
Arka membuka pintu utama rumahnya, di hadapannya sudah ada gadis cantik yang terduduk di atas kursi roda. Dia baru sadar bahwa telah berjanji pada adik perempuannya itu untuk pulang lebih cepat siang ini. Dilihatnya wajah sang adik yang sedang menatap jauh ke dalam matanya dengan segudang tanya dan amarah.
“Dek, maaf ya kakak pulang telat... tadi kakak ada perlu sebentar...” Diusapnya lembut kepala Arinda dan ia mulai memutar kursi roda adiknya untuk membawanya kembali masuk ke dalam rumah.
“Kamu marah ya sama kakak? Maafin kakak ya, Sayang...” Arinda masih diam bahkan sampai Arka menghentikan kursi roda adiknya itu di dalam ruang keluarga. Ini bukan sesuatu yang biasa Arka terima dari Arinda.
Kemudian, Arka pun mencoba melangkah maju dan berlutut di depan adiknya sambil menyamakan tinggi badannya dengan Arinda yang tentunya masih terduduk di atas kursi roda. Tapi hal itu tak membuat Arinda berkutik sedikitpun, ia justru sempat memalingkan wajahnya sejenak dari Arka.
“Arin... jangan diem gini dong... kakak minta maaf yaa... kakak janji, kakak nggak bakal telat lagi kayak tadi...”
“Kakak habis nge-date?” Arinda langsung menembak Arka dengan sebuah pertanyaan yang menjurus tepat pada sasarannya.
Eh?!
“Ng-nggak kok... kakak cuma habis dari Bueno aja.” Arka mencoba membuat garis senyum yang jelas-jelas terlihat palsu di mata Arinda.
Arinda hanya tersenyum miring pada Arka, “Kakak mau bohongin aku?”
“Kak, aku itu paling deket sama kakak. Aku inget banget, kalau kakak itu selalu nepatin janji kakak ke aku, jauh sebelum kakak masuk SMA. Sebelum kakak tahu cara ngungkapin perasaan kakak ke cewek yang kakak suka.” Nada bicaranya dingin sambil menatap tajam kedua mata kakaknya dengan matanya yang tengah berkaca-kaca karena berusaha sebisa mungkin menahan amarahnya.
“Apa akan kayak gitu, Kak? Kalau kakak udah gede, kakak punya pacar, dan kakak bakal lupa sama aku?” Arka hanya bisa diam mendengar celotehan adiknya itu, tak ingin memperburuk suasana hati Arinda dengan memotong perkataannya. Matanya menatap ke arah pangkuan Arinda dan tetap tanpa suara.
Berbulan-bulan sudah Arka dirundung rasa bersalah yang teramat sangat, tak mengerti harus berbuat apa untuk menebus kesalahan terbesarnya itu pada Arinda. Ia cukup merasa gagal menjadi kakak sekaligus
pelindung untuk Arinda dan tak ingin menambah kesalahannya dengan memotong perkataan adiknya itu hanya untuk membela diri.
Karena yang ia sadari, ribuan kata maaf pun tak akan bisa membuat Arinda kembali seperti sebelumnya. Ungkapan maafnya hanya ia wujudkan dalam diamnya, mendengarkan apa yang menjadi beban Arinda atas sikapnya, dan terus memperbaiki semua kesalahannya. Meskipun yang demikian itu tak akan pernah mampu membuat keadaan menjadi lebih baik.
“Kenapa kakak diem? Bener kan tebakan aku?” Arka masih terdiam memandang kedua mata adiknya itu.
Ini salah lo, Ka... lo nggak pantes ngebela diri lo di depan dia. Kesalahan lo kelewat besar untuk dimaafin secepat ini.
Semua ucapan Arinda membuat Arka kembali mengingat kejadian malam itu yang sudah membuat adiknya menjadi seperti ini. Ini semua salahnya, itu pikirnya. Dan bukan salah adiknya bila berbicara seperti itu
padanya.
“Kak, waktu itu aku kecelakaan sampai lumpuh kayak gini gara-gara pacar kakak. Gara-gara kakak lagi berdua sama Kak Tiara, kakak ngebatalin janji sama aku untuk yang pertama kalinya. Dia yang bikin kakak lupa sama aku. Dia yang bikin kakak ninggalin aku di rumah sendirian malam itu. Dan barusan tadi kakak udah jalan lagi sama cewek? Pacar kakak yang baru? Apa kakak udah nggak sayang lagi sama aku? Iya, Kak? Kakak capek ngurusin aku? Kakak...”
