Clandestine

Clandestine
Talk About You #1



Mata Kiera langsung tertuju pada seorang kakak kelas yang sedang berdiri bersandar di dinding yang tak jauh


dari tempat mereka berdiri. Tanpa berpikir panjang lagi Kiera langsung menarik lengan Ghea untuk menghampiri kakak kelas yang tampaknya ingin beranjak pergi itu.


Sebagai murid baru yang belum tahu banyak tentang sekolah barunya, Kiera berpikir alangkah lebih baiknya jika mereka berdua mendapat seorang pemandu untuk sekedar mengetahui beberapa tempat penting di sekolah ini. Dan kantin menjadi salah satu kategori tempat yang penting bagi sepasang sahabat ini.


“Kaakkk...” Teriak keduanya namun tak begitu keras dan untungnya Ghea sempat meraih tangan kakak kelas itu hingga dia benar-benar menghentikan langkahnya.


“Maaf Kak, aku Kiera ini teman aku namanya Ghea. Kita mau numpang nanya nih kalau kantin di sebelah mana ya?”


Cowok itu pun hanya tersenyum simpul pada Ghea dan Kiera. Tak sengaja cowok itu melihat badge kelas X yang ada di seragam Kiera, “Kalian murid baru ya... aku Ervan XI MIA 1...” Cowok itu mulai mengenalkan dirinya kepada dua adik kelas barunya itu.


“Kebetulan aku juga mau ke kantin, barengan aja gimana?” Ajak Ervan yang hanya ditanggapi anggukan oleh Ghea dan Kiera.


Suasana riuh yang khas dari kantin sekolah menjadi pemandangan yang biasa untuk Ghea dan Kiera, mungkin hanya tempatnya saja yang berbeda juga seragam yang sudah berbeda warna dari sebelumnya, jadi terasa lebih waw aja gitu. Mungkin. Sembari mencari tempat yang kosong, Ervan mengajak Ghea dan Kiera untuk mengelilingi area kantin. Mengenalkan setiap kios yang ada beserta menu dan sapaan akrab masing-masing pemiliknya. Cukuplah untuk menambah informasi tentang sekolah baru mereka ini.


“Oh ya, kalian mau makan atau minum apa nih? Biar aku pesanin sekalian...” Ervan menawarkan diri untuk melayani Ghea dan Kiera yang baru saja merebahkan tubuhnya di salah satu bangku yang kosong.


“Aduuh Kak, nggak usah deh... kita bisa beli sendiri kok nanti...”


“Apaan sih Kie, santai aja... kalian kan masih baru, biasanya tuh kalau anak baru dilayaninnya belakangan. Ntar malah nggak keburu...” Ervan menepuk pelan bahu Kiera, “Udah kalian mau pesan apa nih?”


Belum sempat menjawab pertanyaan Ervan, tiba-tiba ada seseorang yang datang mendekati mereka. Sepertinya orang itu teman dekat Ervan, pasalnya begitu sampai dia langsung menyapa Ervan dengan tos andalan yang  mereka punya.


“Waaahh udah gerak cepet aja loh Van...”


“Ngasal aja, kenalin ini Ghea sama Kiera. Adik kelas baru kita...” Ervan mengenalkan temannya itu pada Ghea dan Kiera.


Kenzo W...  desis Ghea saat membaca nama laki-laki itu yang tertera pada kemeja seragam putihnya dan nampaknya desisan Ghea terlalu keras sehingga cowok itu mendengarnya.


“Panggil aja Kenzo atau Ken” Ucapnya pada Ghea sambil tersenyum lebar membuat gadis itu salah tingkah


dibuatnya.


Kenzo pun langsung mengalihkan pandangannya dengan kembali mengajak Ervan berbicara, “Oh iya, denger-denger katanya ini first anniversary lo sama Dara kan? Traktirannya mana nih broo...”


“Update banget lo ya kalau soal gratisan?!” Ervan menggelengkan kepala melihat tingkah teman karibnya itu.


Kenzo hanya tersenyum lebar penuh kemenangan, “Kalau iya, gue deh yang mesenin. Ntar lo tinggal bayar. Gimana?”


“Iya, sana deh lo pesenin. Nih...” Ervan menggenggamkan uang yang ada di sakunya pada Kenzo.


