
Kiera tampak begitu cantik dengan penampilan sederhananya yang hanya menggunakan kaos Polo putih dengan bawahan jeans biru selutut. Rambutnya yang hanya diikat ekor kuda dan kebetulan tertutupi oleh topi hitamnya itu semakin membuatnya tampak natural dan cukup membuat si cowok setengah bule ini terpesona. Mungkin.
Arka langsung duduk di kursi sebelah Kiera, tersenyum tipis menatap gadis yang akan diajaknya berkenalan itu serta memandang lekat-lekat setiap detail wajah Kiera meski sebatas dari sisi samping saja.
“Hobi motret ya?”
Seumur hidup Arka belum pernah menjadi pembuka obrolan dengan orang yang baru dikenalnya. Faktor tampangnya sangat berpengaruh dalam hal ini. Wajah rupawan, hidung mancung, serta kulitnya yang bersinar terang itu selalu berhasil memikat perhatian setiap perempuan di sekitarnya.
Kiera sempat kaget ketika mendapati Arka yang tiba-tiba sudah ada di sebelahnya, “E-eh enggak juga sih, kebetulan aja tadi temen gue ngajak ke danau. Ya gue bawa aja kamera ini, barangkali ada yang bisa diabadiin. Lo...?”
Arka langsung menyahut pembicaraan Kiera, seakan tahu apa yang ada dalam pikiran gadis cantik di hadapannya itu, “Arka Aditya Wibisono, panggil aja Arka.”
Kiera mengangguk-anggukan kepala menanggapi Arka yang lebih dulu memperkenalkan diri padanya.
“Tadi temen lo yang bilang, lo pengen kenalan sama gue, bener?” Sangat to the point.
Arka selalu tak memiliki cara untuk sekedar berbasa-basi dengan setiap lawan bicaranya. Terlebih lagi bila lawan bicaranya itu adalah seorang wanita. Namun Kiera tak terlalu menghiraukannya meskipun kecanggungan laki-laki itu begitu ketara di hadapannya.
“Ck, sorry banget ya. Ghea emang suka gitu orangnya... tapi dia baik kok anaknya... beneran deh... suer...”
“It’s okay. Santai aja kali.” Kesan dingin Arka sedikitpun tidak membuat Kiera merasa asing, dia juga hanya merespon jawaban Arka dengan anggukan kepala dan setelah itu keduanya sama-sama terdiam.
“Lo belum kasih tahu gue siapa nama lo... ” Lanjut Arka tanpa ekspresi. Masih flat. Dan dingin.
Kiera yang sedang menenggak chococinno-nya itu sontak langsung terbelalak, cowok itu ternyata masih peduli dengan nama lawan bicara yang baru ditemuinya, “Oh iya, Kiera Khanza Pradita. Panggil aja Kiera.” Kiera mengulurkan tangan kanannya pada Arka setelah meletakkan cangkir minumannya.
Sebagai cara untuk mengurangi kecanggungannya, Kiera sesekali memainkan sendok yang ada dalam cangkir minumannya, “Eumm... Ngomong-ngomong lo ini masih kuliah atau udah kerja?”
Arka hanya tersenyum samar mendengarnya, “Baru naik kelas 2 SMA.” Jawab Arka singkat sambil membetulkan letak kacamatanya.
“Serius? Sama dong, eh tapi gue baru masuk tahun ini sih.” Kiera sempat dibuat terhenyak mendengar
bahwa Arka masih kelas 2 SMA. Tak disangka-sangka ternyata usia Arka tak terpaut jauh dengannya.
“SMA mana?” Arka mencoba mengasikkan pembicaraan mereka, agar terkesan lebih akrab.Walaupun sebenarnya masih terasa sedikit aneh.
Tampangnya sih cuek, tapi ternyata care juga orangnya. Bener-bener nggak bisa ditebak nih orang.
“Gue? Nusa Bangsa.” Jawab Kiera singkat.
“Gue juga anak Nusa. X berapa?”
Tak butuh waktu lama bagi Arka untuk mulai terbiasa dengan pembicaraannya bersama Kiera. Menurutnya Kiera adalah gadis yang cukup asik. Di awal obrolan keduanya, Kiera terlihat sangat berbeda dengan cewek-cewek yang pernah dekat dengan Arka sebelumnya, nggak ada gelagat grogi ataupun centil yang nampak dari tubuh Kiera. Dan itu cukup membuat Arka cepat nyaman bicara dengannya.
