Clandestine

Clandestine
Who Is He?



Kiera masih terdiam dengan beberapa pertanyaan yang terus berputar dalam pikirannya. Mencoba menata perasaan dan ekspresi mukanya di hadapan Ghea. Berharap sahabatnya itu tak mampu menangkap keraguan dalam hatinya. Membuat ekspresi muka sebaik yang dia bisa, berlagak sembunyi dari segala hal yang tengah ia pikirkan saat ini.


“Lo tuh ya, nggak capek apa nungguin Vino terus dari dulu? Udah berapa tahun Kie? Dan dia juga masih gitu-gitu aja sama lo...”


Kiera masih diam, memandang Ghea dengan tatapan sedikit berbeda. Seraya meminta Ghea untuk tidak melanjutkan topik pembicaraan kali ini.


Sayangnya, sepasang sahabat yang satu ini terlalu bisa untuk dibilang saling melengkapi. Dikala Kiera memilih untuk berhenti, Ghea justru ingin terus melanjutkan obrolannya. Sekalipun jelas terlihat Kiera sudah tidak berada dalam suasana hati yang baik.


“Gue tahu banget sih Vino itu ganteng emang, keren juga, pinter, bahkan sekarang juga ikut program akselerasi...”


“Tapi ya Kie, tetep aja Vino tuh jual mahal, kaku, apatis lagi kalau sama cewek. Mau sampai kapan lo bakal terus hold on sama cowok modelan begitu? Gue jadi ikutan capek kalau inget seberapa lama lo naksir sama dia...” Setelah memuji Vino dengan beberapa kelebihannya, Ghea langsung menjatuhkan Kiera dengan menjelek-jelekkan cowok itu langsung dihadapannya.


Kiera mengangkat sebelah alisnya, tersenyum sinis melihat tingkah sahabatnya yang tampak kesal dengannya atau lebih tepatnya dengan laki-laki bernama Vino itu. “Ya udah sii kalau lo capek, istirahat. Ngapain ikutan mikir? Lo capek mikir tuh cowok juga dia nggak bakal mikirin lo... udah ah, sekarang gue yang capek. Mau ke bueno dulu.”


Kalau aja semua orang bisa lihat isi hati lo dan tau lo bisa setulus ini, mereka pasti bakal antri buat jadi pacar lo. Sayangnya, lo nggak pernah nunjukin itu buat mereka yang lebih milih liat lo dari luar doang.


Menanti sosok yang tak pernah menengok ke arahnya, bukan menjadi masalah bagi Kiera selama ia juga tak menganggapnya sebagai masalah. Ibarat secangkir kopi yang pahit sekalipun, pasti ada hal baik di dalamnya yang mampu menenangkan setiap penikmatnya. Itu yang  sering ia ucapkan pada Ghea.


                                                                                            ● ● ●


Suasana minimalis yang didapat dari dinding dan lantai kayu de Bueno Coffee  menyambut hangat kedatangan Ghea dan Kiera. Sudah sejak lama, de Bueno Coffee ini menjadi pilihan lain mereka berdua untuk menghabiskan waktu selain ke danau. Mereka juga tidak pernah absen untuk sekedar memesan secangkir vanilla latte favorit Ghea dan secangkir chococinno dengan tambahan gula sesendok teh favorit Kiera di kedai ini.


Selagi menikmati menu kesukaannya, Ghea dengan santai mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kedai itu. Memandang satu per satu pengunjung yang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Hingga tak lama setelah itu Ghea menghentikan pandangannya pada salah satu sudut ruangan, seakan ada sesuatu yang cukup menarik perhatiannya di sana.


