Clandestine

Clandestine
Is That You?



Aroma kopi yang menyebar ke seluruh penjuru ruangan, membuat suasana hati setiap pelanggan yang datang menjadi lebih baik dari sebelum mereka memasuki kedai itu. de Bueno Coffee memang salah satu kedai kopi terbaik di kota ini. Dan buat Arka, dua atau tiga kali sehari berkunjung ke sini adalah sebuah kewajaran.


Belum lagi white coffee andalan Ko Andi adalah satu-satunya menu yang berhasil membuat Arka jatuh hati sama kedai ini.


Kedai ini memang sudah berdiri lama dan turun temurun. Ko Andi sendiri adalah generasi kedua yang kebetulan juga memberi nama kedai ini dengan de Bueno Coffee, dia juga yang berhasil merubah seluruh tampilan kedai ini menjadi tempat yang lebih modern dan nyaman untuk sekedar bersantai ataupun menyendiri, seperti yang selalu dilakukan Arka beberapa waktu belakangan ini.


Arka langsung duduk tepat di depan meja yang biasanya digunakan Ko Andi untuk membuat menu-menu andalan kedainya itu. Sengaja, biar bisa langsung pesan sama yang punya.


“Ko, biasanya dong satu...” Ucap Arka sambil mengacungkan telunjuk kanannya ke Ko Andi.


“Eh elu lagi? Bukannya tadi siang udah ke sini?” Sebenarnya Ko Andi sih sudah tak  perlu lagi merasa kaget jika Arka datang ke sana lebih dari dua kali sehari, tapi ya mungkin sekedar hanya untuk basa-basi saja sebagai pembuka obrolan di tengah keduanya.


“Yaelah Ko, kangen gue sama white coffee buatan lo...” Arka sembari terkekeh hambar menjawab pertanyaan retoris Ko Andi itu.


“Aelah Ka, hafal banget gua mah sama elu. Kalau lo ke sininya sampai dua kali begini, pasti lagi suntuk kan? Masa’ hampir seminggu ini lo tiap sore cuma mondar-mandir di kedai gua doang?” Ko Andi terus bercakap-cakap dengan Arka sembari tangannya tak berhenti membuatkan minuman-minuman untuk para pelanggan.


Kebetulan usia Ko Andi ini belum terlalu tua, jadi dia hampir sering banget dijadiin tempat curhat sama pelanggan-pelanggan setia kedainya, kayak si Arka ini. Dan tempat favorit pelanggan-pelanggan yang pada


mau cerita itu ya di tempat yang sekarang sedang dipakai sama Arka.


“Paham banget sih Ko...” Arka tersenyum lebar kepada Ko Andi  sambil mengusap-usap bagian tengkuknya.


“Kalau nggak suntuk, lo pasti udah duduk di sana tuh. Sambil megang buku gambar kalau nggak gitu ngotak-atik kamera kesayangan lo itu... dan nggak mungkin juga lo bawa mobil lo itu kemari. Iya kan?” Ko Andi mengangkat dagunya ke arah tempat duduk favorit Arka biasanya dan memang kali ini Arka datang dengan tangan kosong. Hanya ada sebuah kunci mobil yang ia letakkan di atas meja.


“Perhatian juga Ko sama gue?”


Ko Andi mencibir Arka sambil menyuguhkan secangkir white coffee pesanan Arka. “Nih, spesial masih panas...”


“Makasi ya, Ko.” Arka mulai mengaduk minumannya perlahan sambil menunggu sampai agak dingin.


“Kalau aja pelanggan-pelanggan gue itu terbatas dan datangnya terjadwal, pasti deh Ka tiap meja gue kasih nama mereka satu-satu...”


Arka hanya tertawa kecil mendengar celotehan Ko Andi, tapi untuk kali ini tawa Arka tidak begitu lepas seperti biasanya, kelihatan banget kalau dia sedang memikirkan banyak hal dalam kepalanya.


Ko Andi yang tadinya juga ikut terkekeh seketika langsung diam saat menyadari ada yang sedikit berbeda dengan Arka, “Jadi lo mau cerita apa nih?”


Bukannya langsung merespon pertanyaan Ko Andi, Arka justru masih terdiam dan terus mengaduk-aduk minumannya yang sedari tadi belum diteguknya sekalipun.


“Ka...” Arka tersentak kaget ketika Ko Andi tiba-tiba menepuk bahunya. “Kalau lo nggak mau minum kopinya, sini biar gue yang minum...”


Arka langsung tersenyum kemudian mulai meneguk setengah cangkir minuman yang sudah terlanjur dingin itu.


“Kalau lo emang lagi nggak pengen cerita, nggak papa. Tapi lo di sini dulu aja sampai tenang. Jangan nyetir sambil mikir, bahaya.”


