
Kayunya diruncingkan di salah satu ujungnya. Kemudian talinya dibuat menjadi perangkap ikan seadanya. Kayu sebagai penyangga dan tanaman merambat itu sebagai jaring. Nantinya perangkap itu diletakkan di tepi sungai sekiranya mungkin ada banyak ikan yang bersembunyi di sana.
Gadis kecil itu sudah membuat dua perangkap yang kemudian diletakkannya di tepian sungai. Sekarang ia harus menunggu sampai menjelang sore agar ia mendapat ikan. Sementara itu, ia kembali memasuki hutan mecari makanan lain yang bisa ia santap saat menunggu dan juga kayu bakar. Waktu sudah lama berlalu, gadis kecil itu sudah mendapat beberapa buah apel dan banyak kayu bakar.
Ia pun kembali ke sungai untuk memeriksa perangkap ikannya. Rupanya dalam perangkap itu ada lima ekor ikan besar yang terperangkap.
Gadis kecil bahagia mendapat ikan besar. Hari ini ia akan tidur dengan perut yang kekenyangan. Ia mulai membuat api dengan beberapa kayu bakar yang tadi ia dapatkan. Lalu mengambil dua ikan untuk di makan. Ia membersihkan ikan itu di tepi sungai. Menghilangkan sisik dan juga bagian dalamnya, lalu menusuknya dengan ranting yang sudah di runcingkan ujungnya. Ia menancapkan ranting itu di tepian kayu bakar.
Sambil menunggu ikan itu matang, ia memakan apel sebagai makan pembuka. Gadis kecil itu melamun sambil mengunyah apelnya.
'Sepertinya aku harus membuat kolam ikan di belakang rumah. Aku tidak mungkin juga untuk pergi ke hutan setiap hari. Dibanding kolam mungkin sepertinya aku harus menaruhnya dalam akuarium, tapi hanya cukup untuk beberapa ikan. Mungkin lebih baik kuletakkan dulu dalam akuarium nanti akan kubuat kolamnya sedikit demi sedikit. Baiklah seperti itu saja. Ah aku juga harus membuat kebun buah su..... hmmn bau apa ini?'
Gadis kecil yang hampir kehilangan ikannya itu bernama kirara. Setelah tragedi besar yang dialaminya ia mencoba untuk hidup dengan mengandalkan kemampuannya sendiri. Kehilangan kedua orangtuanya dalam tragedi itu membuatnya sangat terpukul. Warga desa yang ramah padanya pun kini sudah tidak ada lagi. Umurnya saat ini baru 14 tahun. Umur yang masih sangat muda dimana ia seharusnya masih mendapat kasih sayang kedua orangtuanya. Tapi karna tragedi itu ia harus bersikap dewasa.
Tubuh kecil yang terlihat rapuh, wajah yang imut dan manis, mata merah keunguan serta rambut hitam malam yang panjang hingga pinggang. Tubuh tinggi dan kulit putih semakin membuatnya terlihat sempurna. Hanya satu kata yang terpintas saat meihatnya, cantik. Kecantikannya itu bahkan sangat dipuji warga desanya. Mereka megatakan bahwa ia adalah jelmaan dewi. Tentu kirara hanya menanggapi perkataan itu dengan terimakasih dan tertawa kecil.
Kirara tinggal di desa pinggiran kota. Meski dibilang pinggiran kota namun suasananya sangat asri. Desanya terletak di lembah bawah pegunungan. Tepat dibelakang desa ada hutan yang menjadi sumber penghidupan warga desa. Warga desa sering pegi kehutan untuk berburu atau mandi di sungai dalam hutan.
Cukup banyak orang yang tinggal di desa. Tidak ada teknologi atau listrik disana. Hanya saluran air yang bisa mencapai desa. Meski begitu para warga selalu tahu keadaan di kota. Ini semua karna ayah kirara yang bekerja di kota. Rumah kirara pun terbilang sangat bagus dibanding rumah warga desa yang lain. Ini karna rumah para warga masih dibangun dengan kayu. Sedangkan rumah kirara dibangun dengan batu-bata yang kokoh dan sudah diwarnai. Warga desa sangat mengormati ayah kirara. Ia selalu membantu warga desa yang kesulitan dan terkadang ia juga membawakan sesuatu dari kita untuk semua orang. Ibu kirara juga orang yang sabgat baik hati. Ia ahli dalam pengobatan dan selalu mengobati warga desa yang terluka. Bagi para warga, keluarga kirara adalah keluarga yang berpengaruh dan sangat dihormati.