“X MIA 2. Lo sendiri?”
“Gue XI MIA 1...”
“Waaaah, berarti gue harus panggil lo kakak dong!?!” Kiera membetulkan posisi topinya yang dirasa kurang nyaman.
“Nggak usah lah, Arka aja cukup... di sekolah aja lo panggil gue kakak, itu pun cuma kalau lo takut sama temen-temen gue aja sih...” Jawab Arka yang mulai bersahabat dengan Kiera.
“Kenapa gitu?”
“Mereka kadang bakal marah gitu kalau sampai ada adik kelas yang manggil kita langsung nama aja. Apalagi anak-anak cewek, sok senioritas gitulah... tapi kalau lo berani, ya panggil Arka aja. Gue mah nggak ambil pusing orangnya.”
Pelan-pelan Arka mulai tertarik untuk berbicara panjang lebar dengan Kiera, mungkin karena kesan pertama yang berbeda dari Kiera yang membuat Arka merasa nyaman. Sedangkan Kiera hanya manggut-manggut
mendengarkan jawaban Arka.
“Cari Ghea ya? Tadi dia pulang duluan, katanya ada janji sama pacarnya.”Celetuk Arka saat mendapati Kiera yang tengah celingukan mencari-cari sesuatu.
“Oh, pantesan kok nggak balik-balik. Eumm, by the way lo ini hobi gambar? Sejak kapan? Bisa dong gambar
gue kapan-kapan...” Goda Kiera pada Arka, bermaksud membuat suasana obrolan mereka lebih santai.
“Gambar?” Ekspresi bingung Arka nampak jelas, Kiera pun hanya mengarahkan pandangannya pada buku sketsa yang tengah dipegang oleh Arka.
“Oh ini...” Diulurkannya buku tersebut pada Kiera. “Enggak sih, gue justru lebih hobi motret daripada gambar. Tapi boleh lah, nanti kalau ada waktu gue gambar lo deh...” Untuk kali pertama Arka menunjukkan senyumnya di depan Kiera.
“Bener ya?”
“Gombal banget yaa... tapi beneran deh gambaran lo bagus tau, sayang kalau nggak dikembangin.” Balas Kiera yang masih terus membolak-balik setiap halaman buku sketsa itu.
“Masa sih? Ini tadi kebetulan aja kameranya lagi dipinjem sama adek. Ya daripada nganggur, mending gue
gambar aja. Kalau yang bener-bener hobi gambar itu sih adek gue.” Arka mengusap-usap tengkuknya sebagai alibi dari rasa grogi yang menimpanya.
“Bentar... Ko, ini uangnya ya. Makasih Ko.” Ucap Arka sambil mengeluarkan uang dari dompetnya.
Tanpa sengaja Kiera melihat sebuah foto di dalam dompet Arka. Terdapat tiga anak laki-laki, salah satunya Arka, dan satu gadis kecil yang sangat amat cantik. Kiera mulai penasaran, siapa ketiga anak kecil yang bersama Arka dalam foto itu.
“Itu saudara lo semua, Ka?”
“Oh ini? Iya ini foto kakak sama adik gue waktu gue masih umur 7 tahun. Kenapa?” Arka mengeluarkan foto
itu dari dompetnya dan menunjukkan pada Kiera.
“Lucu. Empat bersaudara? Anak ke berapa?” Kiera mulai tertarik dengan pembahasan ini, jarang-jarang ia
peduli dengan kehidupan cowok yang baru dikenalnya.
“Iya, gue anak ke dua. Ini kakak gue namanya Afrizal. Gue biasa panggil dia Bang Rizal.” Ucap Arka sambil menunjuk foto kakak laki-lakinya. “Kalau ini, adik gue yang nomer tiga namanya Ardian. Biasanya gue panggil dia Ardi.”
“Kalau yang cewek ini siapa? Cantik banget, lucu lagi...”
Kiera seakan ingin mengetahui semua tentang Arka. Sejak dulu Kiera memang selalu
tertarik dengan anak kecil. Tapi ini adalah kali pertama dia punya keinginan buat ngepoin kehidupan teman laki-lakinya, biasanya justru dia yang sering dikepoin sama teman-temannya.