Keduanya pun langsung memilih diam. Ko Andi kembali sibuk dengan sekian banyak pesanannya dan Arka kembali sibuk menatap ke dalam cangkir minumannya sembari sesekali mengetuk-ketukkan sendok teh ke dalam cangkirnya itu. Mungkin cuma itu, hal yang membuat Arka merasa lebih baik. Ditambah aroma setiap minuman yang diracik Ko Andi di balik meja itu selalu berhasil membuat semua hal terasa lebih ringan. Serasa semua beban di kepala ikut berhembus bersama aroma kopi yang khas itu.


Gubraaakkkk...


Lamunan Arka terpecah bersamaan dengan suara pecahnya beberapa cangkir kopi yang terjatuh dari salah satu meja yang ada di de Bueno Coffee. Seketika seluruh pengunjung menoleh ke arah sumber suara itu, tak terkecuali Arka dan juga Ko Andi.


Suasana kedai sempat hening sesaat dan kembali riuh ketika salah satu pegawai de Bueno Coffee menghampiri seorang cowok  ─dengan jaket bernuansa olive green serta topi hitam di kepalanya─ yang tampaknya tidak sengaja menyenggol meja yang ada di dekat pintu keluar itu. Sehingga yang terjadi minuman pelanggan yang


menempati meja itu tumpah membasahi seluruh permukaan meja.


Cowok itu langsung meminta maaf kepada si orang yang duduk di tempat tersebut, dia juga mau bertangggung jawab untuk membersihkan meja itu. Akan tetapi, Ko Andi yang bersamaan dengan Arka melihat kejadian itu pun langsung berteriak ke arah cowok tersebut, “Udah Bro, nggak papa lo pulang aja.


Lain kali hati-hati yaa...”


Cowok yang tadinya masih membersihkan meja itu langsung mendongak menatap ke arah Ko Andi yang tubuhnya terhalangin oleh tubuh Arka yang duduk tepat di depan Ko Andi. Cowok itu hanya melihat sekilas wajah Ko Andi yang sempat meneriakinya tadi.


“Maaf ya Ko...” Cowok itu langsung bangkit dan menangkupkan kedua tangannya ke arah Ko Andi sebagai simbol permintaan maafnya. Wajahnya tak terlihat jelas baik oleh Ko Andi maupun Arka.


“Oi, santai aja... Hati-hati lo baliknya...” Ko Andi menggeleng-gelengkan kepalanya seolah keheranan, “Dasar anak muda sekarang, kerjaannya galau mulu. Untung di sini, bukan di jalan raya. Bisa bahaya kalau sampai kejadian yang enggak-enggak.” Arka terdiam mendengar celotehan Ko Andi, merasa kalau perkataan itu sengaja ditujukan juga padanya.


“Itu juga salah satu pelanggan setia gue.” Ucap Ko Andi saat Arka baru saja kembali pada posisi duduknya. Seolah mengerti apa yang hendak ditanyakan Arka kepadanya.


Arka hanya manggut-manggut mendengar ucapan Ko Andi, “Kayak pernah tahu sih emang...” Mata Arka masih terus tertuju ke halaman de Bueno Coffee, memperhatikan cowok yang mungkin seumuran dengan dirinya itu.


“Lah, bukannya itu temen jaman lo masih bocah? Jaman-jamannya lo ke sini masih pada makek sepeda...” Ko Andi masih terus sibuk dengan minuman-minumannya.


“Mirip sih, tapi udah lama banget kita nggak ketemu...” Sekilas Ko Andi melihat Arka masih terus menatap ke arah cowok yang tadi, bahkan sampai cowok tersebut benar-benar pergi dari de Bueno Coffee.


“Udah, jangan lama-lama ngeliatnya. Ntar naksir, gue yang repot.”


Arka hanya menggidik geli mendengar celetukan Ko Andi, “Ya kali Ko...”


                                                                                              ● ● ●


“Selamat ulang tahun, Bro. Sorry ya, gue udah ngerjain lo habis-habisan hari ini...” UcapArka dengan wajahnya yang tampak bahagia karena berhasil merayakan ulang tahun sahabat kecilnya itu dengan teman-temannya yang lain. Layaknya laki-laki seumurannya, ia langsung menghamburkan pelukan hangat pada sahabatnya itu.


Namun yang terjadi laki-laki itu justru menolak sikap Arka dengan kasar, tak peduli hal baik apa yang sudah Arka lakukan untuknya hari ini. “Thank you, tapi sorry gue harus cabut...”


Laki-laki itu membenarkan posisi jaket yang tengah ia gunakan, melangkah keluar kelas dengan meraih ranselnya yang sempat tergeletak di lantai. “Lo kenapa sih, Bro? Buru-buru banget baliknya, ke Bueno dulu lah kita ngopi-ngopi...”