Hal itu membuat Kiera turut menghentikan kesibukannya dan mencoba melihat ke arah pandangan Ghea, sampai pada akhirnya dia mulai mengerti. Tampak cowok tampan dengan wajah setengah bule seusia mahasiswa yang menggunakan kacamata sedang duduk di sana. Cowok itu sepertinya sedang membuat sesuatu di atas sebuah buku sketsanya, yap menggambar tepatnya. Tapi entah apa yang digambarnya pada buku itu. Hanya itu kesan pertama ketika melihat cowok blasteran tersebut.


Tiba-tiba Ghea memanggil Ko Andi si pemilik kedai yang kebetulan keturunan tiong hoa, sehingga para pelanggan setia de Bueno Coffee memanggilnya dengan sebutan Koko atau Ko Andi. Ko Andi ini selalu berusaha menghafal nama-nama pelanggan setia kedainya, tak terkecuali Ghea dan Kiera.


Ko Andi yang sedang membuat secangkir minuman untuk pengunjungnya itu pun terpaksa berhenti setelah mendengar panggilan Ghea dari balik meja yang biasa digunakannya untuk menyajikan menu para pelanggan de Bueno Coffee. Meskipun Ko Andi ini mempunyai banyak karyawan, tapi untuk masalah menu andalan kedainya itu Ko Andi selalu meraciknya sendiri.


“Ko, Koko tahu nggak nama cowok yang duduk di pojok itu? Dia pelanggan rutin Koko juga bukan?” Ko Andi mencoba mengarahkan pandangannya ke seluruh sudut kedainya, sampai akhirnya dia mengerti siapa orang yang dimaksud oleh Ghea itu.


“Yang setengah bule itu?” Ghea mengangguk cepat. “Ooh, itu namanya Arka, hobinya  gambar sama motret. Sudah lama dia sering datang kemari sendirian. Biasanya sama adik perempuannya.” Ko Andi tersenyum jahil sambil menebak-nebak apa yang akan dilakukan Ghea.


“Mau kenalan ya sama Arka?”


“Apaan sih Ko? Ada-ada aja deh...”


Setelah mendapat penjelasan singkat dari Ko Andi, Kiera melihat sahabatnya itu tengah tersenyum penuh kemenangan di hadapannya. Kiera tak habis pikir apa yang akan direncakan oleh sahabatnya itu. Ghea


seringkali bertingkah gila hanya demi mendapatkan apa yang dia mau.


Perasaan baru sekali ini ketemu tuh cowok, Ghea apaan sih ini? Aneh. Lagian juga dia ngapain sama cowok yang lebih tua kayak gitu?


Kebetulan memang si cowok yang setengah bule itu tampak lebih tua dua atau tiga tahun dari Kiera dan Ghea. Jadi tak mungkin rasanya bila Ghea ingin berkenalan dengan cowok itu kali  ini.


“Ghe, lo ngapain sih tanya-tanya tentang cowok itu ke Ko Andi? Kepo banget. Emang lo mau kenalan gitu sama dia?” Tanya Kiera bingung.


“Kok gue? Ya elo lah...” Ucap Ghea sambil berlalu meninggalkan Kiera.


Hah?!


“Ghe... Ghe... Lo apaan sih?! Nggak usah aneh-aneh deh... malu-maluin aja tau nggak?!”


“Udah deh, mending lo diem aja di sini. Gue jamin lo nggak akan nyesel.” Ucap Ghea sambil tersenyum bangga, berharap apa yang dilakukannya itu bisa mengubah hidup sahabatnya yang satu itu.


“Percaya sama Ghea...” Lanjutnya.


Kiera pun hanya bisa mendengus kesal, Ghea lebih gila untuk kesempatan kali ini.


Ehemm... Ehemm... 


“Maaf, boleh gue duduk di sini?”


Cowok itu seketika menengok sebentar ke arah Ghea dan kembali fokus dengan buku sketsanya, “Hmmm...”


Ghea reflek langsung memicingkan kedua matanya setelah mendapat respon dari cowok blasteran itu.


Kalau bukan karena Kiera, nggak akan gue ngomong sama nih orang...


