CEO, I hate you

CEO, I hate you
4



Akhirnya temanku siap belanja, aku yg menghampiri mereka dan kami pulang.


Loli" kamu kenapa Ra? Dari tadi kok kesal dan galau gitu?".


Loli ternyata memperhatikan aku.


" Tadi ada iblis bawa orang sinting, mereka berbicara padaku. Gak nyambung dan buat aku sial aja....!".


Aku kesal setengah mati,


Sari" cinta dan benci itu BETI loh Ra? Kamu hati-hati aja syg ku?".


Sari mencolek hidungku.


Aku hanya tersungging dan galau, sampai dirumah aku lega dan segera istirahat karena lelah dan capek hati.


Tok....???


Tok......!!!! 💢


Pintu kamarku diketuk,


" Masuk saja....!!! Tidak dikunci kok??".


Kataku setengah berteriak.


Bella masuk dan terus berbaring di sampingku tanpa basa basi.


" Kak, aku mau bicara loh?".


Katanya sambil sedih menatapku.


" Ada apa sih? Jangan menakuti ku?".


Aku seketika duduk dan memeluk adikku yg terkulai lemas.


" Coba kakak baca, aku sudah tahu!!!".


Sambil memberikan amplop kuning, sepertinya hasil CT Scan dan surat penting lainnya lagi.


Aku membaca dan membuka nya, seketika air mengalir dari ujung daun. Dari pangkal nya sampai keujung nya, deras mengalir tanpa henti.


Hiks.....hiks.....!!!! Bella sengkukan,


" Tenanglah syg, badai pasti berlalu!".


Kataku padanya sambil mencium pipinya dengan lembut agar sakit hatinya hilang.


Meskipun demikian kulihat air matanya mengalir dan bibirnya masih tertutup rapat, diam dan menatapku sayu.


Begitu juga aku, diam dan hanya menatapnya dengan penuh cinta. Ya, dia dan aku terluka dan sedih.


" Kak, papa gak akan pergi ninggalin kita kan? Karena aku takut kak.....!!!?".


Bella menghapus air matanya dengan tangan dan kembali sengkukan.


" Kembalilah ke kamarmu, istirahatlah. Jangan sampai Raya dan Fajar tahu. Kita cukup kuat mengetahui ini, tapi belum tentu mereka kuat seperti kita. Oke?".


Aku kembali mencium pipi dan keningnya untuk mengurangi sedihnya.


Bella pergi kembali ke kamarnya, dan aku mengunci rapat kamarku.


Tangisku pecah dan hatiku hancur. Papa yg kusayangi ternyata sedang menahan sakit, sementara kami tidak tahu.


" Maaf papa, pantas saja belakangan ini papa terlihat lelah dan pucat. Ternyata papa sakit, maaf papa. Tuhan tolong sembuhkan papa, jangan ambil dia secepat itu. Aku percaya akan mukjizatmu, sembuhkan sakit papa. Aku harus cari jalan untuk perobatan papa!!".


Tangisku pecah dan sengkukan.


Ting...tong.....!!!! 📲


Hp ku berbunyi, kulirik nomer baru.


Dan segera kuangkat saja tanpa pikir panjang lagi, sangkin panik nya.


Aku: halo siapa?


Hiks....hiks....suara tangisku masih tersisa sedikit.


Reza: kamu kenapa? Aira....? Aira...??


Kudengar suaranya panik mendengar suaraku, akhirnya aku panik juga.


Aku: aku masih dengar, maaf. Aku lagi sedih nih. Ada perlu apa?


Aku bertanya lagi padanya...


Reza: saya tanya kamu kenapa? Sekarang juga kamu keluar, dan share lock. Dalam 10 menit aku akan datang.


Telponya terputus, tanpa sadar aku berjalan keluar menuju taman yg gak jauh dari rumahku. Aku berjalan kaki menyusuri jalan dimalam hari , dimana masih banyak orang lalu lalang.


Aku duduk diatas rumput sambil memegangi kertas yg seperti musibah itu bagiku. Aku terus menatapnya serius.


