
Kring..kring *bunyi telfon William*
(Percakapan di telfon antara William dan Revan)
"Will dimana?"
"Di apartement, kenapa?"
"Gue ke sana, ada yang perlu gue ceritain sama lu"
"Yaudah lu ke sini aja"
Setelah beberapa menit, akhirnya Revan sampe ke apartement William
Apartement William
Tok..tok..tok *ketukan pintu*
"Iya sabar" ucap William sambil berjalan kearah pintu dan di bukalah pintunya sudah ada sahabatnya
"Tumben banget lu pengen ketemu sama gue, proposal mana yang harus gue tanda tangani?" tanya William
"Ini bukan tentang pekerjaan"
"Terus tentang apa?"
"Ini tentang Ayla"
Deg.. Mendengar nama yang membuatnya seperti orang gila selama beberapa tahun belakangan ini
"Kenapa sama dia?" tanya William dengan nada dingin
"Gue tadi ketemu sama dia Will"
"Terus kenapa kalo lu ketemu sama dia?"
"Lu ga tanya gimana dia sekarang?"
"Untuk apa gue harus tanya gimana dia atau kabar dia sekarang"
"Will jangan gitu lah gitu gitu dia ..." belum sempat Revan selesai berbicara sudah di potong William
"Dia hanya masa lalu gue bukan siapa siapa lagi"
"Will tapi anehnya dia ga inget gue siapa"
[Flashback On]
Terminal Bis
05:10 PM
"Dimana ya rumahnya Alice?" ucap Rosalie
"Atau aku telfon Alice ya buat jemput aku di sini"
"Tapi entar dia masih ada kelas jam segini"
"Itu bukannya Ayla?" tanya Revan dengan dirinya sendiri
Lalu mobik Revan menghampiri Ayla yang sedang berdiri di depan warung sambil membawa tas yang berisi pakaiannya
Revan pun turun dari mobilnya
"Rosalie Ayla?" tanya Revan ke Rosalie untuk memastikan apakah di depannya orang yang ia kenal
"Iya benar saya Rosalie Ayla, maaf masnya siapa ya?"
"Lu ga kenal sama gue?"
"Maaf saya engga kenal sama kamu"
Revan yang merasa aneh sama Rosalie yang tidak mengenalnya sama sekali
"Ah mungkin gue salah orang"
"Mbanya mau kemana?"
"Oh gitu, gue antarkan kesana bagaimana? Karena satu arah dengan tujuan gue" Revan menawarkan Rosalie
"Beneran mas?"
"Iya, mari masuk mba" Revan mempersilahkan masuk Rosalie masuk ke mobilnya
Setelah 50 menit perjalanan dari terminal sampai juga di rumah Alice
"Terima kasih mas sudah mengantar saya"
"Maaf mba, gue mau tanya ini rumah siapa ya?"
"Oh ini rumah adik saya namanya Alice Keneisha"
"Alice Keneisha?"
"Iya, mas kenal sama adik saya?"
"Oh engga gue cuman namanya kenal tapi mungkin beda orang"
"Oh gitu, yaudah mas saya masuk dulu terima kasih untuk tumpangannya" ucap Rosalie sambil keluar dari mobil tersebut
"Hati hati di jalan mas" ucap Rosalie setelah mobil itu meluncur pergi
[Flashback Off]
"Dia ga kenal sama lu?" ucap William tidak percaya
"Iya, dan anehnya lagi nama adiknya mirip sama orang yang mendonorkan darahnya ke adik lu"
"Alice Keneisha?" tanya William memastikan
"Iya dia bilang begitu nama adiknya Alice Keneisha"
"Mungkin namanya aja mirip"
"Hmm mungkin aja" ucap Revan dengan ragu ragu
"Terus lu kenapa masih disini?" tanya William ke Revan
"Gue mau disini aja dulu, engga boleh?"
"Engga" ucap William padat dan jelas
"Ayolah Will, gue males di rumah"
"Kenapa? Berantem lagi sama bokap lu?"
"Lah itu lu tau"
"Kenapa lu ga kerja di perusahaan bokap lu aja"
"Gue males Will kerja sama bokap gue, kan lu tau bokap gue mainnya curang sama saingannya"
"Ya kan namanya juga bisnis Van harus curanglah"
"Coba lu jadi saingan sama bokap gue untuk merebutkan klien pasti lu akan tau"
"Lu ga jadi pulang nih?" tanya William
"Engga ah, gue mau nginep di sini dulu"
"Yaudah terserah lu, gue mau ke ruang kerja dulu"
William pun keluar dari kamar ke ruang kerja yang berada di sebelah kamarnya
"Jadi perempuan itu adiknya Ayla?" tanya William pada dirinya sendiri
"Engga mungkin kali, mungkin aja nama mereka sama"
~ Bersambung ~
Terima kasih yang sudah menunggu cerita ini, maaf kalo ada yang typo atau ke salahan menulis dengan kata kata yang menyinggung atau kurang sopan
Like & Comment