“Mmmm... kenalin gue Ghea, elo?” Ucapnya sambil mulai merebahkan diri di tempat duduknya.


Cowok itu menatap Ghea sekilas kemudian meletakkan buku sketsa dan melepas kacamatanya. Keduanya sempat terdiam beberapa saat dan hal itu membuat Ghea bisa lebih lama menikmati setiap detail wajah cowok yang duduk di hadapannya itu.


Eh, ganteng juga nih cowok ternyata kalau lagi nggak pakek kacamata...


Ghea pun tersadar dari lamunannya ketika cowok itu mengulurkan tangan padanya, “Arka.”


Ghea hanya mengangguk sembari menelan ludah, menata ekspresi muka dan mencoba agar tidak terlihat seperti sedang kesal. Karena sebenarnya, Ghea paling males kalau harus ngobrol sama model cowok kayak Arka ini, tapi demi Kiera dia bakal coba buat melawan semua rasa ketidak sukaannya itu.


“Eumm... gue mau minta tolong nih sama lo, boleh?” Arka hanya mengangkat sebelah alisnya.


“Plissss...” Lanjut Ghea sembari memasang ekspresi melasnya yang penuh harapan pada Arka.


Arka sejenak menghela napas panjang sambil mengusap-usap bagian belakang lehernya, “Harus gue gitu yang nolong?” Ghea menganggukkan kepalanya.


“Tapi kayaknya gue nggak pernah liat lo deh sebelumnya.”


“I-iya sih emang, tapi gue bener-bener butuh bantuan lo banget nih...”


Arka memutar kedua bola matanya seolah merasa sedikit terusik dengan kehadiran Ghea di hadapannya, “What?” Memang hanya sepatah kata, tapi itu sedikit membuat Ghea merasa lega.


“Lo lihat cewek yang duduk di sebelah sana kan?” Ghea melirikkan matanya ke arah Kiera.


“Yang lagi bawa kamera itu?” Arka benar-benar dibuat bingung dengan arah pembicaraan cewek asing di hadapannya itu.


“Namanya Kiera, dia temen gue.”


Lagi-lagi Arka reflek mengangkat sebelah alisnya, “So?”


“Dia pengen kenalan sama lo, tapi dia malu gitu... bisa nggak kalau gue minta tolong sama lo buat ngajak dia kenalan duluan?” Lanjut Ghea.


Singkat. Padat. Jelas.


“Serius lo mau minta tolong buat itu?” Arka tak habis pikir dengan tingkah gadis yang baru saja mengajaknya berkenalan itu. Ghea hanya manggut-manggut dan masih memasang wajahnya yang penuh harapan. “Aneh.”


Arka tak kunjung memberi jawaban pada Ghea, ia justru kembali mengambil buku sketsanya untuk melanjutkan gambarannya. Tapi sebelum sempat ia meraih pensilnya, Ghea malah menarik lembut buku sketsa itu dan kembali meletakkannya di atas meja seperti semula. Menatap mata laki-laki itu dalam-dalam, memaksanya secara tidak langsung untuk menuruti keinginan yang dia punya.


“Pliiisssss”


“Kalau gue bantuin lo, bakal ada yang marah nggak?” Ghea tersenyum lebar mendengarnya dan berubah jadi


agak lebih agresif mungkin ketimbang saat pertama datang menghampiri Arka tadi, dengan girangnya Ghea memberitahukan status lajang ‘abadi’ sahabatnya itu ke Arka.


“Tenang aja, dia jomblo kok... jomblo abadi 16 tahun...” Ghea mencoba mencairkan suasana, tapi malah justru terkesan aneh di mata Arka.


“Udah ya, gue nitip temen gue... kalau gitu gue cabut duluan... ada janji sama cowok gue. Bai...” Ghea pun beranjak dari tempat duduknya sambil menepuk bahu Arka, kemudian pergi begitu saja tanpa menunggu respon Arka sedikitpun.