
Udara sejuk dari danau berhembus menyapa kedatangan Kiera bersama teman lamanya yang datang dengan mengendarai sepeda, Ghea namanya. Sudah menjadi kebiasaan mereka, menyandarkan sepedanya ke salah satu batang pohon besar yang ada di sana.
Danau, memang menjadi salah satu tujuan mereka untuk menghabiskan waktu bersama dikala senggang. Dan duduk di tepi danau sambil menikmati keindahan pemandangan di sana adalah hal
yang mereka suka.
Sembari menikmati semilir angin di tepi danau, Kiera menyempatkan untuk mengabadikan setiap momen dan pemandangan di sekitar danau dalam kamera kesayangannya. Meskipun ini bukan kali pertama maupun kali kedua mereka mengunjungi danau itu, tapi selalu saja ada hal baru yang mengharuskan Kiera untuk mengabadikannya.
Dan seperti biasa, kalau sudah berduaan dengan kameranya seperti ini Kiera selalu lupa diri. Tak jarang dia menjadikan Ghea sebagai manekin berjalannya yang hanya didiamkan begitu saja sambil menunggu dirinya
yang tengah sibuk dengan hobinya itu. Mungkin untuk 10 sampai 15 menit pertama Ghea mampu bertahan dengan kesunyian yang tanpa sadar diciptakan oleh sahabatnya itu, tapi dapat dipastikan ia akan menyuarakan ketidak nyamanannya itu pada menit kesebelas atau menit keenambelas.
“Kie...” Suara Ghea pun akhirnya memecah keheningan yang ada diantara dirinya dan Kiera.
“Hmm?”
“Lo pernah nggak sih kepikiran buat ngajak orang lain buat ngabisin waktu berdua di sini?”
“Maksud lo?” Kiera balik bertanya tanpa berpaling sedikitpun dari kameranya.
Ghea menyibakkan rambutnya yang sedari tadi tertiup angin sambil berjalan mendekat ke arah Kiera, “Ya maksud gue, lo apa nggak pengen gitu ngajak siapa kek ke sini selain gue?”
“Andra?”
“Ya kali Kie, Andra... maksud gue temen cowok lo mungkin...” Ghea sedikit ragu untuk kembali menanyakan hal ini pada sahabatnya itu.
“Sering kok, Vino, Dimas, Sora, Deka, sama yang lain-lain juga pernah...”
“Bukan temen yang itu, maksud gue temen cowok spesial lo...” Lanjut Ghea yang setengah ragu dengan ucapannya.
Kiera hanya melengos sambil mencari sudut lain di sekitar danau untuk melanjutkan sesi fotonya, “Lo mau bahas ginian lagi? Status gue masih belum berubah Ghea, gue tuh masih jomblo... gimana bisa mau ajak temen cowok spesial gue ke sini?”
“Ya justru itu Kie, lo mau sampai kapan sih ngejomblo kayak gini? Apa lo nggak bosen gitu kemana-mana sama gue? Malah kadang lo pergi sendirian...”
Ghea menundukkan kepalanya, takut bila ada salah bicara pada sahabatnya itu. Tapi pertanyaan yang baru saja terlontar itu bukan tanpa alasan, Ghea punya kekhawatiran yang cukup untuk dijadikan alasan. Ia sudah memiliki pacar, Dimas namanya. Teman akrab Kiera yang juga sudah saling kenal sejak duduk di bangku SMP. Ghea hanya merasa tidak enak hati ketika harus membiarkan Kiera pergi seorang diri ketika ia sedang berdua dengan Dimas. Meskipun hal yang demikian itu tak dijadikan masalah oleh Kiera selama ini.
Kenapa sih soal cowok aja selalu dijadiin masalah?
Kiera mengalihkan pandangannya dari kamera yang ada pada genggamannya, menatap Ghea yang tampak ingin menarik kembali pertanyaannya begitu mendapati respon yang cukup dingin dari sahabatnya itu.
“Lo nggak bosen nanyain hal yang sama ke orang yang sama juga? Jawabannya pasti sama Ghe dan belum akan berubah. Gue jomblo bukan berarti bokap nyokap gue ngelarang gue buat pacaran, tapi karena gue emang nyaman sendiri kayak gini. Gue cuma nggak mau kehilangan waktu sama temen-temen gue, termasuk sama lo juga... sekarang gini deh, apa sih pentingnya pacaran? Kalau cuma buat status doang, apa bedanya sama anak SMP? Kita sekarang udah SMA, Ghe. Udah saatnya berpikir lebih dewasa. Tapi ya bukan berarti gue ngelarang ataupun nggak suka kalau harus ngelihat lo pacaran.Itu pilihan masing-masing orang juga sih.”
