
Dulu sebelum masuk Suzuran Takeshi berada di SMA Nanamori.
Saat Takeshi menjadi anak kelas 1 di Nanamori dia dapat dengan mudah mengambil alih kelasnya.
"Kelas ini sekarang milikku dan kalian menjadi bawahan ku" ucap Takeshi.
Kazama yang merupakan penguasa SMA Nanamori saat itu tertarik dengan Takeshi.
Beberapa lama Minggu kemudian Takeshi telah menguasai penuh kelas 1 dan mendapatkan beberapa kendali di kelas 2.
Mendengar berita itu Kazama takut Takeshi akan dapat menguasai SMA Nanamori.
Akhirnya Kazama mempunyai sebuah rencana yang tidak di ketahui oleh Takeshi.
Beberapa hari kemudian saat Takeshi sedang berjalan dia di hampiri oleh Kazama.
"Kau anak kelas satu yang di beritakan itu kan?" tanya Kazama.
"Ya, memangnya kenapa?" jawab Takeshi.
"Apa kau ingin menguasai Nanamori" tanya Kazama lagi.
"Ya tentu, untuk apa aku ke Nanamori" jawab Takeshi.
"haha..baiklah kalau begitu bagaimana kalau aku menantang kau dan fraksi mu untuk berperang?" ucap Kazama yang menantang Takeshi.
"Baiklah aku setuju" ucap Takeshi yang menyetujuinya.
"Kapan dan di mana" tanya Takeshi.
"Di lapangan golf tidak terpakai besok sore" jawab Kazama.
"Baiklah aku akan datang" ucap Takeshi.
"Aku akan menunggu" ucap Kazama.
Setelah selesai berbincang Takeshi pergi meninggalkan Kazama.
Ke esokan harinya fraksi Takeshi datang ke lapangan golf yang sudah di janjikan,
dan fraksi Kazama sudah menunggu.
"Ternyata kau memang datang" ucap Kazama.
"Apa maksudmu? kau pikir aku akan lari!" ucap Takeshi.
Setelah itu perang pun di mulai kedua fraksi maju, dan saling menyerang satu sama lain.
Hingga akhirnya Takeshi dapat bertemu dengan Kazama.
"Ketemu kau rambut ubanan" ejek Kazama kepada Takeshi.
Pertarungan mereka berdua pun di mulai.
Kazama yang kesal karena Takeshi tak kunjung kalah, Kazama berbuat curang Kazama mengambil sebuah pemukul baseball, dan menyerang Takeshi menggunakan pemukul tersebut.
"Aku sangat membenci orang yang menggunakan senjata saat bertarung" ucap Takeshi.
"Ya aku juga, tetapi berbeda jika kau yang menggunakan senjatanya, ini akan menyenangkan Takeshi" ucap Kazama yang langsung menyerang Takeshi dengan tongkat baseball.
Takeshi hanya bisa menghindar dari serangan tersebut, setelah lama mengayunkan tongkat baseball Kazama pun kelelahan.
Melihat itu Takeshi langsung menyerang Kazama dan membuat Kazama terpental.
"Aku menang" ucap Takeshi setelah menjatuhkan Kazama.
"Ha....haha.....HAHAHA jangan senang dulu Takeshi, pertarungan baru saja di mulai" ucap Kazama yang masih sadar.
Setelah Kazama mengatakan itu tiba tiba anggota dari fraksi Takeshi menyerang Takeshi sendiri.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN?" ucap Takeshi yang terkejut.
"Aku mendengar dari mereka kalau kepemimpinan mu itu tidak lah bagus, maka dari itu aku mengajak mereka untuk bergabung dengan ku" ucap Kazama.
"Sial...sialan kau", "haha teruslah berbicara, aku lah yang memenangkan pertarungan ini Takeshi" ucap Kazama.
"Aku pasti akan menghabisi mu" ucap Takeshi yang sangat marah.
"Ya aku tau, kalian hajar dia" ucap Kazama yang merintah.
Takeshi di pukuli habis habisan oleh banyak orang membuat Takeshi tak sadarkan diri.
"Sudah hentikan kalian" ucap Kazama,
melihat Takeshi yang tidak sadarkan diri Kazama menghentikan orang orang yang memukuli Takeshi.
Setelah itu semua orang yang ada di situ pergi meninggalkan Takeshi.
Saat Kazama juga berjalan pergi tiba tiba dia di serang oleh Takeshi yang masih sadar menggunakan tongkat baseball.
Tongkat baseball itu mengenai kepala Kazama membuat Kazama tak sadarkan diri dan mengalami pendarahan.
Semua orang yang ada di sana terkejut melihat itu, dan tiba tiba Takeshi sadar apa yang baru saja dia lakukan.
Tidak lama setelah itu polisi datang dan semua orang yang ada di sana pergi melarikan diri.
Tetapi tidak dengan Takeshi karena dia merasa bersalah.
Dia di bawa ke kantor polisi di tegur, dan Takeshi pun di keluarkan dari SMA Nanamori.
Setelah di keluarkan Takeshi mendaftar kan diri di berbagai SMA tetapi satu pun tidak menerimanya.
Berbeda saat dia mendaftarkan dirinya di Suzuran dia di terima, dan Takeshi tidak ingin lagi berurusan dengan sebuah fraksi di sana, tetapi takdir berkata lain.