Dark Agent

Dark Agent
Sang Pemilik Senyuman



Semua informasi yang tiba-tiba masuk ke kepalanya membuatnya pusing. Shen akhirnya pergi ke taman belakang rumah dengan niat menyegarkan pikirannya. Namun, ia terkejut melihat ada seseorang yang sedang bermain ayunan. Shen tak bisa melepaskan pandangannya dari orang itu. Rambut hitam malam yang melambai terkena tiupan angin. Tubuh yang kecil dan ramping. Kulit putih bagai porselen. Mata yang tajam bagai burung Phoenix. Senyum cerah yang selalu terpatri di wajah cantiknya benar-benar membuat Shen terbuai.


Sang pemilik senyum itupun menoleh karna merasakan tatapan yang tertuju padanya. Ia terkejut. Orang yang ditemuinya 2 hari yang lalu ada disini. Berbagai pertanyaan muncul di benaknya. Shen merasa tidak asing dengan wajahnya. Dia adalah orang yang menanyakan La Meera padanya. Tapi ia harus memastikannya. Shen berjalan menghampirinya. Ia pun membuka suara "Kau..... siapa?"


Kirara terbangun  dari rasa terkejutnya. Ia lantas beranjak dari ayunannya dan memperkenalkan diri.


"Nama saya Kirara. Kirara Castiella, 14 tahun"


"Jadi kau orang yang tersisa dari Desa Liyang dan orang yang akan menjadi adikku?" Wajah Shen sangat jelas penuh tanda tanya.


Tapi wajah Kirara tak kalah canggung.


"Iya. Kalau begitu anda adalah kakak angkat saya?"


Shen mengulurkan tangannya "Namaku Shen, 18 tahun. Panggil saja sesukamu"


"Baiklah kakak Shen" suasana hening beberapa saat namun Kirara mencoba untuk memecahkannya. "Ah euum bagaimana kalau duduk dulu?"


Shen melenggang duduk di bangku. Sedangkan Kirara duduk di ayunan. Jarak antara bangku dan ayunan sebenarnya tidak jauh. Ayunan terletak segaris dengan bangku. Keduanya sama-sama berada dibawah pohon.


Setelah itu tak ada perbincangan lagi di antara mereka. Keduanya canggung tak tahu harus berbuat apa. Shen tak pernah bicara dengan seorang perempuan selain ibunya. Sekarang di malah memiliki adik perempuan. Tak tahu harus bersikap bagaimana. Begitu juga Kirara. Lama keduanya terduduk tanpa suara akhirnya Shen masuk ke rumah meninggalkan Kirara sendiri dengan ayunannya. Niatnya pergi ke taman belakang untuk menenangkan pikiran namun, justru beban pikirannya semakin bertambah.


Baru saja ia duduk namun seseorang langsung menyambarnya dengan pertanyaan.


"Kau sudah bertemu dengannya? Bagaimana?" Tanya Amelie


"Ibu hanya berharap setidaknya kamu bisa berbicara dengan Rara dulu. Supaya kalian akrab. Lagipula sekarang kau sudah jadi seorang kakak, kamu harus menjaga adikmu"


Amelie mengatakannya dengan senyum penuh arti.


"Aku tahu. Tapi, jika mendadak seperti ini aku juga bingung harus memperlakukannya bagaimana" semakin pening dan pening pikirannya. Kini ditambah dengan adanya kehadiran adik perempuan dan celotehan ibunya.


"Apa maksudmu bagaimana? Peelakukan dia sebagai adik. Lagipula itu hal yang mudah. Ajak bicara Rara, sayangi Rara dan jaga Rara. Semudah itu tapi kamu bingung?" Amelie mulai kesal dengan anak laki-lakinya itu.


"Ayolah ibu. Ibu juga tahu aku tidak pernah dekat dengan perempuan, kecuali ibu" Shen mencoba membujuk ibunya yang terlampau menyukai Kirara itu. Namun, apapun yang dilakukannya tak berhasil. Semua orang di rumah atau tempat Shen kerja juga tahu kalau Shen tidak pernah dekat dengan wanita mana pun. Meskipun banyak yang mendekati, Shen bahkan tak pernah meliriknya sekalipun.


"Na...na...na banyak bicara. Ibu tak mau tahu. Kamu harus dekat dengannya. Walaupun hanya bicara juga tidak apa-apa. Dan jangan berpikir untuk menghindar dengan pergi atau aku akan membuatmu bekerja siang malam tanpa istirahat di perusahaan" Amelie langsung pergi meninggalkan Shen yang masih pening. Shen tau apa yang dikatakan ibunya bisa terjadi. Ia juga tak bisa melawan. Mau bagaimana lagi setidaknya, ia harus mencoba bicara pada adiknya itu perlahan.


Pancaran cahaya matahari sudah mulai redup. Lampu penerangan sudah mulai dinyalakan. Angin berhembus semakin dingin. Orang-orang di rumah sedang menyantap makan malam mereka. Kehangatan yang terasa dari keluarga membuat tubuh nyaman. Sepertinya ada harapan sesorang yang sedang terwujud.


Kini semua anggota keluarga sudah berkumpul. Wajah setiap orang tak bisa ditebak. Semuanya memasang wajah datar kecuali Amelie. Dia tak henti-hentinya memasang senyum diwajahnya . Tak ada yang tahu itu senyum dengan arti apa. Keluarga Valerie sudah menyelesaikan makan malamnya. Tapi belum ada yang beranjak dari tempatnya.


"Kirara, kita sekarang sudah menjadi keluarga. Bukankah seharusnya ada yang ingin kamu katakan? Kami harus mendengar sesuatu darimu" Evan memulai pembicaraan.


Kirara mengerti arah pembicaraan ini. Rupanya mereka meminta penjelasan atas hal yang terjadi sebelum ia datang ke rumah ini. Wajah Kirara sedikit sendu. Pertanyaan itu memaksanya mengingat kejadian yang membuatnya putus asa itu. Amelie mengerti kesedihan Kirara. Ia mencoba menghiburnya.


"Jika Rara belum siap, Rara bisa mengatakannya nanti. Tak perlu merasa terbebani. Rara juga punya hak untuk memilih"


Kirara tersenyum singkat. Ia menggelengkan kepalanya mengisyaratkan bahwa ia baik-baik saja. Kirara tahu suatu saat nanti ia harus mengungkapkannya cepat atau lambat.