“Mereka juga dapet kan?” Kenzo melirik ke arah Kiera dan Ghea membuat kode garis  keras untuk Ervan kali ini. Ervan pun hanya menanggapinya dengan ekspresi wajah yang mengiyakan.


“Loh Kak..?” Celetuk Ghea dan Kiera spontan.


“Udah dek, dia duitnya banyak nggak usah khawatir. Jadi pada mau pesen apa nih?”


“Es jeruk aja Kak, dua.” Balas Kiera singkat tanpa bernegosiasi dengan Ghea.


“Loh nggak pada makan?” Mereka berdua hanya menggelengkan kepalanya barengan, “Bakso aja gimana? Mau ya? Udah, tambahin cappuccino dingin satu sama bakso tiga, Ken. Serah lo mau pesen apa.”


“Jadi Kak Ervan ini udah punya pacar? Kok istirahat gini nggak makan sama pacarnya, Kak?”


Ngaca, Ghe... kayak lo nggak gitu aja... Batin Kiera.


Ervan hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Ghea yang mungkin sudah jadi makanan sehari-hari baginya, “Jadi Dara pacar aku itu anak OSIS dan sering banget rapat, terus ngurus ini itu. Ya kalian tahu lah gimana anak OSIS. Apalagi sekarang lagi masa orientasi, ya nggak bisa berharap banyak bisa makan berdua. Paling kalau nggak sendiri ya Kenzo yang biasanya nemenin...” Ervan menjelaskan panjang lebar alasan dia tidak pergi dengan kekasihnya saat istirahat seperti ini.


“Oooohh...” Suara Kiera dan Ghea yang keluar bersamaan itu sudah seperti regu paduan suara.


“Kalau gitu sih sama aja jomblo dong...” Gerutu Ghea pelan, sontak Kiera langsung menyenggol


siku Ghea.


                                                                                                ● ● ●


 “Arka Aditya W.? Kenal kok, kenapa? Kamu naksir sama dia?”


Ervan sudah mengira sebelumnya tentang kalimat apa yang akan terlontar dari bibir Kiera, karena hampir setiap kali dia kenalan sama junior perempuan yang pertama mereka tanyakan adalah apakah si kakak ini kenal sama Arka Aditya W. dan berikut pertanyaan-pertanyaan yang membutut di belakangnya.


kepada Ervan tentang perkenalannya.


“Oh aku kira kamu suka sama dia, soalnya banyak banget cewek di sekolah ini yang naksir sama dia...”


“Emang kenapa Kak, kalau banyak yang naksir sama Kak Arka?” Ghea terlihat begitu antusias dengan topik pembicaraan kali ini, seolah ada ambisi besar buat nyomblangin sahabatnya sama cowok indo yang ternyata kakak kelasnya itu.


“Ya nggak papa sih. Arka emang baik orangnya, keren, ganteng, pinter juga, ya kalian tahu sendiri laah... jadi ya nggak salah kalau banyak cewek yang tergila-gila sama dia...” Ervan tampak sedikit ragu untuk melanjutkan


kalimatnya.


“Tapi?”


“Nggak tahu deh akhir-akhir ini jadi agak beda aja dia nya...”


Ervan pun menjelaskan panjang lebar tentang Arka pada Kiera dan Ghea. Mulai ciri-ciri fisiknya bahkan sampai perubahan sifatnya yang kini membuat Ervan sendiri bertanya-tanya.


“Kak Ervan udah lama kenal sama Arka?” Kiera yang mulai ingin tahu itu pun memotong kalimat Ervan.


“Arka?”


Kiera membungkam mulutnya segera, merasa bahwa dirinya sudah salah bicara di depan kakak kelasnya itu. “Maaf, Kak Arka maksudnya...”


“Pasti Arka ya yang minta kamu bilang gitu?” Kiera hanya diam menandakan kebenaran ucapan Ervan yang tak begitu untuk diberi jawaban.


“Gapapa Kie, aku ngerti kok. Arka emang gitu orangya, dibawa santai aja.”


“Jadi Kak Ervan udah kenal lama sama Kak Arka?” Ghea mencoba mengembalikan topik pembicaraan di antara mereka.


“Dari SD sih, tapi nggak pernah deket. Nah kalau yang udah sohib banget sama Arka itu ya si Kenzo. Cuma mereka baru deket waktu SMP kalau nggak salah.”