“Stop Arinda! Stop!” Bentak Arka, ia benar-benar tak sengaja melakukan semua itu pada Arinda. Segara ia berdiri dan membalikkan tubuhnya sejenak dari hadapan Arinda. Menggosok-gosok kasar kepalanya, kehabisan cara untuk menyalurkan seluruh perasaannya saat ini.
Namun, sedetik kemudian Arka kembali menatap wajah polos adiknya yang tengah bungkam karena bentakan yang keluar dari mulutnya tadi. Paras cantik gadis itu pucat pasi, kedua matanya pun tampak berusaha keras menahan air matanya.
“Kakak tahu kakak salah, kakak minta maaf. Tapi kakak mohon, jangan bikin kakak gila dengan mengingat semua kesalahan kakak sama kamu.” Arinda mendongak menatap Arka yang tampak berantakan. Dilihatnya dada kakaknya yang bergerak cepat naik turun tak beraturan. Arinda tahu kakaknya sedang bersusah payah menahan seluruh emosinya, dan ini semua karena ulahnya.
“Kakak cukup tahu diri untuk nggak mengulang kesalahan kakak yang kemarin. Kakak juga mau belajar menebus semuanya ke kamu. Kakak memang salah, sangat sangat bersalah. Tapi tolong jangan bikin kakak semakin merasa salah kayak gini, Dek.” Nada bicara Arka yang tinggi masih terjaga meski perlahan-lahan mulai menurun.
Arinda mengalihkan matanya dari pandangan Arka, air matanya mulai jatuh satu per satu bersamaan dengan Arka yang baru saja mengakhiri ucapannya. “Arin minta maaf, Kak.” Bisiknya.
Runtuh sudah segala emosi Arka yang sedari tadi sudah terbangun di dalam hatinya. Arka yang penuh dengan emosi kini kembali menjadi Arka yang terselimuti setumpuk rasa bersalah pada adiknya sendiri. Satu kalimat
dari bibir Arinda seketika menyadarkannya yang seharusnya tak berlaku kasar seperti tadi.
Arka kembali berjongkok menatap dengan jelas wajah yang tengah basah itu dari bawah. Hatinya tersayat melihat air mata yang mengalir tanpa henti diatas kedua pipi Arinda yang memerah. Kedua tangannya
menangkup wajah Arinda sembari berucap, “Jangan minta maaf. Ini kakak yang salah.”
Kedua ibu jarinya bergerak menyeka air mata yang turun terus menerus di kedua pipi Arinda, “Kakak minta maaf yaa...”
Dikecupnya kening Arinda sebagai permintaan maaf untuk sikapnya yang sudah keterlaluan tadi, “Kakak nggak sengaja udah bentak kamu tadi.”
Arka menghela napas panjang, matanya tampak jelas tengah berkaca-kaca. Tapi sekuat tenaga ia tahan agar tak ada setetes pun yang jatuh di depan adiknya itu. Diraihnya kedua tangan Arinda, kemudian menaruhnya di dalam genggam kedua tangannya.
“Jujur... kakak emang baru aja ketemu sama cewek tadi di Bueno, tapi kakak nggak nge-date sama dia... dia juga bukan pacar kakak, dia cuma temannya teman kakak... kita baru ketemu dan kenalan hari ini. Terus kakak cuma ngobrol sebentar sama dia... dan udah, habis itu kakak pulang. Kakak minta maaf ya udah bikin kamu nunggu lama...” Arka tersenyum sejenak setelah memberi penjelasan panjang pada adiknya itu, sekedar
meyakinkan Arinda bahwa kakaknya itu tak benar-benar bermaksud untuk memarahinya.
“Kakak janji nggak akan ngulang lagi semua yang bikin kamu marah sama kakak.” Diusapnya lembut ujung kepala Arinda, menatap jauh ke dalam kedua mata adiknya itu.
Arka beranjak berdiri dan bergegas menuju kamarnya, namun langkahnya terhenti ketika Arinda memanggil namanya, “Kak Arka...”
Arka pun membalikkan tubuhnya kembali menghadap pada Arinda sembari mengangkat kedua alis matanya, “Aku minta maaf sama kakak. Aku mau kakak bebasin diri kakak lagi. Jadi Kak Arka yang dulu dan aku nggak akan lagi larang kakak untuk ini itu, Kak.”
Arka berjalan kembali mendekati Arinda, meraih tubuh gadis itu merapat dalam pelukannya, “Kakak buat kamu, tetep kakak yang dulu kok...”
Sedang Arinda pun turut melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Arka, terasa jelas otot punggung lelaki itu yang menegang kala memeluk dirinya, “Memendam emosi tanpa mencoba meluapkannya itu nggak akan bikin kakak merasa lebih baik, Kak...”
