Dark Agent

Dark Agent
Trauma



Malam datang menghampiri. Sepasang kakak beradik melakukan santap malam seperti biasa. Meskipun suasana sedikit sepi karna tidak adanya sepasang suami istri pemilik mansion. Masih ada suara tawa kecil yang terdengar di dalamnya. Setelah makan malam mereka berdua berbincang-bincang di ruang keluarga  sambil menonton tv. Kemudian beranjak ke kamar untuk tidur.


Detik berganti menit, jam berganti hari, hari berganti minggu. Kini seminggu sudah berlalu sejak pasangan pemilik mansion pergi. Hari-hari dilalui seperti biasa. Sepasang kakak beradik sibuk menikmati waktu berdua mereka untuk mengakrabkan diri. Setiap harinya mereka pergi jalan-jalan untuk menghilangkan kejenuhan dan menikmati waktu sore hari di taman belakang hingga matahari terbenam. Hari demi hari mereka semakin dekat tanpa ada kecanggungan. Kirara semakin berani untuk mengungkapkan pendapatnya dan Shen juga mulai banyak bicara walau masih terbilang hemat kata. Namun, rasa pada adiknya itu nyata.


Cahaya matahari perlahan meninggalkan bumi menyisakan guratan cahaya bewarna jingga. Awan mendung menutupi cahaya di langit. Rintik-rintik hujan mulai turun mengalunkan nada alam. Namun, suara hujan tak bisa menenangkam seorang gadis yang tinggal di dalam mansion. Ia justru ketakutan. Baginya hujan adalah masa dimana ia berada di titik terendah dalam kehidupan. Kehilangan orangtua dan tidak berdaya.


Suara gemuruh di langit saling bersahutan dengan kilatan cahaya terang. Hatinya tak tenang. Keringat dingin bercucuran. Tangannya menggenggam erat mencoba mengurangi rasa ketakutannya. Sang kakak mencoba mencari tahu bagaimana keadaannya namun, ia selalu berkata bahwa ia baik-baik saja. Ia mencoba menenangkan dirinya dengan tidur. Bantal didekapnya dan telapak tangan menutupi kedua telinganya. Ia meringkuk di sudut. Matanya terpejam erat. Telapak tangannya tidak mampu menghalau suara gemuruh itu. Saat suara gemuruh dan kilatan cahaya berada di puncaknya, ia berteriak ketakutan. Suara teriakannya terdengar di seluruh penjuru mansion.


Semua orang yang mendengar teriakannya bergegas menuju sumber suara. Sang kakak yang berada di kamar sebelahnya juga ikut keluar melihat keadaan adiknya. Tapi, pintu kamar itu dikunci. Tidak ada yang bisa masuk. Para pelayan hanya menunggu di luar sambil memanggil nona mereka. Tapi tidak ada jawaban yang terdengar. Hanya suara tangisan kecil. Sang kakak yang terlanjur khawatir dengan keadaan adiknya, mencoba mendobrak pintu dengan tubuhnya. Ketika pintu berhasil didobraknya, ia menemukan adiknya sedang menangis di sudut kamar.


Tangan besarnya mendekap tubuh adiknya memberi rasa aman. Suara beratnya mencoba menenangkan. Bisikan kecil di telinga berkata bahwa 'kamu akan baik-baik saja, ada kakak di sini'. Si gadis kecil tidak menghentikan suara tangisnya. Tangannya menggenggam erat baju kakaknya. Wajahnya membenam di dada kakaknya mencoba mencari tempat yang membuatnya aman. Rasa khawatir tak bisa menghilang. Melihat adiknya yang menangis dan ketakutan karna hujan sepertinya, dia trauma dengan kejadian di masa lalu.


Shen memerintahkannya untuk membuat teh hangat yang bisa menenangkan diri. Para pelayan lain yang berada di luar kamar disuruhnya untuk membubarkan diri. Keadaan di sini biarkan dia yang menangani. Stella pergi terburu-buru membuat teh untuk nonanya. Ia menyerahkan teh yang sudah dibuatnya pada Shen kemudian memberikannya pada Kirara. Kirara hanya minum seteguk kemudian hanya terdiam memegangi gelasnya. Shen sedih. Ia menggenggam tangan kanan Kirara lalu menggosokkan ibu jarinya dengan lembut.


Posisi Shen saat ini tengah berjongkok menghadap Kirara yang terduduk di ranjang tempat tidurnya. Ia memandangi wajah Kirara yang sendu. Mengucap kata demi kata untuk menenangkannya. Tahu gelas yang penuh tidak terangkat lagi, ia mengambil alih dari tangan Kirara. Meletakkannya di meja samping tempat tidur. Roxy, sang pelayan pribadi Shen membawa kursi kecil untuk tuannya. Roxy tidak ingin tuannya itu terkena keram kaki karna terlalu lama berjongkok. Apalagi keadaan nonanya sat ini sangat membutuhkan tuannya di sisinya. Shen menerimanya kemudian duduk di kursi itu. Tangannya melambai pada Stella dan Roxy menyuruh mereka untuk keluar dari kamar.


Tangan Shen masih menggenggam tangan Kirara. Ia membujuk Kirara untuk tidur. Kirara mengangguk. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain mengikuti kata kakaknya itu. Tubuhnya perlahan berbaring. Namun, tangannya semakin erat menggenggam. Ia takut melalui malam ini sendiri. Matanya yang sendu menatap wajah kakaknya.


"Kakak,tolong temani aku sampai tertidur ya?"


"Iya, kakak akan menemanimu. Selalu di sampingmu sampai kamu bangun nanti" ucapan Shen yang lembut membuat Kirara merasa nyaman. Rasa takut yang menjalar di seluruh tubuh mulai sirna. Ia perlahan menutup matanya mencoba untuk tertidur.