“Weeeee pada serius amat, ngomongin apaan sih?! Nih pesenan kalian... ini kembaliannya, Van...” Kehadiran Kenzo pun memecah suasana yang sempat sendu sebelumnya.


“Nah kalian tanya aja nih sama dia, dia lebih tahu banyak soal Arka.”


Kenzo menatap dengan wajah penuh tanya saat Ervan menepuk bahunya, “Fans nya Arka lagi?”


Ervan menggeleng pelan, mencoba menjelaskan pada Kenzo bahwa untuk episode kali ini ada yang berbeda. Kalau biasanya mereka hanya diminta untuk memberikan nomor hp dan akun sosial medianya Arka, kali ini


mereka diminta untuk menceritakan sisi kehidupannya Arka.


“Kiera sama Ghea ini kemarin sempet ketemu sama Arka pas liburan dan mereka sempet kenalan juga sama Arka. Terus ya sekarang mereka pengen tahu aja Arka itu gimana orangnya, ya gue cerita kalau Arka yang


sekarang itu udah beda. Gue bilang ke mereka gimana Arka yang dulu, gimana dia ke teman-teman ceweknya, gimana dia ke gue, gimana dia ke elo. Eh pas gue cerita elo dateng, ya mending elo lah yang cerita. Yang tahu


lebih soal Arka.”


Kenzo hanya manggut-manggut mendengarkan cerita singkat Ervan tentang keinginan Ghea dan Kiera.


“Oke, karena selama satu semester kemarin baru kali ini gue denger Arka bisa kenalan lagi sama orang baru, dan gue pikir kalau kayak gitu berarti Arka cocok sama kalian. Ya gue bakal dengan senang hati juga berbagi sama kalian. Gue tahu banget Arka bukan cowok keren ya suka tebar pesona sama cewek soalnya, jadi kalian masuk edisi khusus cewek yang bisa dekat sama Arka... ” Kenzo dan Ervan pun tertawa ringan seolah tengah mengingat bagaimana seorang Arka yang dulu bisa begitu dekat dengan mereka.


“Hei, sambil dimakan dong baksonya.” Celetuk Ervan yang melihat kedua adik kelasnya tampak begitu seksama mendengarkan cerita tentang Arka. Kiera dan Ghea pun tersenyum, menyadari bahwa Ervan memperhatikan gerak-gerik mereka sedari tadi.


Sedangkan Kenzo yang kebetulan memilih untuk hanya memesan minuman pun mulai mengawali ceritanya, “Jadi semua hal baik yang ada di diri Arka itu hilang gitu aja sejak awal semester kemarin. Dia jadi dingin banget gitu sama cewek, selalu ngehindar tiap kali dimintain tolong, udah bukan Arka yang dulu lagi pokoknya. Bahkan waktu itu dia juga mutusin pacarnya tiba-tiba tanpa alasan yang jelas, padahal ya kita semua tahu Arka sama pacarnya itu best couple di sekolah ini. Ya siapa gitu yang nggak bertanya-tanya dengan


perubahan yang sedrastis itu?” Kenzo menghela napas panjang dan berniat kembali melanjutkan pembicaraannya.


“Dia dulu juga sering banget ngajakin kita-kita main ke rumahnya, belajar bareng, sharing, atau sekedar nongkrong doang pas satnight. Tapi sekarang, boro-boro nongkrong atau belajar bareng, kita izin buat datang ke rumahnya aja bener-bener nggak dibolehin.”Sahut Ervan yang merasa kalau penjelasan Kenzo sedikit kurang lengkap.


“Kakak nggak coba tanya ke Kak Arka apa alasannya?”


“Boro-boro nanya, bisa ngobrol sama dia di sekolah aja udah beryukur banget kita... dia lebih senang sendiri sekarang, paling sesekali gabung basket pas pulang sekolah...”


Kiera keheranan dengan penjelasan kedua teman Arka yang ada di hadapannya itu, “Segitunya?” Ervan sekedar mengiyakan pertanyaan itu lewat mimik mukanya.


“Eh tapi gue sempat sih nanya, cuma rada dingin gitu dianya. Dia bilang ke gue waktu itu kalau ‘Lo nggak punya hak untuk tahu itu’, gitu sih katanya.” Ada senyum tipis yang tersungging di sudut bibir Kenzo saat itu. Senyum samar yang nyaris tak terlihat.