Boss And Me

Boss And Me
Chapter 8



Keesokan harinya Alice berangkat ke J. Corporation tanpa Laura karena ia belum cerita ke Laura maupun ke Rosalie tentang pekerjaan barunya ini


Setelah sampai Alice melangkahkan kakinya ke lift sesampainya di lift ia menekan tombol angka 25 dan itu membuat para karyawan yang ada di lift tersebut ke arahnya


“eh kenapa perempuan itu memencet lantai 25, emang perempuan itu siapa?” para karyawan bertanya-tanya


“yang memencet lantai 25 kan cuman Mr. Johnson, Mr. Boughton sama Mrs. Smith... tapi aku denger-denger Mrs. Smith sedang cuti loh, apa perempuan ini penggantinya Mrs. Smith” dan masih banyak karyawan yang bertanya-tanya


Setelah sampai di lantai 25, Alice keluar dari lift dan berjalan ke arah ruangan CEO


“huft akhirnya sampai juga, apa Mr. Johnson sudah sampai atau belum ya? Alice bertanya-tanya


“apa aku ketuk aja ya pintunya, tapi nanti kalau orangnya belum datang aku yang malu” Alice bimbang


“kamu ngapain di depan ruangan saya?” tiba-tiba ada suara di belakang Alice dan membuat Alice berjengit kaget yang ternyata William yang mengagetkannya


“o..oh Mr. Johnson ma..maafkan saya” Alice sambil membungkukan badannnya ke arah William


“apa kamu yang bernama Alice dari divisi marketing” tanya William


“i..iya Mister saya Alice” jawab Alice


“ayo kita masuk ke ruangan saya dulu, saya akan menjelaskan pekerjaan kamu apa saja selama kamu menjadi sekertaris saya” jelas William sambil melangkahkan kakinya ke ruangannya  bersama Alice


CEO Room


William sudah duduk di kursi kebersarannya dan Alice duduk di kursi depan meja William


“baiklah Alice kamu akan bekerja menjadi sekertaris saya, kamu harus mengecheck jadwal saya dan memberitahukan jadwal saya kepada saya dan kamu harus pergi kemanapun saya pergi ketika saya ingin menemui klien” William menjelaskan pekerjaan apa saja yang harus Alice kerjakan


“baik Mister” jawab Alice


“maaf Mister berapa lama ya saya akan menjadi asister Mister?” tanya Alice


“bu Rina belum memberitahukan kamu?” tanya Wiliam


Alice pun menggelengkan kepalanya


“jadi kamu akan menjadi sekertaris selama 5 bulan dan kamu tenang saja, kamu tetap akan gaji per bulan selama kamu bekerja menjadi asisten saya dan meja kamu ada di depan ruangan saya jadi kalau ada apa-apa kamu tinggal masuk ke ruangan saya” jelas William


“baiklah Mister”


“oh ya nilai magang kamu nanti akan saya berikan setelah masa magang kamu berakhir” jelas William


“terima kasih Mister” ucap Alice sambil membungkukan badannya


“cukup segitu saja, kamu bisa kembali ke meja kamu” ucap William


“baik Mister” Alice pun keluar dari ruangan tersebut


“ya tuhan...semoga apa yang saya lakukan tidak salah” tangan William bertautan


11.55


“hai Alice” sapa Revan ke Alice yang masih mengerjakan pekerjaannya di komputer


“iya Mister ada yang bisa saya bantu?” tanya Alice


“Alice apa kamu engga mengenali saya?” tanya Revan


“ma..af anda siapa ya?” tanya Alice


“saya Revan Boughton manager Desain Grafis” jawab Revan


“oh, anda Mr. Boughton manager Desain Grafis” jelas Alice tersenyum


“apa sebelumnya kamu pernah ketemu sama saya?” tanya Revan sedikit penasaran


“sepertinya baru hari ini Mr. Boughton” Alice tersenyum dan menjelaskan kepada Revan yang sedikit terkejut


“kamu engga ingat kita pernah bertemu di rumah sakit dan kantin?” tanya Revan


Alice menggelengkan kepalanya


“huft yaudah deh, saya ke ruangan Mr. Johnson saja dulu”


