang, kamu adalah anugrah terbesar yang datang pada ayah dan ibu. Rumah ini selalu di selimuti kebahagiaan sejak kamu datang. Betapa bahagianya ayah dan ibu saat itu. Tak henti-hentinya ucapan syukur dan pujian yang keluar dari bibir ayah dan ibu.
Suara-suara manis yang terucap dari bibirmu selalu membuat kami tersenyum. Tawa riang dan senyum di bibirmu memenuhi hati kami. Semua kegelisahan menghilang seolah semua sirna karnamu. Keinginan untuk menunjukkan hal-hal indah di dunia tak pernah berhenti untukmu. Kasih sayang yang selalu tercurahkan hanya padamu, pujian-pujian indah nan lembut yang ditujukan padamu. Semuanya hanya untukmu nak, bahkan kami rela mengorbankan nyawa kami demi melindingimu dari kejamnya dunia dan manusia.
Raraku sayang, ayah dan ibu berharap kamu selalu bermanja-manja dengan kami walau sudah tumbuh dewasa. Kami ingin kamu selalu dikelilingi semua hal baik di dunia. Kami ingin kamu selalu bersama kami sampai akhir. Kami tahu, itu sebuah keinginan yang egois meski tahu suatu hari nanti kamu pasti harus pergi meninggalkan kami.
Nak, jika tiba saatnya kamu berumur 18 tahun, kamu akan bertemu dengan seorang pria bernama Cleosh, dia adalah orang ibu. Ibu berkata padanya untuk menemuimu saat berumur 18 tahun dan memberikan perusaahan ibu padamu. Saat ini perusahaan di pegang olehnya sampai kamu yang akan mengambil alih. Ibu wariskan perusahaan ibu padamu, Cleosh yang akan mengurus semuanya. Jika kamu membutuhkan sesuatu kamu bisa bilang padanya.
Rara, sembunyikan identitasmu dari orang lain kecuali dari keluarga paman Evan. Ayah yakin kamu akan aman bersamanya. Ayah selalu diincar oleh orang-orang tak dikenal. Itu mungkin akan berimbas padamu. Ayah tidak ingin hal yang sama terjadi padamu.
Ayah dan ibu berharap rara tumbuh dengan bahagia dan dikelilingi orang-orang yang sayang padamu"
Tanpa sadar air mata jatuh melalui celah matanya. Deras air matanya mengalir membasahi pipi. Mata dan hidung memerah saat ia menahan suara tangisnya. Entah mengapa, ayahnya sepertinya tahu bahwa ia tak akan menemaninya dalam waktu yang lama. Dadanya sesak. Sesak menahan rindu akan kedua orangtuanya. Perlahan mulai terbayang kilas balik kenangan saat bersama ayah dan ibu. Tangisnya pecah tak mampu menahan kerinduan itu. Tak ada belaian ibu yang menenangkan. Tak ada lagi dekapan ayah yang menhangatkan. Kini ia sendiri, hidup dalam kesepian dan kerinduan akan kedua orangtuanya selama hidupnya.
7 menit berlalu setelahnya. Dirinya mulai tenang namun, suara sesenggukan masih terdengar. Matanya menerawang jauh entah kemana. Saat ini yang ada di pikirannya hanyalah pergi ke ibukota, menemui paman Evan sesuai yang tertulis dalam buku ayahnya.