Ting....tong....!!! 📲


Hp ku bunyi dan kuangkat,


Reza: kamu dimana?


Aku: taman pinggir kota, aku share lock ya. Oh ya kamu siapa sih?


Aku masih tidak tahu siapa yg akan muncul setelah ini.


10 menit kemudian, si iblis kejam alias Reza CEO sinting itu muncul dengan piyama celana panjang yg mencolok.


" Hei Aira....?".


Tangan Reza menyentuh pundakku dan membuatku kaget melihatnya. Aku langsung buang muka dan gak tertarik padanya.


" Kamu seperti setan aja yg gentayangan dimanapun aku berada. Mana pake piyama bobo, bikin malu aja kamu!!".


Aku berkata dengan ketus melihatnya dengan sinis dan geleng kepala.


Reza duduk disebelahku dengan sigap,


" Saya panik mendengar suara tangisanmu, jadi gak sempat ganti baju. Saya juga baru sadar kalo gak sempat pake sendal juga....!!"


Sambil menunjuk kakinya yg telanjang.


" Bodohnya, kamu itu sudah diblokir pake nomor baru ya. Dasar iblis gentayangan, mana rekan iblis yg satunya? Bukankah kalian pasangan yg serasi ...hah?".


Aku menatap langit yg cerah dihiasi oleh bintang dan bulan yg terang.


" Oh, Han...dia dirumah nunggu!".


Katanya lembut sambil senyum.


Reza seketika melirik tanganku yg sedang memegang kertas tadi,


Sambil meninju lengannya yg kekar itu.


Reza membacanya dengan suara pelan,


" Gagal ginjal, cuci darah butuh dana besar. Apalagi harus sebulan sekali kerumah sakit untuk kontrol. Kemungkinan besar harus cangkok ginjal kelak, susah juga ya. Hem.....mm?".


Sambil menutup kertas itu dan memberikannya lagi padaku.


" Papaku sakit, aku harus apa?".


Kataku sedih menatap langit,


Seketika air mataku mengalir deras meski aku tak menangis. Terus mengalir bagaikan sungai di pegunungan.


Reza memelukku erat dan mencium pucuk kepalaku dengan lembut,


" Saya akan membantumu, percayalah. Kamu cukup melakukan satu hal aja!!".


Aku" maksud mu? Dasar iblis kamu?".


Aku mencoba lepas dari dekapan nya.


Reza" jadilah anak baik, patuhlah padaku. Semua kesulitanmu akan saya bantu!".


Perkataan Reza yg sederhana tapi aneh itu membuatku bingung saja.


Aku" lepaskan aku. Badanku hampir remuk karena kamu memelukku erat, dasar iblis jahat....sialan kamu!!".


Kataku jengkel padanya,


'sialan Aira....kamu masih berani mengutukku dengan kejam? Wanita aneh, sepertinya memang hanya Aira yg mampu melawanku. Rasanya aku akan mati saja, dasar anak nakal!!'.


Gumam Reza dalam hati kecil.


Aku" kamu mau aku melakukan apa? Asalkan tidak melanggar norma batas kewajaran dan moralitas akan aku patuhi kok, memang nya apa?".


Aku bertanya dengan wajah serius.


Reza" jangan menatapku seperti itu, nanti kamu menyesal loh?".


Katanya dengan malu,


Aku" iya katakan apa yg harus aku lakukan agar kamu bantu aku, apa?".


Aku menatapnya sambil sedih.


Reza meraih wajahku dan menatap mataku dengan tajam dan hangat,


" Jadilah kekasihku, itu saja cukup!".


Cuu....pp!!! 💋


Reza mencium keningku dan tersenyum.


Dia menarik tanganku, dan mengantarku pulang. Sepanjang perjalanan aku hanya diam saja tanpa menatapnya.


" Terimakasih, mau masuk dulu?".


Aku menawari dia sekedar saja.


" Tidak, aku langsung pulang saja. Mana mungkin bertandang kerumah orang pake piyama, ditertawai orang!".


Reza mencoba bercanda denganku.


"Iya makasih ya, hati2 dijalan!!".


Aku melambai kepadanya.