“Dan gue berhak milih buat tetap sendiri.” Lanjutnya. Jawaban Kiera kali ini memang beda dari biasanya, tapi tetap saja pada intinya dia tidak mau merubah pemikirannya.Entah memang begitu adanya atau karena ada alasan lain, Ghea tidak tahu persis.
“Ghe, gue nggak pernah kan permasalahin soal kita jalan bertiga? Gue juga nggak ngerasa terganggu kok, lo nggak usah khawatir... atau kalau perlu gue bisa kok pergi sendiri dan kalian tetep jalan berdua, kalau
emang kehadiran gue nge-ganggu kalian.” Kiera menatap tajam ke dalam mata Ghea kemudian melangkah pergi.
Kiera tak pernah bisa marah kepada sahabatnya itu, rasa kesal yang ada dalam hatinya seringkali membuatnya sekedar memilih menghindar daripada harus meluapkannya.
Ghea pun menyusul di belakang Kiera sambil mencoba meraih sebelah lengan Kiera, “Bukan gitu Kie maksud gue...”
Kiera masih terus melanjutkan langkah kakinya sembari satu lengannya yang mulai digandeng atau lebih tepatnya ditahan oleh Ghea agar ia segera berhenti. “Gue minta maaf Kie, kalau udah bikin lo badmood gini... gue cuma pengen liat lo seneng, dengan punya seseorang yang peduli sama lo, yang bisa jagain lo, yang bisa nemenin lo lebih sering dari gue...”
Kiera menghentikan langkahnya setelah merasa cukup lelah dengan topik pembicaraannya dengan Ghea yang mungkin sudah terulang untuk kesekian kalinya ini. “Oke, sekarang gini deh... gue tanya sama lo, emang ada cowok yang naksir sama model cewek kayak gue gini? Hmm? Ada? Emang ada yang mau peduli sama gue?”
“Bukan nggak ada Kie, tapi elo yang buta... asal lo mau buka hati, lo tinggal milih mana yang mau lo jadiin pacar...” Ghea mengangkat dagu Kiera sejenak sehingga sahabatnya itu dapat menangkap sorot kedua matanya dengan baik.
Kiera menarik wajahnya dari tangan Ghea, kembali melengos seolah ingin menampik ucapan sahabatnya barusan. “Lo kata nyari pacar sama kayak milih jajanan? Asal comot kalau nggak enak dibuang...” Kali ini
mood Kiera benar-benar rusak cuma gara-gara pertanyaan Ghea yang tadi. Ia pun malah pergi meninggalkan Ghea yang masih menanti lanjutan kalimatnya itu.
“Tapi bener kan apa yang barusan gue bilang?” Ghea mencoba mengimbangi langkah Kiera yang berusaha
untuk berjalan sedikit lebih depan darinya.
Sejenak Kiera kembali menghentikan langkahnya dengan wajah yang lurus ke depan dan hanya kedua matanya yang bergerak melirik ke arah Ghea yang kembali mencercanya dengan segala hal yang ada di dalam kepalanya. “Pernah nggak terlintas di benak lo kalau temen-temen cowok lo itu mungkin aja punya
rasa yang beda buat lo?”
Kiera yang mulai mengerti arah pembicaraan sahabatnya itu langsung memotong begitu saja ucapan Ghea, “Gue nggak mungkin ngerusak pertemanan gue dengan nerima permintaan mereka buat jadi pacar gue.”
“Emang stok laki-laki di dunia ini udah habis apa? Sampai-sampai gue harus ngeladenin temen gue sendiri...” Lanjut Kiera.
“Emang kalau bukan temen lo sendiri, siapa lagi? Emang lo udah ada orangnya sekarang? Hmm?” Ghea sedikit mengangkat dagunya di hadapan Kiera, berlagak ingin menantang.
Sebenarnya ia tahu bahwa sahabatnya yang satu itu tidak sedang dekat dengan cowok manapun. Walaupun
memang sebenarnya ada satu cowok yang Kiera suka sejak lama, tapi Ghea tetap masih penasaran dengan jawaban yang akan dilontarkan oleh Kiera kali ini. Bukan tidak mungkin kalau Kiera sudah merasa lelah untuk terus bertahan dengan perasaannya yang lama itu.
“U-udah...” Jawab Kiera dengan sedikit terbata-bata.
“Siapa? Vino? Emang lo yakin kalau dia juga suka sama lo? Terus apa Vino juga bukan temen lo?”
Kiera terhentak dengan perkataan Ghea, membuatnya kembali menanyakan hal yang sama pada dirinya sendiri.