Arka sempat melihat senyum samar di sudut bibir sahabatnya itu ketika ia mencoba menahannya untuk pergi. “Harus ya gue ngerayain kepergian kakak gue?”


Tatapannya tajam mengarah jelas pada kedua mata Arka. Kemudian laki-laki itu kembali melanjutkan langkahnya untuk segera pulang. Arka dibuat tak mengerti dengan maksud pembicaraan sahabatnya itu.


Ini hari bahagianya, hari ulang tahunnya, lantas mengapa laki-laki itu bersikap begitu dingin pada Arka. Bukannya ia harusnya senang ketika sahabatnya mengingat hari ulang tahunnya seperti saat ini. “Kemana


sih emang? Kakak lo pergi juga nanti bakalan pulang kali... Ayolah cabut, ngerayain ultah lo dulu sekali-kali...”


Seperti ada yang salah dengan ucapan Arka, hingga membuat laki-laki yang sudah melangkah jauh di depan Arka itu berbalik ke arahnya dengan tatapan penuh amarah. Melangkah dengan langkah lebarnya dan menarik sebagian kerah baju Arka yang statusnya saat itu adalah kakak kelasnya.


“Jaga omongan lo ya Ka!” Bentaknya tepat di depan muka Arka.


“Gue nggak pernah minta siapapun buat ngerayain hari ulang tahun gue... dan becandaan lo kali ini, becandaan paling bodoh yang pernah gue tau!!” Di dorongnya tubuh Arka sekeras mungkin ke dinding depan


kelasnya.


“Nggak perlu kasar juga kali!” Arka membalas dengan mendorong tubuh sahabatnya itu agar sedikit menjauh darinya.


“Gue ngucapin selamat ulang tahun ke elo baik-baik tapi lo malah marah-marah nggak jelas kayak gini ke gue. Maksud lo apa? Hah?!” Arka kembali membenarkan tampilan seragam sekolahnya.


Arka mendengar sahabatnya itu terkekeh hambar di depannya, yang dalam sedetik kemudian sudah menudingkan telunjuk kanannya tepat di depan muka Arka, “Asal lo tau aja?! Waktu lo nyembunyiin dan matiin handphone gue tadi, nyokap nyuruh gue cepet pulang, Kak Metta kecelakaan. Dan asal lo tau juga, apa yang udah bikin gue semarah ini?! Bahkan sampai kakak gue dimakamin pun gue nggak juga ada di rumah ngedampingin nyokap bokap gue.”


Arka tertegun mendengar penjelasan panjang sahabatnya itu, memilih diam hingga sahabatnya itu selesai bicara.


“Di saat semua keluarga gue berdoa biar Kak Metta bisa ngelewatin masa kritisnya, gue masih di sini, sama lo!” Nadanya berbisik tapi terdengar sakit, wajahnya mendekat tapi bukan karena dia kuat.


Tak ada yang berani melerai keduanya itu, dua orang yang dikenal sebagai pentolan sekolah karena prestasi dan juga keakrabannya yang teramat sangat. Semua hanya sekedar menyaksikan dua idola sekolah mereka


yang  kini tengah adu mulut dengan penyebab yang tidak mereka ketahui sedikitpun.


“Dan sekarang Kak Metta meninggal! Puas lo?!” Arka pasrah ketika tubuhnya kembali terdorong ke belakang. Ia melemas mendengar kabar duka lewat bentakan laki-laki yang masih berdiri tegak dengan segumpal emosi yang ada untuknya.


“Itu yang lo bilang dia bakal balik lagi?! Ini yang kata lo harus dirayain?! Iya? Hah?!”


Tampak jelas di hadapannya kedua mata itu yang tengah berusaha keras menahan air matanya. Laki-laki itu mungkin sudah bersikap kasar pada Arka, sahabatnya sendiri. Tapi bukan karena dia marah, melainkan itu


caranya menutupi hatinya yang tengah bersedih.


 “S-so-sorry, gue bener-bener minta maaf sama lo atas ulah gue tadi. Gue nggak tahu bakal jadi begini endingnya.”Arka sadar ucapan maafnya hanya akan membuat sahabatnya itu semakin marah, tapi bagaimanapun ia tetap harus mengatakannya.


Rona muka laki-laki itu benar-benar memerah, tampak sangat marah, tatapannya lebih tajam dari sebelumnya. Tapi dia memilih untuk menutupi itu semua sambil meraih kembali ranselnya yang terjatuh, “Maaf lo itu nggak akan bisa balikin kakak gue, Ka. Dia nggak akan hidup lagi, dengan lo minta maaf ke gue.”