
Mata Kirara sedikit sembab karna terlalu lama menangis. Amelie memanggil seorang pelayan untuk membawakan sekantong es batu untuk menghilangkan mata sembab Kirara.
"Sepertinya kita akan melanjutkan jalan-jalannya besok. Hari ini beristirahatlah setelah makan siang" ucap Amelie lembut.
"Iya ibu, terimakasih" Kirara mencoba tersenyum. Namun, karna ia tersenyum dengan mata sembab justru menbuatnya terlihat lucu.
Amelie hanya tersenyum. Ia mengantarkan Kirara kembali ke dalam. Sudah saatnya makan siang. Para koki memasak hidangan untuk semua orang di rumah. Tak lama makanan siap. Para pelayan membawanya untuk dihidangkan di meja makan. 20 menit berlalu, agenda makan siang selesai sudah. Para pelayan membersihkan makanan di meja makan. Saat Kirara hendak pergi tidur siang, Amelie menahannya.
"Rara tunggu sebentar. Stella, kemarilah!"
Stella yang mendengar namanya dipanggil bergegas pergi ke hadapan nyonya rumahnya itu. Ia membungkuk sebentar memberi hormat lalu terdiam menunggu perintah dari tuannya itu.
"Nah Stella, ini Rara. Mulai saat ini kamu akan melayaninya. Dan Rara, ini Stella yang akan menjadi pelayan pribadimu. Jika kau butuh sesuatu katakan saja pada Stella. Ia akan menyiapkan semua keperluanmu"
Kirara dengang lembut berucap.
"Terimakasih ibu. Mohon bantuannya Stella"
"Mohon bantuannya juga nona" Stella membungkuk.
Kirara lantas pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini. Pembantaian desa, kematian orangtuanya, sampai ia menemukan keluarga yang mau menerimanya. Ini benar-benar membuatnya lelah. Hal-hal yang terjadi di luar kendalinya terkadang membuatnya bingung.
2 hari berlalu. Seseorang datang berkunjung pada dini hari. Evan menyambutnya dengan pertanyaan.
"Bagaimana hasilnya?"
"Ayah ini benar-benar... anak ayah baru pulang dari perjalanan jauh setidaknya, tanyakan dulu kabarnya" orang itu adalah Shen. Anak laki-laki semata wayangnya. Ia baru pulang dari tugasnya.
Semua orang dirumah sudah tidur kecuali para penjaga gerbang. Evan belum tidur karna menunggu kepulangan Shen. Karna sepertinya percakapan mereka akan berlangsung lama, Evan membuat kopi untuk Shen dan dirinya sendiri. Karna semua pelayan sudah tidur jadi, Evan hanya bisa membuatnya sendiri.
"Baiklah bagaimana kabarmu?" Ucap Evan sambil memberi segelas kopi.
Shen menerimanya. Ia menyeruput sedikit kopinya. Setelahnya ia meletakkannya ke meja. Perbincangannya akan berlangsung lama. Ia menyimpannya untuk diminum sembari berbincang. Shen memberikan laporannya.
"Hah sudahlah. Aku baik. Desa Liyang, desa yang ayah minta untuk mencari tahu hal yang terjadi disana. Kacau, keadaan disana benar-benar kacau. Semuanya tertutupi tumpukan salju. Tak ada tanda-tanda kehidupan disana. Sepertinya desa itu sudah lama ditinggalkan. Tapi meskipun tertutup tumpukan salju, aku mencium bau darah. Sepertinya semua penduduknya diserang binatang buas"
"Sepertinya apa yang terjadi disana cukup parah. Tapi, apa mungkin hewan buas menyerang semua penduduknya? Kalaupun diserang, pasti masih ada beberapa yang selamat" wajah Evan masam.
"Entahlah aku tak tahu. Tapi ada 2 kuburan disana. Sedangkan saat baru memasuki desa itu, aku menemukan banyak tumpukan tulang-belulang manusia" wajah Shen berkerut. Ia berpikir keras.
"Sebenarnya ada satu orang yang selamat. Sebaiknya kita menanyakan hal itu padanya"
"Siapa?" Shen bertanya dengan menaikkan sebelah alisnya.