“baik Mister”


Revan pun melangkahkan kakinya ke ruangan William dan memasukinya


CEO Room


Revan langsung duduk di sofa di ruangan William dan bersender disana sambil memikirkan apa yang terjadi tadi dengan Alice


“woi lu kenapa dah?” William mengagetkan Revan


“kaget gue njir” kaget Revan


“hehehe, sorry sorry deh”


“lu kenapa dah? Masuk-masuk keruangan gue lesu banget”


“ada yang aneh deh sama si Alice, lu ngerasa aneh engga sama anak itu?”


“engga, memangnya kenapa?”


“kan tadi gue bilang ke Alice, apa dia pernah gue atau engga sebelum hari ini?” Revan mulai curhat


“terus?” William tetap mengerjakan pekerjaannya sambil mendengarkan curhatan seorang Revan


“terus dia bilang dia engga pernah ketemu sama gue sebelum hari ini”


“lalu apa masalahnya?”


“ya masalah lah masa orang seganteng gue dilupain” ucap Revan dengan pedenya


William yang mendengar kenarsisan seorang Revan hanya memutarkan matanya


“udah ah gue males dengerin curhatan lu yang masih narsis seperti itu”


“ye gue serius njir, dia beneran ga inget sama gue pas di rumah sakit sama pas kita yang di kantin waktu itu aja di engga inget” ucap Revan dengan serius


William yang mendengar ucapan Revan benar adanya perasaan tadi aja Alice merasa engga kaget kalau dia akan kerja jadi sekertarisnya


“apa Alice punya penyakit?” tanya Revan


“emang si Alice sakit apa, perasaan di cvnya dia engga bilang kalau ia sakit” jawab William


“iya juga sih, yaudah yuk kita makan siang dulu” ucap Revan sambil berdiri dan melangkahkan kaki keluar ruangan bersama William


~Depan CEO Room~


“Alice kalau kamu makan siang, makan siang aja ya nanti” ucap William


“baik Mister” ucap Alice sambil membungkukkan badannya ke arah William dan Revan


William dan Revan pun meninggalkan Alice yang masih berdiri di belakang meja


“mereka kenapa ya, melihat aku seperti itu” ucap Alice lalu mengangkat bahunya bertanda ia tidak tahu


“hei Alice” sapa Rani tiba-tiba sudah ada didepan mejanya


“oh hei, ada apa Ran?” tanya Alice


“oh engga, aku cuman mau ngajakin kamu makan siang” tawar Rani


“kenapa kamu bisa tau kalau aku ada disini?” tanya Alice


“oh, aku denger dari karyawan yang bergosip kalau ada orang yang menggantikan Mrs. Smith dan aku fikir orangnya itu kamu karena kamu hari ini engga ada di divisi marketing” jawab Rani


“oh gitu” ucap Alice


“yaudah yuk, kita makan siang” Alice menerima tawaran Rani dan melangkahkan kakinya menuju kantin yang berada di lantai basement


\~\~\~\~\~


Kantin


Alice dan Rani baru saja memasuki kantin, tetapi banyak karyawan yang berbisik tentang rumor Alice menggantikan Diandra karena sudah menggoda Mr. Johnson


“eh liat tuh perempuan itu engga tau malu banget, seharusnya dia kan bisa makan sama Mr. Johnson setelah menggoda Mr. Johnson untuk menggantikan Diandra” ucap salah satu karyawan yang berada disana


“dasar perempuan jalang engga tau malu banget, seharusnya dia engga usah muncul di sini dan makan di restoran mahal bersama Mr. Johson” ucap karyawan yang lainnya


Alice yang mendengar bisik-bisikan itu membuat mood dia turun untuk makan disana, dan akhirnya Alice memilih meninggalkan kantin


“aku engga kuat Rani mereka omongin aku yang engga benar seperti itu” Alice menunduk dan hampir mengeluarkan air matanya


“kalau omongan mereka engga benar kamu harus tunjukkan kalau kamu benar-benar tidak apa yang mereka fikir” ucap Rani sambil mengusap bahu Alice untuk memberi kekuatan