“Ini?” Arka balik bertanya pada Kiera sambil menunjuk foto adik perempuannya itu, lalu dia diam sejenak. Sepertinya ada sesuatu yang sedang ia pikirkan dan ekspresi wajahnya saat itu pun langsung berubah
seketika.
“Ka...?” Arka tak merespon. “Arka...?” Kiera menepuk pelan lengan Arka hingga ia terkejut dan tersadar dari lamunannya.
“Ditanya kok malah ngelamun sih? Gue salah ngomong ya? Maaf deh... nggak dijawab juga nggak papa kok...”
“Eh... enggak, nggak papa kok.” Senyum pahit itu tersungging di wajah Arka. “Dia anak bungsu di keluarga gue. Namanya Arinda. Biasanya gue panggil dia Arin.” Lanjut Arka.
“Namanya cantik, kayak orangnya...” Puji Kiera.
“Emang, Kie...” Sahut Arka dengan senyum masam yang tersungging di bibir tipisnya yang merah itu. Tatapannya kosong, membuat Kiera ingin bertanya lebih lanjut. Tapi gadis itu lebih memilih untuk mengurungkan niatnya.
● ● ●
Di tengah keseruan mereka, tiba-tiba ponsel Arka berdering tanda sebuah panggilan masuk dari Arinda, adik bungsu Arka. Gadis itu berniat menagih janji pada kakaknya untuk segera pulang, karena Arka memang sudah berjanji untuk menemani adiknya membeli keperluan sekolah sekaligus makan malam berdua hari ini. Tapi ternyata Arka justru tidak segera menyanggupi permintaan adiknya itu hingga ber jam-jam. Berulang kali
Arinda mencoba menghubunginya, dan ia hanya berkata “Sebentar yaa, Rin.”
Arinda pun mulai kesal dengan sikap kakaknya hari ini, dia akhirnya mencoba untuk menghubungi kakaknya kembali untuk memastikan apa mereka akan tetap pergi berdua malam ini.
“Halo Kak, sebenernya kakak bisa nggak sih nganterin aku? Keburu malem nih, kakak tuh janji sama aku harusnya udah dari dua jam yang lalu tau nggak?!”
“Mmm maaf ya dek, kalau ditunda dulu bisa nggak?” Arka sedikit ragu untuk mengatakan hal itu pada adiknya.
“Soalnya kakak keliatannya nggak bisa nemenin kamu malem ini, gimana kalau besok?”Lanjutnya.
“Besok? Kak, aku nungguin kakak dari dua jam yang lalu, dibilangnya suruh tunggu, oke aku tunggu. Aku telepon kakak berulangkali pun tetep disuruh tunggu, aku juga tetep nunggu. Terus sekarang kakak mau bilang ditunda besok aja?” Telepon itu masih tersambung, akan tetapi suara Arka tak terdengar sedikitpun oleh Arinda.
“Seandainya pun ada orang di rumah ini yang bisa kumintai tolong buat nemenin aku, aku nggak akan kok ngegangguin kakak sama pacar kakak itu.” Jelas sekali terdengar kekesalan Arinda pada kakaknya itu, nada bicaranya pun sedikit meninggi kala itu.
“Oke oke, kakak pulang... kamu tunggu yaa..” Sahut Arka dari seberang yang masih terdengar jelas oleh adiknya.
“Nggak usah. Aku bisa pergi sendiri pakek motor Mbak Dini.” Telepon pun diputus begitu saja oleh Arinda.
Sedangkan Arka yang cukup memahami kemarahan adiknya itu pun akhirnya tetap memutuskan untuk pulang menemui adik bungsunya yang memang sedang sendiri di rumah. Beberapa saat setelah pembicaraannya dengan Arinda berakhir, Arka mendapat kabar yang tak mengenakkan.
Pihak kepolisian menghubunginya dan memberi kabar bahwa adik perempuan sematang wayangnya itu baru saja mengalami kecelakaan dalam perjalanannya yang tujuannya tidak diketahui pasti oleh mereka.
Arka syok, seluruh tubuhnya melemas begitu mendengar informasi tersebut. Terlebih lagi ketika ia baru saja tiba di rumah sakit dan mendapat kabar bahwa Arinda harus mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan yang dialaminya itu. Arka hancur sehancur-hancurnya, ingin memutar waktu untuk bisa segera pulang menemani adiknya yang sudah menunggu kehadirannya cukup lama di rumah.