Arka tersenyum sambil melepas perlahan pelukannya, meraba lembut sebagian sisi wajah adiknya hingga gadis itu menatap tepat pada kedua matanya, “Biar itu jadi urusan kakak. Tugas kamu cuma memaafkan semua kesalahan kakak.”
“Kak, aku serius.” Ucapnya sambil sedikit menahan kakaknya yang hendak pergi itu.
“Kakak juga.” Arka meninggalkan sebuah kecupan untuk Arinda sebelum ia benar-benar pergi menuju kamar tidurnya.
● ● ●
Arka yang baru akan menuju ke kamarnya di lantai dua langsung menghentikan langkah ketika mendengar suara mamanya yang memanggil. Ia memutar balik tubuhnya untuk kembali turun menghampiri sang mama yang sedang duduk di ruang keluarga.
“Mama mau bicara soal Arin.” Mama Arka mencoba memberanikan diri untuk membahas hal ini dengan Arka, tepat sepulangnya Arka dari de Bueno Coffee. Karena hanya pada saat itu Arka dapat dipastikan sedang dalam suasana hati yang baik.
“Oh. Arin kenapa, Ma?”
“Bukan Arin-nya, tapi kakaknya... sudah enam bulan kecelakaan yang menimpa Arin berlalu dan mama rasa sudah enam bulan juga kamu nggak pernah bawa teman-teman kamu lagi ke rumah. Kamu juga nggak pernah bawa pacar baru kamu ke rumah, ketemu sama mama...”
Arka hanya diam mendengarkan ucapan mamanya sambil meletakkan kacamatanya di atas meja dan mulai berbaring di pangkuan mamanya.
“Mama kenal siapa kamu, mama tahu kamu. Bukan Arka kalau tiba-tiba menutup diri, bukan anak mama kalau nggak pernah cerita apa-apa sama mama. Kamu kenapa Arka? Cerita sama mama, Sayang...” Ucap mama sambil mengusap-usap lembut kepala putranya itu.
Kebetulan hari ini rumah sedang sepi, Arinda tidur, Bang Rizal ada acara sama klub bikers-nya, Ardi juga masih di luar sama teman-teman sekolahnya. Biasanya kalau Afrizal sama Ardi ada di rumah, Arka selalu
menepis pelan tangan mamanya itu, juga tidak bermanja dengan tidur di pangkuan mamanya seperti saat ini, namun pengecualian untuk kali ini.
Arka menatap lembut kedua mata mamanya yang juga sedang menatap ke arahnya. “Nggak kenapa-napa kok Ma, nggak ada masalah apa-apa. Aku juga belum pacaran lagi sejak putus sama Tiara waktu itu. Lagian enam bulan itu bukan waktu yang lama kan, Ma?”
“Tapi kenapa kamu jadi beda? Apa ini semua karena kamu malu kalau teman-teman kamu tahu kondisi Arin sekarang? Makanya kamu nggak pernah bawa mereka lagi ke sini...” Mama Arka mulai bicara pada poin pembicaraan mereka yang sesungguhnya.
Mendengar ucapan mamanya itu, Arka sontak langsung mengangkat kepala dari pangkuan mamanya dan mulai membenarkan posisi duduknya. Ditatapnya kedua mata mamanya itu dalam-dalam. Bukan untuk marah, tapi agar mamanya tahu apa yang sedang terjadi di dalam dirinya saat ini.
“Ma, aku putus sama Tiara itu karena aku sadar atas kesalahanku. Aku milih buat sendiri sekarang, itu juga karena aku lebih nyaman kayak gini, dan soal teman-teman aku, nggak ada masalah apa-apa sama mereka. Aku cuma pengen lebih fokus sama Arin.”
“Mama juga pasti tahu diantara ketiga anak laki-laki mama, cuma aku yang paling deket sama Arin, cuma sama aku Arin mau bangkit dari keadaannya yang sekarang. Jadi aku nggak mungkin kan Ma bisa ninggalin dia dan pergi sama temen-temenku?”
Mama mulai mengusap lembut pipi Arka, mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya menjadi keinginan Arinda. “Kamu nggak pernah ninggalin Arin sayang. Dengan sesekali kamu pergi sama teman-temanmu itu nggak akan buat Arin marah atau benci sama kamu. Percaya sama mama... Arin cuma terlalu sayang sama kamu, sampai dia segitu takutnya kamu pergi.”
“Ma, aku bener-bener minta maaf untuk kejadian malam itu. Aku sadar, kecelakan itu terjadi karena kesalahanku. Aku yang terlalu mengesampingkan Arinda sampai akhirnya semua jadi kayak gini. Tapi aku janji sama mama, aku nggak akan ngulangin hal itu lagi. Aku janji, Ma...”Arka mencium kedua tangan mamanya dengan rasa bersalah yang teramat sangat.