Alice yang mendapatkan semangat dari Rani langsung tersenyum dan membuat semangatnya kembali lagi


“iya kamu benar Ran, aku akan tunjukkan ke mereka kalau aku engga salah” ucap Alice


“nah gitu dong kamu pasti bisa, ayo kita kembali masuk” ucap Rani sambil melangkahkan kakinya memasuki kantin bersama Alice


Sebenarnya Alice malas untuk mendengar perkataan yang pedas tetapi tetap saja mereka bukannya berbisik tapi seperti terang-terangan nyindir kepadanya


12.55


Setelah makan Alice dan Rani akan kembali ke lantai mereka masing-masing tetapi di tengah perjalanan menuju lift ia bertemu dengan William dan Revan yang sudah kembali dari makan siang


“Alice ayo kita bareng aja ke atasnya” ucap Revan setelah disamping Alice


“oh tidak usah Mister lebih baik saya bareng teman saya saja” ucap Alice tidak enak


“engga apa-apa kok Lis lebih baik kamu bareng sama Mr. Johnson dan Mr. Boughton daripada kamu mendengar bisik-bisikkan karyawan yang membuat sakit hati” ucap Rani


“Mr. Boughton tidak apa-apa kalau Alice bareng sama Mister dan Mr. Johnson” lanjut Rani sambil mendorong Alice dan meninggalkan Alice bersama Revan dan William


“ayo El kita naik lift satunya lagi” ajak Revan menuju ke lift khusus petinggi perusahaan


Didalam lift mereka hanya berdiam diri di tempat masing-masing, Alice berada di belakang Revan dan William


Lift pun berhenti dilantai 22 dimana lantai divisi desain grafis berada


“dah Will, El” Revan keluar dari lift dan meninggalkan lift dan menuju ruangannya


Setelah sampai di lantai 25 William dan Alice keluar dari lift tersebut dan menuju ruangan William yang didepannya ada meja Alice


“Alice tolong nanti kalau ada orang yang ingin bertemu dengan saya jangan di ijinkan karena saya ingin sendirian sampai jam pulang kantor” pinta William


“baik Mister” jawab Alice


\~\~\~\~\~


15.00


“permisi” ucap seorang perempuan yang berada di depan meja Alice


“hmm iya, ada yang bisa saya bantu?” tanya Alice ke perempuan tersebut dan langsung berdiri


“ada Mr. Johnson nya? Saya ingin bertemu dengan beliau” pinta perempuan tersebut


“maaf Miss, Mr. Johnson ia tidak bisa menerima tamu saat ini” jelas Alice


“asik aku di panggil Miss berasa masih muda aja hehehe” ucap perempuan tersebut sambil tertawa dalam hati


“apa Mr. Johnson tidak bisa menerima tamu? Memangnya beliau kenapa?” tanya perempuan tersebut


“maaf Miss, kata beliau ia tidak ingin diganggu oleh siapapun” jelas Alice sekali lagi supaya perempuan tersebut dapat mengerti


“baiklah, saya akan menelfon Mr. Johnson sebentar” ucap perempuan tersebut lalu mengeluarkan handphonenya dari dalam tas dan memencet nomor William


Tut..Tut *sambungan telepon”


📞 LISA “halo Mr. Johnson”


📞 WILLIAM “ada apa sih Lisa? Biasanya manggil ka Will bukannya Mr. Johnson”


📞 LISA “oh gini Mr. Johnson saya ada didepan ruangan anda, tetapi saya tidak diijinkan masuk oleh sekertaris anda”


Alice yang mendengar ucapan Lisa hanya berdiri kaku ia takut kalau ternyata perempuan ini adalah klien dari William dan ingin bertemu dengan William karena ada hal yang penting


📞 LISA ”seharusnya anda pecat aja sekertaris macam ini, bekerja tidak becus saya malah tidak diijinkan masuk”


Alice yang mendengar kata pecat langsung pucat, takutnya nanti kalau ia di pecat bagaimana dengan nilai magangnya


Lisa yang melirik ke arah Alice hanya tersenyum kecil, karena ia senang bisa mengerjai sekertaris kakaknya yang sangat polos


📞 WILLIAM “maksud kamu apa Lisa? Memecat Alice?”