Shen beranjak pergi ke kamarnya. Kamarnya ada di lantai 2 dan berada tepat di samping kamar orangtuanya. Saat ia hendak masuk ke kamarnya entah karna apa ia menoleh ke kanan. Kamar yang sebelumnya kosong tiba-tiba terasa hawa keberadaan seseorang.
'Apakah ada tamu yang datang? Tapi jika dia tamu seharusnya, ia tidur di lantai 1. Sudahlah besok aku akan tahu' begitulah agaknya isi hati Shen yang melihat kejanggalan kamar di sebelahnya. Ia dengan cepat melupakannya. Kini ia harus tidur. Perjalanan jauh membuat seluruh tubuhnya lelah. Selain itu ia harus mengurus perusahaan milik keluarga. Sebuah rutinitas yang membuatnya pusing. Beruntungnya ia punya ajudan yang bisa menggantikannya melakukan pekerjaan.
Matahari sudah berada di atas kepala. Saat semua orang sudah mulai beraktivitas ada satu orang yang masih setia dengan selimutnya. Ya, orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Shen yang pulang dini hari tadi.
Evan dan Amelie yang tahu kelakuan anaknya itu hanya menggelengkan kepalanya pasrah. Ia tahu apa yang membuatnya bangun begitu siang hingga melewatkan sarapan dan makan siangnya. Saat ini mereka berdua sedang berada di ruang keluarga.
"Bagaimana hasilnya?" Tanya Amelie yang sekaligus memulai perbincangan.
"Buruk. Tak ada yang tersisa dari desa itu. Semuanya mati. Shen melihat ada 2 kuburan disana. Entah milik siapa. Apa sebaiknya pergi melihatnya?" Ajak Evan
"Kita dengarkan dulu penjelasan dari Kirara baru kita akan pergi" Amelie menahan Evan. Bagaimana pun sebaiknya, dengarkan dulu penjelasan dari orang yang bersangkutan.
"Baiklah. Sekarang dimana dia?" Tanya Evan.
"Dia tadi bilang padaku mau pergi ke taman belakang. Sepertinya dia menyukai tamannya" Amelie tersenyum lembut. Ia mengingat bagaimana sukanya Kirara dengan taman itu.
"Baiklah nanti saja" Evan menyerah.
Beberapa menit kemudian Shen bangun dari tidurnya. Ia membasuh dirinya kemudian turun ke ruang makan. Jika bukan karna perutnya yang terus bergemuruh karna lapar ia pasti masih berada di kasurnya itu.
"Selamat pagi ayah, ibu" Shen menyapa kedua orangtuanya yang sedangĀ berbincang-bincang.
"Apanya yang pagi. Ini sudah siang dasar tukang tidur" jawab Amelie meledek.
"Aah apapun itu aku lapar. Roxy bawakan aku makanan!" Shen tak peduli. Saat ini ia hanya ingin makan. Ia memanggil salah satu pelayan laki-laki untuk membawakan makanan.
Sesaat kemudian pelayan yang bernama Roxy itu membawa sepiring olahan daging dan segelas jus. Roxy sudah hafal apa yang diinginkan tuannya. Karna entah kapan ia makan harus selalu ada daging dan jus. 15 menit berlalu. Shen menghabiskan makanannya dengan cepat. Roxy membawa kembali piring dan gelasnya.
"Ibu, siapa yang tidur di kamar sebelah?" Shen bertanya pada ibunya tentang kamar di sebelahnya.
"Dia anggota keluarga kita yang baru. Namanya Kirara. Dia adikmu sekarang jadi, ibu harap kamu akrab dengannya" jawab Amelie.
"Apa?? Adikku? Baru 2 bulan aku pergi, ibu sudah punya anak lagi?" Shen sangat terkejut dengan kenyataan itu. Baru sebentar ia pergi ibu nya sudah punya anak lagi.
"Kami mengangkatnya sebagai anak. Kamu tahu kan ada satu orang yang selamat di desa itu?" Kini yang menjawab adalah Evan.
"Iya. Ayah kan meberitahuku" Shen mengangguk.
"Nah orang itu adalah Kirara. Ibu kasihan dengan anak yang sebatang kara itu. Jadi ibu dan ayah sepakat untuk mengangkatnya sebagai anak" jelas Amelie singkat.