" Besok aku jeput dikampus, oke! Bye?".


Katanya dengan ramah, aku hanya tersenyum saja membalasnya.


Mobil Reza pergi berlalu begitu saja meninggalkan aku yg masih berdiri menatap bintang dilangit indah malam ini, sungguh langit yg cerah dan dingin.


Tak lama kemudian fajar menghampiriku dan membawaku masuk kedalam.


Ditempat tidur, aku masih teringat akan perkataan Reza yg bergema nyaring ditelinga ku saat kami bersama ditaman.


Wajah tampan dan berKharisma itu menatapku dan mencium kepalaku, hatiku begitu bergetar dan kagum. Sosok yg sudah lama kunantikan hadir dalam kehidupanku untuk mengisi waktu di bangku kuliahku. Karena selama ini aku sibuk membantu Mama ditoko, malam Minggu kecil malam Minggu besar dan malam wajib bagiku sama saja.


Hidupku datar saja, gak naik dan turun seperti roaler coaster yg ekstrim itu. Ya mau bagaimana lagi, Mama buka usaha kecil-kecilan ditoko sekedar bantu papa.


Gaji supir itu tidak seberapa, apa lagi papa sudah agak tua dan bentar lagi pensiun. Sekedar batu loncatan aja, toko kami kelak akan yg menghidupi kami.


Aku tertidur pulas karena lelah menangis sedari tadi, fajar juga sudah mulai curiga akan diriku yg diam dan cuek. Sesuai sifatku, yg ceria dan periang aku begitu menonjol dirumah. Wajar dia menyadari akan perubahanku, namun Bella hanya diam saja jika berpapasan denganku.


Dirumah besar keluarga Habsah,


Han" ya tuan muda, ada hal apa?".


Han bertanya dengan sopan.


" Tolong Han, berikan aku masukan. Aira, dia dalam masalah. Bagaimana caranya? Apakah aku terlalu tergesah gesah?".


Reza bertanya dengan jujur,


Han" tuan muda, itu terserah anda. Tergantung niat dan tujuan Anda bagaimana, yg penting hati?".


Han menunjuk kedada dengan telunjuk.


" Aku ingin mendekatinya dan mengenalnya lebih jauh, Han. Aku tak bisa menghilangkan dia dari otakku, setiap saat aku terbayang wajah nya yg tersenyum manis kepadaku, Han...?".


Reza menatap wajah Han setajam elang yg sedang menerkam mangsanya.


Han" baiklah tuan, saya akan urus! Semua kebutuhan nona Aira dan kesulitannya akan saya usahakan selesai sesuai dengan rencana dan kemauan anda tuan muda, percayalah kepadaku!".


Han menunduk dan terdiam.


Reza" Han, kau adalah Sabahat terbaikku setiap saat. Kau tahu bagaimana aku?".


Reza menuju kasur dan berbaring, tidak butuh waktu lama dia tertidur pulas.


Han pergi kembali ke kamarnya dan istirahat setelah hari yg panjang.


Han" tuan muda sedang jatuh cinta, beberapa hari belakangan ini dia begitu bahagia sekali kelihatannya. Aku harus bisa mendapatkan apapun yg diinginkan olehnya, meski dengan sedikit paksaan. Tak kusangka nona Aira berhati lembut itu menyentuh hati tuan muda dengan lembut dan ramah, begitu hangat sampai tuanku menjadi dilema besar. Hati nona Aira seperti malaikat saja, baik dan menyenangkan sekali. Semoga nona Aira bisa menjaga hati tuan muda kedepannya dan seterusnya, amin....!!".


Han berbaring dan segera tidur, karena jam 6 Han harus bangun dan menyiapkan segala kebutuhan Reza.


Reza itu keras kepala dan pembersih, dia tak mau sembarangan orang menyentuhnya apalagi perempuan.


Makanya dia terkenal dingin dan kejam, sampai sekarang tak ada seorang wanita pun yg berhasil menduduki hatinya. Tapi saat ini hanya Aira kandidat yg mencoba untuk duduk dihatinya.


Jangan lupa like n komen ya kak!!!