“Arka, Tuhan menulis takdirNya untuk kita terima bukan untuk membuat kita menyesal. Mama nggak pernah marah sama kamu tentang kecelakaan adikmu itu. Mama juga udah coba bilang sama Arin untuk sedikit
memberi kebebasan buat kamu.” Mama mengusap-usap punggung tangan Arka pelan.
Arka hanya menggeleng, “Ma, ini soal kesalahanku. Aku nggak bisa lepas tangan gitu aja sama Arinda. Seharusnya mama nggak perlu ngomong gitu sama Arin, itu hak dia Ma...”
“Kamu sudah sangat bertanggung jawab atas semuanya, Arka. Mama cuma kangen sama Arka yang enam bulan lalu, sama Arka yang berisik di halaman belakang sama temen-temennya. Mama kangen sama semuanya yang dulu Arka selalu lakuin...”
Tanpa disadari air mata mama mulai membasahi wajahnya, dan seketika itu Arka langsung mendekap sang mama dalam pelukannya, “Ma...”
“Arka buat mama tetep Arka yang sama, Ma...”
Tersenyum mendengar pembicaraan kedua buah hatinya, membuat Mama Arka teringat pembicaraannya bersama putra keduanya beberapa waktu yang lalu. Tertanam tajam dalam ingatannya bagaimana kalimat terakhir Arka kala itu, kalimat yang membuat beliau yakin bahwa Arka akan selalu ada untuk keluarganya,
terlebih untuk mama dan adik perempuannya meski banyak hal telah menimpa dan menguras habis emosinya.
“Mah...” Arinda menyadari kehadiran mamanya ketika wanita paruh baya itu tengah memegang kedua bahunya dari belakang.
“Iya, Sayang?”
“Kayaknya aku emang udah jahat banget ya Ma sama kakak? Baru tadi aku ngeliat ekspresi Kak Arka bisa semarah itu sama aku.” Arinda menengokkan kepalanya ke arah mamanya.
“Bukan marah, tapi sayang.” Bisik sang mama sembari mendekatkan wajahnya pada telinga kanan Arinda.
“Tapi kakak nggak pernah semarah itu Ma sebelumnya... pasti Kak Arka udah ngerasa capek banget ya Ma sama aku yang terus-terusan bikin dia tertekan kayak gini?” Mama hanya diam sambil mengusap lembut kepala Arinda.
“Tertekan? Setahu mama, kakak kamu itu bukan orang yang mudah nurut kalau apa yang kita minta nggak sejalan sama kemauannya. Tapi kamu tahu sendiri kan sejak enam bulan yang lalu Arinda ada di atas sini, siapa yang selalu ada buat Arin? Siapa yang jagain Arin? Siapa yang suapin Arin waktu Arin lagi nggak mau makan?”
“Kak Arka, Ma. Dan cuma Kak Arka.” Ucapnya pelan seraya memamerkan senyum tipisnya.
“Dan itu semua karena dia sayang, karena dia memang mau. Bukan karena dia merasa tertekan
ataupun alasan yang lainnya.”
“Tapi Ma, ini emang aku nya juga yang salah. Gara-gara aku, kakak jadi nggak pernah main sama teman-teman sekolahnya lagi, gara-gara aku juga kakak jadi putus sama Kak Tiara...” Arinda menatap kedua mata mamanya
dengan begitu dalam dan dengan perasaan penuh rasa bersalah.
“Padahal sebenernya aku masih punya Bang Rizal, aku juga masih punya Mas Ardi, tapi sejak kecelakaan itu aku malah cuma bisa ngerepotin Kak Arka aja.” Lanjutnya.
Mama pun tersenyum mendengar ucapan anak bungsunya itu, “Inget nggak tadi sebelum ke kamar, kakak kamu bilang apa?”
Arinda mengangguk menjawab pertanyaan mamanya, “Biar itu jadi urusan kakak. Tugas kamu cuma memaafkan semua kesalahan kakak.” Kalimat itu masih tertancap jelas dalam ingatannya.
“Mama pun juga akan bilang itu ke kamu. Ikuti apa yang kakak kamu minta. Dia hanya merasa terlalu bersalah sama adiknya ini, sampai bingung harus berbuat apa lagi.” Mama mencolet ujung hidung Arinda dengan jari
telunjuknya.
“Mamaaaahh jangan ngomong gitu dong, aku jadi ngerasa bersalah banget sama kakak...” Dengan nada bicaranya yang terdengar cukup manja, Arinda pun memeluk mamanya erat.
“Maafin Arin ya, Ma...”
“Maafin kakak juga ya?” Arinda menggangguk pelan dalam dekapan mamanya.