📞 WILLIAM “sudahlah Lisa kamu jangan mengerjai Alice, biasanya juga kamu masuk-masuk aja ke ruangan kakak tanpa memberitahukan sekertaris kakak”


📞 LISA “baiklah Mr. Johnson saya akan memberitahukan sekertaris anda untuk bersikap baik kepada saya”


Lisa memutuskan sambungan teleponnya padahal William masih ingin memberi peringatan ke Lisa kalau Lisa jangan mengerjai Alice lagi


“oke nama kamu siapa?” tanya Lisa sambil mengulurkan tangannya


“hmm saya Alice Miss” ucap Alice membalas uluran tangannya Lisa


“nama lengkap?” tanya Lisa terlihat sok galak


“Alice Keneisha Miss” jawab Alice


“Keneisha adalah nama keluarga kamu?” tanya Lisa sekali lagi


“iya Miss”


“Keneisha? Kok namanya sama kaya ka Ayla kok ka Will engga bilang apa-apa sama aku” ucap Lisa dalam hati


“oke kenalkan nama saya .....” ucapan Lisa terpotong karena tiba-tiba pintu ruangan William terbuka dan keluarlah William


“Lisa” tegur William


“aduh mampus gue ka Will keluar lagi kan gue belum selesai ngerjain nih sekertaris baru” ucap Lisa salam hati


“maaf ya Alice ini adik saya namanya Lisa Johnson” kata William sambil membawa Lisa ke sampingnya


“adik?” tanya Alice heran


“iya saya adiknya ka Will alias Mr. Johnson” ucap Lisa engga enak hati sambil membungkukan badannya 90 derajat karena sudah mengerjai Alice


“iya Miss salam kenal” ucap Alice membalas membungkuk


“hmm Alice apa kamu kenal saya?” tanya Lisa


“kenal, kan tadi Miss yang memperkenalkan diri sendiri”


“oh bukan, maksud saya apa kamu kenal saya sebelumnya?” tanya Lisa


“oh maaf Miss sepertinya tidak pernah”


“oh gitu, selamat bekerja Alice” kata Lisa menyemangati Alice


“iya Miss”


Lisa dan William pun masuk ke ruangan William


CEO Room


“ka kok Alice aneh ya masa dia engga kenal sama aku, padahal dia mungkin lihat aku pas dia donorin darahnya ke aku” ucapan Lisa membuat William kaget


“kamu darimana kalau Alice adalah donorin darahnya ke kamu?” tanya William heran karena menurutnya ia tidak pernah memberitahukan Lisa tentang hal ini


“hmm aku engga sengaja mendengar percakapan kakak sama Hendy beberapa hari yang lalu” jelas Lisa sambil menunduk takut kakaknya marah


“hmm Lisa kenapa kamu menunduk, seharusnya kalau lagi berbicara hadap lawan bicara kamu” jelas William


“iya ka, maaf” ucap Lisa sambil menatap kakaknya yang berada di depannya


“terus ya ka, anehnya Alice engga ngenalin aku sama sekali” ucap Lisa heran


“iya Alice mengalami penyakit yang dinamakan Prosopagnosia Asosiatif atau bisa dibilang mampu membedakan wajah namun tidak dapat mengingat nama, pekerjaan, atau informasi lain yang berkaitan dengan orang tersebut” ucap William menjelaskan


“apa penyakit Prosopagnosia Asosiatif?” kaget Lisa


“kok bisa?” lanjut Lisa


“huh kakak engga tau apa yang menyebabkan Alice mengalami penyakit tersebut” ucap William sambil melihat ke arah jendela besar yang menhadap keindahan kota Shanghai


Lisa mendengar Alice memiliki penyakit tersebut sangat kaget, karena menurutnya perempuan secantik Alice harus mengalami penyakit yang sangat langka


~Bersambung~


Jangan lupa Like and Comment